Permintaan Tape Ketan Putih Meningkat Saat Musim Hajatan di Lamsel
LAMPUNG — Bagi sebagian warga di Lampung Selatan khususnya warga keturunan suku Jawa bulan November dipergunakan sebagai masa untuk melangsungkan pesta resepsi pernikahan, syukuran khitanan atau dikenal dengan hajatan.
Banyaknya warga yang melangsungkan hajatan tersebut ikut berdampak positif bagi pembuat makanan khas tradisional yang diberi nama tape ketan putih yang terbuat dari beras ketan putih melalui proses fermentasi.
Baca: Gethuk Lindri Digemari di Lampung
Sumarni (40) salah satu pembuat menu camilan terbuat dari ketan putih tersebut mengaku dalam kondisi normal ia hanya membuat tiga kali dalam sepekan menyesuaikan permintaan pembuat es campur, rumah makan serta dijual ke pasar. Sejak awal November pesanan untuk keperluan hajatan cukup banyak bahkan bisa mencapai 50 hingga 100 kilogram ketan dari sebelumnya hanya rata rata 30 kilogram.
“Hari hari biasa maksimal sepuluh kilogram tape ketan putih yang saya jual namun saat banyak hajatan banyak orang memesan kepada saya sebagai camilan,” terang Sumarni saat ditemui Cendana News tengah melakukan pembungkusan ketan putih yang sudah diberi ragi untuk proses fermentasi dengan bungkus daun pisang, Sabtu (18/11/2017)
Proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan, kesabaran dan kebersihan tersebut diakui Sumarni kerap tidak bisa dilakukan orang lain sehingga banyak warga lebih mempercayakan pembuatan tape ketan kepadanya.
“Filosofi suku Jawa ketan sebagai perekat menyimbolkan ikatan silaturahmi kekeluargaan dalam sebuah hajatan sekaligus persatuan dua keluarga dalam pernikahan membuat camilan ketan menjadi sajian wajib dalam bentuk jadah, lemper termasuk tape ketan putih,”ujarnya.
Baca: Manisnya Buah Durian Lombok
Sebagian warga yang akan hajatan diakui Sumarni akan menyiapkan bahan dengan sistem upahan perkilogramnya sekitar Rp20ribu dan ia bisa membuat hingga 10 kilogram untuk satu warga yang melangsungkan hajatan.
Proses pembuatan tape ketan cukup sederhana dengan bahan utama beras ketan putih, ragi dan gula serta daun pisang secukupnya sebagai pembungkus . Faktor kebersihan sangat penting karena proses fermentasi akan terganggu jika kebersihan tidak diperhatikan.
Sebelum beras ketan dijadikan tape, beras harus dalam keadaan bersih dengan proses pencucian (pemususan) selanjutnya direndam dengan air selama kurang lebih tiga jam lalu ditiriskan.
Setelah ditiriskan proses pemasakan beras ketan putih dilakukan dengan pengukusan menggunakan dandang setelah matang ketan dihamparkan pada tampah dari bambu dengan alas daun pisang agar tidak lengket sekaligus proses dianginkan agar cepat dingin.
Setelah ketan dingin pasca dianginkan penyiapan ragi sebanyak 5 butir untuk kebutuhan ketan sebanyak 5 kilogram dan sebanyak 10 butir untuk kebutuhan ketan sebanyak 10 kilogram dengan cara digerus lalu ditaburkan merata (diaru).
Baca: Gurih Pedas Ayam Gepuk Sambal Bawang
Setelah proses pengaruan atau pencampuran ragi dan ketan yang sudah direbus ditambahi dengan cairan gula putih secukupnya dan siap dibungkus. Ukurannya dua sendok menggunakan daun pisang jenis kepok yang ulet dan mudah dibentuk untuk pembungkusan dikunci dengan potongan lidi.

“Kalau tidak tepat menghitungnya pada saat hajatan atau hari pelaksanaan dikuatirkan tape ketan putih belum matang secara sempurna namun untuk pembuatan hari biasa yang terpenting ditunggu hingga fermentasi sempurna terjadi,”ujarnya.