Pasokan Sayur Mayur Terhambat, Picu Kenaikan Harga
LAMPUNG – Pedagang sayur mayur di pasar tradisional Pasuruan Kecamatan Penengahan mulai merasakan dampak berkurangnya pasokan sayur mayur yang akan dijual ke konsumen sehingga mempengaruhi harga yang berangsur merangkak naik.
Wiji (50) salah satu pedagang sayur mayur menyebut, semenjak dua pekan terakhir pasokan jenis sayur mayur tertentu berkurang dari para petani yang biasa menyetor kepadanya. Wiji bahkan menyebut dalam beberapa hari terakhir hanya menjual beberapa jenis sayuran dan bumbu dapur yang dipasok dari luar wilayah Lampung Selatan.
Salah satu faktor berkurangnya pasokan sayur mayur dari petani diakui oleh Wiji akibat kondisi cuaca yang mulai membaik untuk menanam jagung sehingga petani mulai beralih menanam jagung. Sebagian petani lainnya sementara berhenti menanam sayuran. Beberapa petani sayuran di wilayah Desa Tanjungheran yang kerap memasok sayuran jenis kacang panjang, buncis, sawi, terong dan cabai merah yang masih dalam tahap penanaman berimbas stok berkurang.

Beberapa jenis sayuran yang umumnya disediakan dalam kondisi segar diantaranya jenis sawi, bayam bahkan dipasok dari wilayah desa di lereng Gunung Rajabasa dan kerap habis saat aktivitas pasar selesai pada siang hari karena pasar tradisional sudah mulai beroperasi sejak pukul 05.00 WIB. Wiji mengakui beberapa jenis sayuran mulai mengalami kenaikan berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 namun sebagian bahkan mengalami penurunan.
Beberapa jenis sayuran yang mengalami kenaikan harga diakui Wiji diantaranya jenis kacang panjang semula seharga Rp3.000 per ikat menjadi Rp5.000 per ikat, buncis semula Rp4.000 per kilogram menjadi Rp6.000 per kilogram, sawi per ikat semula Rp2.000 menjadi Rp3.000 per kilogram, terong semula Rp4.000 per kilogram menjadi Rp5.000 per kilogram, bayam cabut semula Rp1.000 per ikat menjadi Rp2.000 per ikat. Tomat dari Rp4.000 menjadi Rp5.000 per kilogram.
“Biasanya harga harga naik karena menjelang hari raya atau waktu tertentu namun saat ini jenis sayuran yang naik dipengaruhi faktor pasokan terlambat,” ungkap Wiji.
Salah satu pembeli, Ani, menyebut beberapa jenis sayuran memang naik namun beruntung dirinya memilih menanam sebagian sayuran kebutuhan sehari-hari meski beberapa jenis kebutuhan tetap dibelinya di pasar. Beberapa jenis kebutuhan dapur yang semula naik diakuinya bahkan justru turun diantaranya cabai merah besar semula Rp24.000 per kilogram kini menjadi Rp20.000 per kilogram, bawang merah dan bawang putih semula seharga Rp 23.000 per kilogram turun menjadi Rp20.000 per kilogram.
“Kenaikan harga memang memberatkan kaum ibu rumah tangga namun dengan kreativitas menanam sayuran di pekarangan bisa menjadi solusi pemenuhan kebutuhan sehari-hari tanpa harus membeli,” terang Ani.
Kebutuhan akan sayuran dan keperluan dapur lain diakui Ani harus disiasati oleh ibu rumah tangga tanpa harus selalu membeli di pasar terutama beberapa jenis sayuran yang bisa ditanam di polybag diantaranya bayam, kangkung dan cabai sehingga menghemat pengeluaran. Sebagian ibu rumah tangga yang ikut dalam kelompok wanita tani bahkan diberi polybag oleh desa untuk penanaman sayuran di pekarangan.