Perayaan Kemunafikan dan Logika Sesat dalam Film “Naura dan Genk Juara”
Oleh Thowaf Zuharon
JAKARTA —- Apakah logis kalau ada pembunuh berantai kejam meneriakkan takbir “Allahu Akbar” di berbagai tempat, sambil beristighfar dan bertasbih di mana-mana? Betapa marah umat Islam jika Abu Jahal dan Abu Lahab yang berbuat jahat kepada Nabi Muhammad SAW, disosokkan sebagai orang yang selalu bertahmid dan menegakkan kalimat Allah!
Bayangkanlah kemarahan umat Hindhu, jika tokoh Sengkuni maha licik dalam film Mahabharata selalu mengutip ayat-ayat Wedha dalam melaksanakan hasutan-hasutan jahatnya. Apa jadinya jika ada film setan, lalu setan itu mengutip ayat-ayat Alkitab kaum nasrani? Dan banyak umat Buddha tentu lebih marah lagi, ketika ada tokoh pemerkosa dalam film, melakukan pemerkosaan sambil menyenandungkan berbagai doa suci dalam Tripitaka.
Berbagai pengandaian yang saya sampaikan tersebut, sengaja saya rangkai, untuk membuat analisa atas secuplik adegan dalam film “Naura dan Genk Juara”. Sebuah film yang berkisah tentang Naura, Okky, dan Bimo, yang terpilih mewakili sekolahnya untuk bersaing dalam kompetisi sains di acara Kemah Kreatif di kawasan hutan tropis Situ Gunung, Sukabumi. Petualangan ini mempertemukan mereka dengan Kipli, seorang ranger cilik yang sedang menggagalkan usaha Trio Licik, kelompok sindikat perdagangan hewan liar.
Dalam film tersebut yang sudah saya tonton, Trio Licik sindikat jahat perdagangan hewan liar itu juga menculik salah satu anggota teman Naura. Ketika akan mencuri satwa yang dilindungi, salah satu penjahat seringkali mengucap “Astaghfirullah” dan kalimat Thoyyibah (kalimat-kalimat kebaikan) lainnya. Bahkan, ketika dikerjai “hantu jadi-jadian” bikinan Naura dan kawannya, para penjahat itu mengucapkan doa sebelum makan dengan bahasa Arab cara Islam. Yang paling mengagetkan, justru ketika adegan para penjahat itu melawan serangan para Genk Juara pencinta lingkungan. Saat terkepung dengan serangan, para penjahat berteriak dengan sangat keras kalimat “Allahu Akbar” berulang-ulang.
Film yang disutradarai Eugene Panji ini, telah memancing rasa tidak terima beberapa kalangan Islam. Bahkan, film ini sudah menjadi polemik panjang di kalangan pimpinan Majlis Ulama Indonesia (MUI). Banyak yang mempertanyakan, jika memang tidak ada pretensi untuk menistakan agama, kenapa para penjahat itu harus berteriak “Allahu Akbar” ketika perang melawan Genk Juara? Kenapa para penjahat tidak berteriak “Bangsat”, atau “Brengsek”, atau kalimat makian kotor sekalian?
Sebagai sutradara, Eugene Panji yang merupakan jebolan Desain Grafis Institut Kesenian Jakarta, memang pernah membuat film Cita-Citaku Setinggi Tanah yang mendapat penghargaan di Jerman. Namun, prestasi luar negeri itu tak membuat Eugene jatuh dalam logika sesat ; apakah mungkin seorang penjahat selalu beristighfar dan bertakbir di berbagai kesempatan? Meskipun, dalam kesehariannya, Eugene adalah penyayang binatang yang sangat gemar bermain dengan si London, anjing kesayangannya.
Selain peran Eugene, film ini juga tak lepas dari tanggung jawab tiga orang produser (Handoko Hendroyono, Pax Benedanto, dan Amalia Prabowo). Handoko Hendroyono adalah Produser Film Filosofi Kopi dan Surat dari Praha. Sedangkan Pax Benedanto adalah General Manager Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Terakhir, Amalia Prabowo adalah penulis buku, pekerja iklan, yang mengaku sempat menyalahkan Tuhan karena anaknya terkena Disleksia. Namun, akhirnya, dengan kejadian Disleksia anaknya, Amalia Prabowo mengakui ketidakberdayaan manusia di hadapan keagungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Selain produser dan sutradara, tanggung jawab atas film ini juga terletak pada penulis skenario. Kebetulan, salah satu penulis skenario film ini, Asaf Antariksa, adalah produser film Mata Tertutup (2011) yang mengeksplorasi dan mengkritisi kehidupan Islam garis keras. Penulis skenario kedua dari film ini adalah Bagus Bramanti, seorang penulis skenario dari 9 film laga, di antaranya adalah Kartini (2017) dan Mencari Hilal (2015).
Menurut saya, jika film ini diniatkan sebagai sarana propaganda membangun kecintaan terhadap science dan lingkungan, Eugene dan rombongannya perlu diapresiasi. Namun, kenapa harus ada takbir dan istighfar yang dijejalkan ke mulut para penjahat di film ini? Kenapa bukan kata makian saja yang dijejalkan ke mulut para penjahat?
Maka, dalam amatan saya, film ini mengalami logika sesat dalam membentuk karakter antagonis. Para penjahat dibentuk dalam kondisi psikologi yang mengalami skizofrenia (keterbelahan jiwa). Bahkan, bisa dikatakan, film ini justru menjadi sarana “Perayaan Kemunafikan” yang diwakili oleh sosok penjahat yang suka istighfar, suka takbir, dan ketika kepalanya kena air kencing seorang siswa tidak dibersihkan. Kenapa si sutradara dan team pembuat film lebih menampilkan sosok penjahat yang munafik, daripada sosok penjahat yang “murni jahat” sekalian? Inilah keanehan logika pembuat film.
Dalam terminologi Islam yang saya ketahui, kisah takbir oleh para penjahat dalam film ini adalah bagian dari “kekacauan berpikir” (kosakata Arab yang dipakai untuk ini adalah talbis). Talbis biasanya diartikan mencampuradukkan antara yang benar (haq) dengan yang salah (batil). Tentang kekacauan berpikir ini, Al-Quran menyatakan: Wa laa talbisul haqqa bil baathili wa taktumul haqqa wa antum ta’lamun (al-Quran Surat Al-Baqoroh : 42). Artinya, dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
Dalam sejarah Islam, Fenomena talbis ini, paling awal ditemukan pada peristiwa Iblis membujuk Adam dan Siti Hawa. Inilah tugas iblis yang kurang diwaspadai manusia. Iblis bertugas mengacaukan cara berpikir, pola berpikir, dan struktur berpikir supaya yang benar jadi tampak salah dan yang salah jadi tampak benar. Kekacauan berpikir ini dimulai pada bujuk rayu Iblis kepada Siti Hawa dan Nabi Adam. Buah Khuldi adalah nama pemberian Iblis untuk “pohon larangan” yang harus dimakan oleh Siti Hawa dan Nabi Adam agar kekal di surga.
Talbis juga bisa berwujud pengelabuan yang sangat lembut prosesnya. Bisa melalui cuci otak berabad-abad lamanya, lewat pendidikan, ideologi-ideologi, film-film, buku-buku, dan policy pemberitaan media massa. Talbis tidak harus secara sempit diartikan sebagai mencampuradukkan, melainkan memanipulasi, mengelabui, atau menipu daya melalui berbagai sarana.
Menurut amatan saya, yang membuat para orang tua tidak terima, film ini telah dianggap bagian dari talbis, pengelabuan, bahkan mencampurkan antara yang benar dan salah dalam satu karakter tokoh. Padahal, film ini ditonton dan dianjurkan sebagai pembentuk pendidikan karakter bagi anak-anak sekolah.
Celakanya, gambar dan film, punya kesempatan yang lebih baik, dan jauh lebih cepat, ketimbang bacaan untuk membuat orang memahami pesan-pesan tertentu. Efektifitas film dalam mempengaruhi pikiran manusia, diamini oleh Adolf Hitler dan menteri propagandanya, Joseph Goebbels. Hitler pun meyakini bahwa film adalah alat yang sangat potensial untuk menggiring opini publik. Sehingga, Hitler mengambil alih industri film di Jerman.
Dalam Propaganda and Mass Persuasion: A Historical Encyclopedia, 1500 to the Present, Uni Soviet pun menggunakan film untuk menjangkau para petani di pelosok yang perlu dipengaruhi pikirannya. Pada tahun itu, ada 3.477 instalasi bioskop keliling dan 863 bioskop permanen. Kekuatan film dalam mengubah pemikiran masyarakat, tak bisa dianggap enteng. Sehingga, kemunculan film Naura dan Genk Juara yang dipermasalahkan, memang layak dikhawatirkan dampaknya bagi pikiran anak-anak.
Ketika film ini menuai kritik keras, Ketua LSF Ahmad Yani Basuki, malah terkesan membela. Ahmad Yani menegaskan, LSF selaku penanggungjawab yang meloloskan film tersebut mempunyai standar dasar atau parameter untuk menyensor sebuah film. Penilaian sensor itu, meliputi judul, tema adegan dan ungkapan dalam film. Dari semua aspek yang yang diteliti, LSF menganggap, tak satu pun yang mencitrakan Islam secara negatif. Bagi Ahmad Yani, fenomena sosial yang ada dalam “Naura dan Genk Juara” bisa saja terjadi. Sama ketika film barat, pencurinya yang tentu bukan Islam, misalnya menyebut Oh my God!.
Bagi saya, ketika pemaknaan LSF demikian, ini akan menjadi analog dan kelonggaran yurisprudensi ketika ada film lain berbuat hal yang sama. Dampaknya bisa saja sangat buruk bagi perkembangan relasi sosial budaya dan keagamaan di Indonesia. Artinya, boleh kita katakan bersama, Ahmad Yani Basuki sedang mempersilakan perayaan penggunaan kalimat suci bagi berbagai karakter penjahat dalam semua produksi film di Indonesia. Inilah awal dari perayaan kemunafikan dalam berbagai film di Indonesia.
Dengan legitimasi keputusan Ahmad Yani Basuki tersebut, artinya, semua produser dan sutradara di Indonesia, sangat boleh untuk membuat karakter tokoh jahat yang mengutip kalimat suci dalam kitab suci Wedha, Tripitaka, Injil, AlQuran, dan berbagai kitab suci lainnya. Bisa dikatakan, era kepemimpinan Lembaga Sensor yang dipimpin oleh Ahmad Yani Basuki, membuka pintu selebar-lebarnya bagi “Perayaan Kemunafikan dalam Produksi Film Indonesia”! Selamat datang kemunafikan!
Thowaf Zuharon adalah Penulis dan Pemerhati Film