LOMBOK BARAT — Selain ketersediaan lahan memadai, ketersedian pakan bernutrisi menjadi salah satu penentu kualitas ternak dihasilkan. Sebab dengan pemberian pakan bernutrisi, selain pertumbuhan bagus, dari sisi kesehatan, ternak dihasilkan juga lebih terjamin serta bisa terhindar dari berbagai macam penyakit.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Rosiady Sayuti di acara seminar internasional pengembangan ilmu pakan dan nutrisi ternak di Hotel Jayakarta Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Selasa (7/11/2017).
“Kalau dari sisi ketersediaan lahan, NTB sudah memadai, tinggal bagaimana ketersediaan pakan bagi ternak yang ada, khususnya ternak sapi, selain selain bernutrisi, juga bergizi bagi pengembangan ternak sapi di NTB” kata Rosiady.
Apalagi NTB oleh pemerintah pusat telah ditetapkan sebagai salah satu daerah pengembangan bibit sapi nasional, sehingga masalah pakan bagi ternak sapi harus menjadi prioritas dan mendapatkan perhatian khusus untuk pengembangan peternakan.
Tapi sampai sejauh ini, jelas Rosiady kualitas dan kesehatan ternak sapi NTB masih aman serta terbebas dari penyakit seperti antraks dan telah banyak berkontribusi terhadap peternakan nasional, membantu memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional.
“Selama 2017 saja, NTB telah mengekspor sapi sebanyak 30.000 ekor dan sapi pedet sebanyak 10.000 ekor” katanya.
Guna terus berupaya meningkatkan populasi sapi tersebut, Pemda NTB sejak tahun 2009 terus fokus dalam pengembangan ternak sapi melalui program unggulan Bumi Sejuta Sapi (BSS).
Dikatakan, Program BSS, selain dihajatkan untuk meningkatkan pertumbuhan populasi ternak sapi di Indonesia, juga untuk melestarikan budaya beternak di sebagian kalangan Masyarakat NTB, yang sudah berlangsung sejak lama.
“Tradisi beternak itu, khususnya di pulau Sumbawa, telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang hidup secara turun temurun. NTB memiliki sejarah yang cukup gemilang dalam perdagangan sapi antar pulau sejak ratusan tahun yang silam” katanya.
Oleh karenanya, kedepan NTB diharapkannya akan dapat memenuhi Permintaan daging yang semakin tinggi di Indonesia sekaligus sebagai penyuplai bibit ternak berkualitas bagi berbagai provinsi lainnya di Indonesia.
Dekan Fakultas Peternakan Universitas Mataram, Dr. Maskur dalam sambutannya mengatakan, banyak negara berkembang mengalami defisit pakan dan masalah yang dihadapi industri peternakan, selain ketersediaan dan biaya bahan pakan yang tinggi.
Di sisi lain, keberlanjutan sistem produksi pakan dituntut untuk mampu berkompetisi sebagai Kunci pengembangan ternak berkelanjutan di berbagai negara, termasuk Indonesia khususnya di Provinsi NTB.
“Penggunaan sumber pakan yang efisien melalui sumber pakan baru hasil riset, sehingga harapannya optimalisasi sumber pakan lokal bisa mengambil peran besar dalam memenuhi ketersediaan pakan ternak yang berkualitas,” katanya.
Dengan demikian maka kemajuan teknologi pakan ternak ini akan mendukung sistem produksi ternak yang berkelanjutan, sehingga NTB bisa menjadi sentra produksi peternakan yang mampu memenuhi kebutuhan yang semakin pesat di sebagian besar negara berkembang, termasuk di Indonesia.
Seminar internasional pengembangan ilmu pakan dan nutrisi ternak sendiri diikuti oleh para pakar dan praktisi peternakan dari perwakilan 5 negara antara lain Timor Leste, Malaysia, Australia, Indonesia dan New Zealand, yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Mataram.
