SURABAYA – Seorang wartawan Noor Arief Prasetyo menerbitkan buku berisi kumpulan esai kriminal yang mengungkap kondisi lokalisasi prostitusi di Surabaya setelah resmi ditutup oleh pemerintah kota setempat.
“Seluruh esai yang saya terbitkan di buku ini tidak pernah dipublikasikan di surat kabar. Jadi saya menulisnya memang untuk tujuan membuat buku,” ujar Noor usai peluncuran bukunya, di Surabaya, Sabtu (11/11/2017).
Buku setebal 104 halaman itu, diberi judul Surabaya Butuh Lokalisasi. Termuat di dalamnya 16 esai criminal. Seluru tulisan tersebut memiliki latar belakang eks lokalisasi prostitusi yang pernah ada di Surabaya.
Berdasarkan pengalamannya menjadi wartawan untuk koran kriminal, Noor menjumpai pelaku kejahatan yang selalu mengawali atau mengakhiri tindak kriminalnya dengan bermabu-mabukan dan bahkan berpesta dengan wanita penghibur di kawasan lokalisasi prostitusi.
“Pelaku kejahatan itu biasanya mabuk-mabukan dulu di lokalisasi kemudian muncul inisiatif melakukan tindak kejahatan. Kalau tidak, ya, sebaliknya, melakukan tindak kejahatan dulu, lalu menghabiskan uangnya di lokalisasi,” katanya lagi.
Latar belakang itulah yang membuat dia melakukan observasi setelah lokalisasi prostusi di Kota Surabaya ditutup pada 2014 lalu oleh pemerintah kota setempat. Hasil dari riset tersebut kemudian dituangkannya dalam bentuk esai kriminal berwujud buku Surabaya Butuh Lokalisasi.
“Karena kondisi lokalisasi prostitusi usai penutupan ternyata masih sama seperti yang dulu. Hanya saja sekarang lebih terselubung. Kondisi sekarang ini lebih menyulitkan pemerintah melakukan pengawasan,” ujarnya lagi.
Dia mencontohkan, dulu di lingkungan lokalisasi prostitusi ada sekat antara rumah bordil dan yang bukan dengan tanda bertuliskan rumah tangga. Sekarang sudah sulit membedakannya lagi. “Sudah tidak ada lagi pemeriksaan penyakit menular seksual terhadap pekerja seks,” katanya pula.
Kondisi seperti itu, bagi dia, masih tetap menjadikan eks lokalisasi prostitusi sebagai hulu dan hilir tindak kejahatan di Kota Surabaya. “Saya sebenarnya bukan dalam posisi berpendapat apakah lokalisasi prostitusi harus ditutup atau tidak. Hanya saja saya rasa pemerintah perlu menggalakkan program yang berkelanjutan terkait penutupan lokalisasi prostitusi. Tidak hanya sekadar menjalankan kegiatan seremonial semata, seperti Dolly Saiki Festival dan Dolly Night Fun Run saja,” pungkasnya. (Ant)