‘Lukisan Tanpa Teori’ 4 Maestro Pelukis di TIM Jakarta

JAKARTA – Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar pameran ‘Lukisan Tanpa Teori’ karya empat maestro pelukis dari tahun 1970-1978, yakni Nashar, Oesman Effendi, Rusli, dan Zaini. Pameran berlangsung 8-23 November 2017 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. 

Dari beberapa karya para pelukis tersebut, DKJ memilih 16 lukisan yang dapat dihubungkan mengenai gagasan ‘perlukah teori dalam melukis’. Lukisan tersebut berdasarkan pada rasa, irama alam, situasi jiwa, dan bayangan kehidupan. Dalam hal ini, DKJ ingin menawarkan penglihatan gaya melukis yang dilakukan keempatnya sebagai ke-Indonesia-an yang dicari-cari tanpa teori yang berpaling dari seni lukis Barat ataupun motif tradisi Nusantara.

“Dari keempat maestro pelukis, saya suka Nashar yang tidak pernah sengaja melukis, tetapi  dia mampu mengembangkan struktur dalam berkarya, yaitu pemikiran tentang ‘Tiga Non’, yaitu non-prakonsepsional, nonestetik akademis, dan nonteknik akademis”, ungkap Gladhys, salah seorang pengunjung di Galeri Cipta III, TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (11/11/2017) malam.

Lebih lanjut, perempuan berambut brindil itu menerangkan, “perjalanan intelektual Nashar dalam mencapai pemikiran mengenai konsep tiga non tersebut ternyata merujuk pada metode Patrap Triloka yang diterapkan oleh Taman Siswa, yang terdiri dari: ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun kemauan/inisiatif) dan tut wuri handayani (dari belakang mendukung)”.

“Nashar memang benar-benar pelukis yang hanya melukis saja, tanpa teori, “ tegasnya.

Ketika ditanya, bagaimana menafsir atau mengapresiasi lukisan, dengan tenang Gladhys menjawab, “sebagai penikmat seni, saya tidak berani menafsir apa-apa mengenai lukisan ini”.

“Saya hanya baca tulisan mengenai lukisan ini dari kurator. Saya hanya menikmati saja, tidak dalam-dalam, tidak menafsir apa-apa,” tandasnya.

Di hari terakhir pameran, pada 23 November 2017 pukul 19.00-21.00 WIB akan berlangsung diskusi dan peluncuran buku post event pameran yang berisikan tulisan dari Theo Frids Hutabarat dan Tyson Tirta.

Lihat juga...