Menikmati Bentang Alam Pantai Alami Lampung
LAMPUNG — Destinasi wisata pantai masih menjadi pilihan favorit bagi sejumlah wisatawan yang ingin menikmati suasana santai bersama keluarga, sekaligus menyalurkan hobi fotografi menggunakan kamera single lens reflex (SLR), memancing, atau sekedar duduk santai di tepi pantai dan menikmati pasir putih bersama keluarga.
Salah satu objek wisata yang cukup dikenal oleh masyarakat di pesisir timur Lampung berhadapan dengan selat Sunda bernama Pantai Alami, yang berada di Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan.
Lokasi untuk menuju ke Pantai Alami juga terbilang mudah. Dari arah Pelabuhan Bakauheni, Pantai Alami bisa ditempuh melalui jalan lintas pantai timur Sumatera sekitar 6 kilometer dari Pelabuhan Bakauheni, di sisi sebelah kanan dengan sebuah penanda gerbang bernuansa gapura Bali yang tersisa sebagian atau tepat berada di belakang kantor PJR Unit V Polda Lampung.
Warga yang ada di dekat pantai tersebut yang berada di Dusun Tasik, akan ramah memperlihatkan akses jalan untuk menuju ke lokasi Pantai Alami.
Sapaan rumput menghijau dengan sebagian merupakan pohon pandan laut, pohon gebang atau sejenis palem serta waru laut akan mengiringi akses masuk yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan empat hingga ke bibir pantai.
Pantai yang masih alami, menurut Andi (23), warga setempat, membuat pantai tersebut diberi nama Pantai Alami, tanpa adanya pengelolaan dari masyarakat setempat bahkan hanya dimanfaatkan sebagai lokasi untuk budidaya rumput laut di bagian perairan, sehingga pasir yang berada di tepian masih bisa dipergunakan untuk bermain.

Lokasi yang sejajar dengan beberapa perbukitan, di antaranya bukit Pancong di Selatan, Pulau Rimau Lunik dan Rimau Balak menjadi pemandangan yang menakjubkan, terutama saat kondisi sedang cerah bisa menjadi latar belakang untuk penghobi fotografi.
Padang rumput menghijau dan ilalang, bahkan tumbuh dengan subur di area tersebut pada musim tertentu menjadi pemandangan pelengkap menyatu dengan landscape alam pegunungan, pantai berpasir dan pulau-pulau kecil di Selat Sunda.
Saat hari liburan dan kerap ada pengelola, untuk masuk ke pantai tersebut dipatok tiket masuk sebesar Rp5.000 untuk kendaraan roda dua, sementara untuk kendaraan roda empat cukup membayar tiket sebesar Rp10.000 sudah bisa menikmati wisata bersama keluarga dengan bermain di bawah pepohonan bakau, waru gunung yang rindang sembari bermain pasir.
Salah satu pengunjung, Claude Ardianto (33), asal Nusa Tenggara Timur, mengaku sengaja datang ke Pantai Alami, karena sejumlah pantai lain di Lampung Selatan sudah dikunjunginya, dan lokasi Pantai Alami dengan bentang alam yang menarik mengobati kerinduan akan tanah kelahirannya di NTT.
Mengajak serta anak dan istrinya, laki-laki yang bekerja di sebuah perusahaan di Ketapang tersebut sekaligus menyempatkan untuk membawa pancing ke lokasi memancing yang nyaman.
Claude menyebut, memancing di tepian menggunakan joran kerap memperoleh ikan jenis kakap putih, sembilang hingga ikan simba dan baronang yang menjadi hama bagi pembudidaya rumput laut di wilayah tersebut.
Ia juga menyebut, pada saat gelombang tinggi, kondisi perairan masih terlihat keruh, namun saat kondisi ombak tenang kondisi perairan di Pantai Alami tersebut cukup jernih, sehingga pengunjung bisa berenang sembari bermain pasir.
“Sebagian pemancing atau wisatawan berasal dari beberapa tempat yang jauh dari laut, sehingga sekaligus bisa wisata dan mencari ikan bersama keluarga”, terang Claude Ardianto.
Melalui tanggul yang sengaja dibangun oleh pemilik usaha tambak di wilayah tersebut, di Pantai Alami yang sengaja akan dipergunakan sebagai jety atau dermaga tambat kapal justru kini menjadi spot memancing bagi para penghobi memancing. Dari lokasi tersebut para penghobi memancing juga bisa menyewa perahu untuk memancing di sekitar pulau Rimau Lunik yang kerap menjadi spot memancing, namun sebagian lebih memilih memancing di sekitar Pantai Alami.
Menurut Claude yang sudah menetap di Ketapang, pasir putih yang memanjang hampir satu kilometer, selain dipergunakan wisatawan untuk bermain, juga kerap dipergunakan sebagai lokasi kegiatan trail adventure, dengan medan yang cukup menantang berupa area berpasir dan padang rumput menghijau.
Meski belum ada sarana memadai untuk berteduh berupa saung atau gubuk buatan, namun dengan rimbunnya berbagai pohon peneduh didominasi tanaman cemara laut dan waru laut, pengunjung tak perlu kepanasan, karena keteduhan pepohonan pantai menjadi penyejuk diterpa angin laut.
“Karena masih alami, jadi belum ada pengelolaan, meski di sini lokasinya sangat cocok jika ada penyewaan ban, perahu atau banana boat dan dibuat wahana lain, agar lebih banyak dikunjungi wisatawan”, terang Claude.
Di kejauhan, kapal-kapal roll on roll off yang kerap melakukan anchor atau menunggu jadwal juga kerap melepaskan jangkar tak jauh dari Pantai Alami, sehingga menjadi daya tarik untuk melihat kapal-kapal yang biasa bersandar di Pelabuhan Bakauheni tersebut.
Belum adanya fasilitas warung atau tempat berjualan membuat pengunjung yang menyukai tradisi bancakan bisa membawa bekal dari rumah dengan terlebih dahulu membeli ikan dari tempat pendaratan ikan Ketapang untuk dibakar di tepi pantai atau menunggu hasil pancingan penghobi memancing serta nelayan yang masih dalam kondisi segar, sembari menikmati akhir pekan.