Omah Manten, Dari Garasi Rumah Kini Menjadi Bisnis Menjanjikan

SEMARANG – Siapa yang berusaha dan berbisnis dengan total, pasti akan menemui keberhasilan serta kesuksesan. Itulah prinsip yang dipegang oleh Meiyanti, ibu rumah tangga warga Jalan Waru Raya, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Bagaimana tidak, bisnis yang semula hanyalah pekerjaan sampinganya dengan pekerjaan utama sebagai pegawai bank kini justru menjadi pekerjaan utama. Hobi dan kepiawaian mengerjakan pesanan souvenir hantaran lamaran dan pengantin menghantarkannya menjadi seorang pebisnis sukses.

Semula, setiap pesanan yang masuk dikerjakan selepas bekerja sebagai pegawai bank selesai. Seiring proses yang berlangsung, bisnis souvenir hantaran yang dia tekuni berkembang dan menjanjikan keuntungan yang lumayan. Hingga akhirnya tujuh tahun lalu, dirinya memutuskan untuk keluar dari bank tempat bekerja.

“Omah Manten tercetus saja, saya awalnya karyawan perbankan. Jasa awal seserahan hantaran. Teman-teman dikasih ke aku ajah. Mulai mendapat pesanan saat belum nikah. Mulai 2010 resign, suami tugas ke luar pulau, anaknya nggak ada urus. Jadi saya tekuni sambil ngurus anak di rumah,” ungkap Yanti kepada Cendana News, Selasa(7/11/2017).

Dimulai dengan menggunakan garasi rumahnya, Yanti kemudian menyulap garasinya menjadi tempat mengerjakan souvenir seserahan lamaran dan pengantin. Setelah mengumpulkan cukup modal ditambah pinjaman kredit Rp10 juta untuk UMKM dari bank tempatnya bekerja, usaha hantaran semakin dikembangkan.

Usaha sovenir hantaran sovenir lamaran dan pengantinpun semakin menunjukan kemajuan. Bahkan, Yanti kini sudah merasakan bagaimana menjadi pengusaha, ketimbang menjadi pegawai bank. “Beda, karyawan dan pengusaha ngefek banget,” tuturnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi internet, hingga akhirnya, ibu dari Rahyan Janitra Laksono ini menekuni promosi usahanya di dunia online dengan membuat laman bernama omah manten Tujuannya untuk mempromosikan hasil karyanya kepada para calon konsumen.

Ditambah dengan dirinya mengikuti beberapa pelatihan dan berbagai pameran, Yanti menyatakan UKM yang dirintisnya dari nol akhirnya memiliki kemajuan yang pesat. “Era digital, semua searching dulu mereka lihat cocok mana? Mulai kontak email dan BBM atau WA. Mulai off line saya mikirin. Dengan modal connect saya cari tempat workshop. Online sebelum saya resign, saya pikir selama 2 tahun untuk resign (dari pegawai bank). Aku ngerjain apa ya?” ucapnya.

Suasana di Toko Omah Manten/Foto: Parwito.

Dengan promo online bisnis melaju pesat

Istri dari Widyo Tri Laksono ini pun sangat merasakan betul efek bisnis yang ditunjang dengan teknologi online. Pada tahun 2011, Yanti hanya mendapatkan sebanyak Rp25 juta- sampai Rp 30 juta konsumen perharinya. Namun, disaat musim nikah atau bulan besar, usaha tersebut bisa meraup keuntungan sampai Rp40 juta sampai Rp45 juta perhari.

“Mulai tahun 2010 sehari orang lihat 25-30 sehari. Off-line 2011. Mulai bulan besar, musim nikah sampai Mei masuk Desmeber 40 – 45 juta. Seminggu bisa dapat pesanan tiga calon pengantin. Kalau sovenir paling empat sampai 5 sebulan. Kapasitas produksi mampu kita tangani,” terangnya.

Usaha yang awalnya hanya dibantu dengan tiga tetangganya, kini bertambah dua kali lipat memiliki sebanyak enam orang karyawan yang memproduksi dan mengurusi industri sovenir seserahan lamaran dan pengantinya.Tips yang digunakan Yanti dalam mengelola bisnis secara online ini adalah membangun kepercayaan kepada konsumen.

Terutama menjaga mutu dan berbagai macam jenis dan model seserahan lamaran dan pernikahan yang diproduksinya. “Customer ada pesan, tidak jadi DP-nya ilang. Kalau DP masuk ya kita kerjakan. DP masuk kirim bukti transfer kita kerjakan. Seserahan
cepet, kasih report, kita kirim. Costumer sekarang sudah pintar-pintar. Mereka benar cek bener walk-in. Di bisnis online berikan kepercayaan. Garansi. Banyak cerita mereka kena,” bebernya.

Mulai tahun 2013, berbagai konsumen sovenir seserahan lamaran dan pengantin ini pun terus berkembang. Konsumenyapun dari pengakuan Yanti sudah merambah yang awalnya hanya di lokasi sekitar Kota Semarang meluas ada yang dari luar Jawa.

Bahkan, omset industri kreatif yang Yanti rilis selama bertahun-tahun ini menghasilkan dan bisa menopang kehidupan keluarganya. Bagaimana tidak, saat ini jika musim nikah datang Yanti masih bisa mengeruk keuntungan ratusan juta.”Ngefek banget. Mana sih orang sekarang mau susah-susah? Mereka males. Kalau era sekarang sambil makan jalan ngobrol online. Sreg, cocok mereka datang kesini,” pungkasnya.

Lihat juga...