Mengupas Program Anies-Sandi Menata Trotoar Jakarta
JAKARTA — Bunga-bunga kehidupan tumbuh subur di trotoar, mekar liar dimana-mana/ Langkah-langkah garang datang hancur wanginya kembang, engkau diam tak berdaya/ bungaku bunga liar/ bungaku bunga trotoar// Demikian cuplikan lagu ‘Bunga Trotoar’ yang dilantunkan Iwan Fals.
Lagu tersebut seperti mengiringi beberapa hari ini tentang santer beredarnya kabar Anies-Sandi peduli trotoar. Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru itu tampaknya mengerti benar trotoar memang diperuntukan bagi pejalan kaki. Bukan untuk berdagang, apalagi untuk lewat kendaraan. Kita tentu harus menyambut itikad baik tersebut.
Sandi, misalnya, mengatakan ada usul trotoar Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman dijadikan lokasi atraksi para atlet Nasional yang berprestasi. “Atlet Nasional yang berprestasi bisa diakomodir sebagai salah satu atraksi yang di tampilkan di trotoar-trotoar nanti,” katanya.
Tak hanya itu, Sandi juga menyebut terdapat usulan lainnya. Seperti diadakannya pertunjukan atau etalase kebudayaan Nasional.
Demikian juga, Anies, yang ingin trotoar Sudirman-Thamrin diperlebar. Dengan begitu, trotoar di Jakarta ramah pula para pejalan kaki.
“Jadi mulai dibangun, ditata, terus nanti nyambung ke koridor Tanah Abang, Wahid Hasyim misalnya. Sehingga ada pengalaman yang didapat secara positif dalam pedestarian,” ujar dia.
Sebelumnya, Anies memerintahkan desain trotoar Sudirman-Thamrin diubah untuk memfasilitasi interaksi budaya dan ekonomi. “Jadi bukan selera saya, nih. Ini untuk mengakomodasi kepentingan warga Jakarta. Trotoar sebagai tempat berlalu lalang. Kedua, untuk berinteraksi, interaksi ekonomi, budaya, sosial itu di trotoar,” kata Anies.
Lebih lanjut, Anies menerangkan, tujuan perubahan desain trotoar agar trotoar menjadi area kebudayaan. Anies mencontohkan untuk pertunjukan seni musik dan seni rupa. “Desainnya diubah. Kita ingin di koridor trotoar ini ada area-area kebudayaan, kegiatan seni. Jadi, nanti ada beberapa luas yang dipakai untuk aktivitas seni, bisa musik, seni rupa, bisa macam-macam,” bebernya.
Target
Anies berencana memfungsikan trotoar di Kawasan Sudirman-Thamrin untuk tempat interaksi ekonomi, sosial, maupun budaya. Interaksi ekonomi yang dimaksud adalah interaksi perdagangan. Anies ingin menghormati setiap warga negara yang ingin berusaha di Jakarta.
“Hormatilah setiap orang yang berusaha. Kita ingin agar setiap warga negara punya kesempatan yang sama. Interaksi ekonomi adalah interaksi perdagangan,” tegasnya.
Soal interaksi budaya, Anies ingin kawasan trotoar di Sudirman-Thamrin menjadi ruang ekspresi budaya. Nantinya, trotoar itu menjadi ruang pameran bagi seniman dan budayawan dari seluruh Indonesia.
“Karena itu menjadi tempat untuk ruang ekspresi budaya. Kita memberi kesempatan kepada para seniman para budayawan untuk menunjukkan karya-karyanya di sana. Bukan hanya dari Jakarta tapi juga dari Indonesia,” tuturnya.
Anies mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah merancang desain yang mengakomodasi ide tersebut. Ia mengatakan, revisi desain pembangunan trotoar kawasan Sudirman-Thamrin akan segera selesai dalam waktu dekat.
“Nanti kalau sudah rencananya final gambarnya nanti kita tunjukkan. Nanti akan terlihat, dan semuanya diatur dengan diatur itu membuat kegiatan ekonomi kegiatan sosial maupun kegiatan kebudayaan yang ada di tempat itu, itu bisa terkelola dengan baik. Tanpa ada pengaturan maka akan muncul masalah,” kata Anies.
“Nah desainnya harus dibuat untuk mengatur itu semua. Tadi pagi juga sudah diskusi lagi. Nanti Insha Allah segera,” pungkasnya.
Proyek perbaikan trotoar di ruas Jl Sudirman-MH Thamrin Jakarta ditargetkan akan mulai dikerjakan Bina Marga DKI Jakarta Desember 2017. Proyek itu ditargetkan selesai sebelum perhelatan Asian Games 2018.
Skala Prioritas Renovasi
Pemprov DKI Jakarta terus melakukan renovasi trotoar di beberapa titik ibukota. Kepala Seksi Perencanaan Prasarana Jalan dan Utilitas Dinas Bina Marga DKI Jakarta Riri Asnita mengatakan, skala prioritas renovasi trotoar berada di pusat-pusat wisata, seperti Monumen Nasional dan Kota Tua.
“Kawasan primer, kawasan pariwisata budaya, pusat-pusat perekonomian. Itu arah kita pertama,” katanya.
Riri menjelaskan, perbaikan trotoar ini sudah dilakukan sejak 2016. Salah satu titik renovasi adalah kawasan Tanah Abang. Namun pembangunannya belum sempurna lantaran anggaran tak mencukupi.
“Contohnya di Tanah Abang. Tapi memang belum sempurna, karena anggaran saat itu belum untuk seluruh kawasan. Untuk 2017, kita juga mulai meneruskan sisa 2016 dan kita buka daerah-daerah baru,” ujarnya.
Menurut Riri, pada 2017 ini, Dinas Bina Marga fokus merenovasi trotoar di lima wilayah Jakarta. Contohnya, di Jakarta Selatan Dinas Bina Marga memperbaiki trotoar di Jalan Mahakam, Barito, Kyai Maja.
“Dari Blok M bisa menuju ke Taman Ayodya hingga Mayestik. Di Jakarta Utara, kita orientasikan di kawasan Kota Tua dan Sunter Selatan, dekat Waduk Sunter. Untuk Jakarta Barat, kita fokus di Kyai Tapa,” paparnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, untuk Jakarta Timur pihaknya memfokuskan pada trotoar Jatinegara Timur, Jatinegara Barat, dan Bekasi Barat. “Di sana (Jakarta Timur) malah lengkap, ada jalannya yang kita buat konsisten, ada trotoar yang cukup luas, ada jalur pesepeda, dan boks utilitasnya. Itu lengkap. Jakarta Pusat kita buat di Palmerah dan di kawasan Istiqlal dan sekitarnya,” ungkapnya.
Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.
Perlu tidaknya trotoar dapat diidentifikasikan oleh volume para pejalan kaki yang berjalan di jalan, tingkat kecelakaan antara kendaraan dengan pejalan kaki dan pengaduan/permintaan masyarakat.
Kita tunggu realisasi program Anies-Sandi dalam menata trotoar Jakarta. Trotoar sedapat mungkin ditempatkan pada sisi dalam saluran drainase yang telah ditutup dengan pelat beton yang memenuhi syarat. Trotoar pada perhentian bus harus ditempatkan berdampingan atau sejajar dengan jalur Bus. Trotoar dapat ditempatkan di depan atau di belakang halte.
Dengan nanti penataan trotoar Jakarta yang lebih baik, semoga tidak terjadi lagi tragedi dan keprihatinan yang disuarakan Iwan Fals dalam lagu ‘Bunga Trotoar’ berbunyi begini: //para kurcaci diinjak mati, para kurcaca nyanyi tralala/ para kurcaci bersedih hati/ para kurcaca hahahaha//
