Potensi Agrowisata Kelengkeng di Keerom Menjanjikan
KEEROM — Potensi Agrowisata mendorong dua bersaudara asal Keerom ini, untuk membangun program jangka panjang. Elly Fitriyanto dan Yudhi warga transmigrasi asal Jawa Tengah yang berdomisili di Arsopura, Distrik Saknto, Kabupaten Keerom ini memanfaatkan lahan satu hektar miliknya untuk ditanami cangkokan pohon kelengkeng.
Ely mengaku bibit yang ia miliki dibeli dari Pasuruan, Jawa Timur. Bibit tersebut hasil cangkokan dan ditanam di sekitar pekarangan rumah milik orang tuanya. Kini, bibit yang ia miliki terdapat beberapa jenis seperti Daimond River, Ruby Longan, Ping Pong, Aroma Durian dan New Cristal.
“Bibit kelengkeng yang dari biji, di wilayah Arso memang pohonnya lebat saat usia 2-3 tahun, tetapi tak berbuah, karena kelengkeng kan pembuahannya sistem kawin. Yang kami tanam di lahan satu hektar ini sistem cangkok, sementara indukannya ada di pekarangan rumah kami,” kata Elly saat dikunjungi Tim Cendana News, Minggu (26/11/2017).
Ia bersama saudaranya secara bertahap mengolah lahan yang awalnya ditanami komoditi seperti tomat, cabe rawit, cabe keriting, dan lainnya. Dua bersaudara ini berusaha memotivasi masyarakat secara khusus ke petani lainnya, potensi kelengkeng di Keerom sangat baik bagi prospek jangka panjang.
“Untuk cangkokan pertama yang ditanam, pemupukan biasa gunakan pupuk kandang, juga yang dijual di toko seperti urea. Di wilayah sini (Arsopura-ArsoIV) gunakan air dari kali saat musim kemarau, bersyukur jika sering hujan,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Vera Yudhi Kurniawan saudara kandung Elly mengaku, bibit cangkokan yang mereka beli dari pulau jawa sekitaran 200 ribuan setiap bibit setinggi 30 sentimeter dan dilakukan pencakokan di sekitar rumah mereka, selanjutnya Ditanami ke lahan yang telah disediakan.
“Saat ini kami menanam hasil cangkokan kelengkeng Diamond River, dan nantinya kami akan mengatur marketingnya untuk memudahkan penjualan keluar Keerom. Ini menjadi menarik, karena di Keerom khususnya Distrik Skanto, belum ada Agrowisata khusus buah kelengkeng,” kata Yudhi.
Dirinya menegaskan bahwa saat ini mereka tak lagi uji coba, melainkan tengah mengembangkan program Agrowisata Kelengkeng.
“Kami sekarang bukan mencoba, melainkan tengah mengembangkan kelengkeng ini. Untuk uji coba telah kami lakukan beberapa tahun sebelumnya. Bisa lihat sendiri yang saat ini ada berbuah di pekarangan rumah kami,” ujarnya.
Satu hektar dengan bibit cangkokan sebanyak 300 pohon, testimony jika dua tahun kedepan sudah dipanen sekitar 30 kilogram setiap pohonnya.

Potensi kelengkeng di Keerom sangat bagus, supermarket di Kota Jayapura kisaran harga Rp50 ribu hingga Rp60 ribuan.
“Harga jual dari petani ke supermarket sendiri berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu,” jelasnya.
Keduanya sangat yakin budidaya kelengkeng ini dapat menjadi satu komuditas utama di Keerom untuk program jangka panjang dengan market yang menjanjikan, guna meningkatkan ekonomi petani.
Dari pantauan Cendana News, lahan satu hektar yang telah di tanami pohon kelengkeng tersebut, telah menjadi daya tarik bagi petani sekitar, dan semoga kedepan Pemerintah Daerah (Pemda) dapat melirik apa yang tengah di rintis oleh dua bersaudara ini.