MALANG — Sempat vakum beberapa tahun, acara ‘Malang Tempo Dulu’ (MTD) hari ini kembali dihelat untuk mengobati rasa rindu masyarakat akan suasana Malang zaman lampau. Acara ini juga dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.
Malang tempo dulu pertama kali digelar pada 2006 di sepanjang jalan Ijen. Namun, sejak 2011 perhelatan MTD terpaksa harus vakum dan kembali lagi digelar tahun ini.
Ketua Yayasan Inggil, Dwi Cahyono, sekaligus penggagas acara MTD menyebut, gelaran MTD kali ini mengusung tema ‘Kelapa Jadi Apa’. Tema tersebut diambil karena produksi kelapa di Indonesia sekarang ini sudah berkurang. Dan, kesadaran masyarakat untuk menggunakan kelapa untuk dijadikan salah satu bahan makanan sudah mulai berkurang.

“Misalnya saja, sekarang ini sudah jarang generasi muda yang tahu caranya memarut kelapa dan memeras santan. Mereka sekarang tahunya hanya santan instan saja tanpa mau tahu prosesnya seperti apa sebelum buah kelapa itu menjadi santan,” ujarnya.
Menurutnya, dengan digelarnya kembali MTD, selain untuk bernostalgia dengan suasana Malang tempo dulu, sekaligus untuk menyuarakan pelestarian vegetasi terutama pohon kelapa, sehingga bisa mempertahankan swasembada pangan. Jangan sampai kelapa saja impor dari luar negeri.
“Jadi, kami ingin mengembalikan lagi kebiasaan-kebiasaan lama yang dilakukan masyarakat Indonesia, seperti memarut kelapa dan memeras santan”, tuturnya.
Ia menambahkan, tahun ini tanaman kelapa yang diangkat menjadi tema, tapi penyelenggaraan selanjutnya bisa saja tanaman lainnya yang diangkat dengan tujuan pelestarian.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni, menyampaikan bahwasannya antusiasme masyarakat kota Malang dalam setiap gelaran iven Malang Tempo Dulu (MTD) sangat tinggi. Terbukti pada setiap penyelenggaraannya selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat, bahkan wisatawan Nusantara maupun mancanegara.
Menurutnya, iven MTD ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan, sehingga semua stan yang ada di sini harus dihias sesuai dengan konsep tempo dulu termasuk juga makanan, jajanan dan perabotan yang mereka jual harus zaman dulu. Para penjual dan pengunjung juga diwajibkan harus berdandan layaknya dandanan zaman dulu.
Ida menyampaikan, berbeda dengan MTD sebelumnya yang diadakan selama 3-4 hari, gelaran MTD kali ini hanya digelar selama satu hari penuh.

“Kalau pelaksanaannya panjang 3-4 hari akan memungkinkan Pedagang Kaki Lima (PKL) ikut di dalamnya, sehingga konsep tempo dulu yang kita usung terkontaminasi oleh mereka. Oleh sebab itu, MTD kali ini hanya diaksanakan satu hari untuk menghindari permasalah tersebut”, akunya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, sebelum membuka acara MTD, menyampaikan agar iven MTD bisa dicatat di kementerian kebudayaan sebagai kalender budaya kota Malang. Sehingga turis bisa mengetahui iven-iven apa saja yang bisa mereka datangi ketika berkunjung ke Malang.
“Melihat masa lalu memang penting, agar kita tidak kehilangan jejak masa lalu kita, tetapi jangan lupa kita juga harus menatap masa depan untuk kejayaan Indonesia, khususnya kota Malang,” pungkasnya.