Petani Cabai di Ketapang Dihantui Hama Jelang Masa Panen

LAMPUNG — Petani komoditas tanaman cabai merah besar di Desa Ruguk kecamatan Ketapang kabupaten Lampung Selatan mulai khawatir dengan munculnya hama pada tanaman cabai merah yang dikenal dengan hama thrips, tungau dan aphids, Hama tersebut umumnya menyerang tanaman yang dibudidayakan ketika berumur sekitar 60 hari.

Wayan Marte (40) petani setempat menyebut pada masa tanam kedua tersebut serangan hama thrips bahkan disertai hama tungau dan aphids berimbas pada daun cabai miliknya menjadi keriting, kuning, kurus dan daun menjadi rontok.

Wayan Marte menyebut pada semester pertama pertama tahun ini sebagai petani hortikultura ia mengaku membudidayakan komoditas bawang merah secara musiman dengan memperoleh hasil sekitar 3,5 ton pada lahan seluas setengah hektare.

Budidaya tanaman bawang merah masih kurang menghasilkan dengan harga per kilogram hanya berkisar Rp2 ribu per kilogram akibat membanjirnya pasokan bawang merah dari wilayah Jawa.

“Setelah menanam bawang merah dan hasilnya tidak maksimal saya memutuskan untuk membudidayakan komoditas cabai merah dan pada lahan lain ditanami tomat, meski saat ini saya harus menghadapi beberapa jenis hama,” ungkap Wayan Marte saat ditemui Cendana News di lahan miliknya, Rabu (8/11/2017)

Pada masa tanam tahap kedua dengan sistem guludan tanah yang telah diberi mulsa plastik Wayan Marte mengaku memanfaatkan lahan yang sebelumnya ditanami bawang merah dengan kedalaman setengah meter pada bagian siring.

Penanaman cabai merah pada musim tanam kedua tersebut diakuinya sebanyak 7000 batang tanaman cabai merah tengah memasuki masa pembuahan pada usia tanaman cabai merah 60 hari tengah dilakukan proses pemupukan dengan pupuk phonska.

Proses pemanenan tahap pertama secara bertahap diakuinya akan dilakukan saat umur 70 hari dengan hasil sekali panen rata rata satu kuintal dan perkiraan memperoleh hasil sekitar 7 ton pada akhir masa panen.

Sebagian tanaman cabai merah besar yang dibudidayakan bahkan mengalami kerontokan pada daun yang disebabkan organisme pengganggu tanaman (OPT) berasal dari jenis kutu kutuan berupa thrips, tungau dan aphids.

Bersama dengan petani cabai lain ia bahkan selalu saling berkonsultasi terkait cara mengatasi hama tersebut denga tujuan mengurangi dan menghilangkan hama penyebab keriting daun tersebut.

“Saya memang tengah mempersiapkan untuk membeli insektisida mebasmi hama penyebab keriting daun dan dengan telaten melakukan proses pemetikan daun yang terkena hama agar tidak menular ke tanaman lain,” beber Wayan Marte.

Dampak serangan hama tersebut diakuinya berimbas pada serangan pada daun muda dengan cara menghisap cairan daun yang menjadi sumber makanan bagi tanaman cabai miliknya.

Ia bahkan telah berkonsultasi dengan Sukarman salah satu petani komoditas cabai merah yang saat ini menanam jagung terkait cara mengatasi hama keriting daun disebabkan hama tungau tungauan tersebut.

“Saya pernah mengalami serangan hama ini namun dengan pemilihan obat pembasmi hama yang tepat melalui proses penyemprotan daun pada tanaman bisa pulih sehingga hasil buah bisa kembali maksimal,” tutur Sukarman.

Pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan diakui Sukarman bisa menjadi faktor munculnya hama tersebut sehingga bisa mengurangi produktifitas tanaman buah cabai merah hingga 20 persen jika tidak ditangani dengan segera.

Ia menyebut dengan harga cabai merah saat ini berkisar Rp9.000 hingga Rp10.000 membuat harga cabai merah di pasaran turun dari Rp25.000 menjadi Rp20.000 per kilogram.

Sebagai upaya menekan kerugian dan diversifikasi komoditas pertanian Wayan Marte juga bahkan menanam komoditas tanaman sayuran jenis tomat yang ditanamnya dengan jarak cukup jauh dari lahan cabai merah miliknya.

Meski harga tomat saat ini hanya mencapai Rp1.000 di level petani namun permintaan cukup banyak dari pedagang sayur keliling dan sebagian dijual ke pasar. Meski terhindar dari hama sebagian tanaman tomat tersebut mengalami pembusukan akibat curah hujan yang mulai tinggi di wilayah tersebut sehingga harganya anjlok.

Pekerja tengah melakukan proses pemupukan pada tanaman cabai merah milik Wayan Marte/Foto: Henk Widi.
Lihat juga...