Kesunyian Pulau Kopiah, Surga Pecinta Petualang di Ketapang

LAMPUNG — Bentang alam Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, yang kaya akan garis pantai membentang dari perbatasan Kecamatan Bakauheni hingga Kabupaten Lampung Timur, membuat kecamatan Ketapang dikenal sebagai satu kecamatan dengan wisata alam pantai, laut atau bahari yang cukup banyak.

Pecinta wisata bahari bahkan memiliki pilihan untuk sekedar bermain di tepi pantai menikmati keindahan pasir putih atau memilih mengunjungi pulau-pulau yang ada di dekat pantai dengan jarak rata-rata hanya sekitar 100-200 meter dari bibir pantai.

Beberapa pantai yang ada di wilayah Kecamatan Ketapang yang cukup menarik dan pernah dikunjungi dan diulas oleh Cendana News, di antaranya Pantai Agro di Desa Legundi, Pantai Puri Dewata di Desa Tri Dharmayoga yang kerap menjadi destinasi wisata bahari saat akhir pekan bagi masyarakat.

Keberadaan pantai yang dekat dengan lokasi budi daya rumput laut, pencarian kerang serta tempat pendaratan ikan membuat pengunjung bisa menikmati kuliner beragam mulai dari es rumput laut, kerang asam pedas atau ikan bakar yang bisa langsung dibeli dari nelayan yang selesai mendarat.

Nanda dan Ketut Siwi berswafoto dengan latar belakang pohon waru yang unik. [Foto: Henk Widi]
Selain pantai, pilihan wisata bahari akhir pekan yang bisa dijadikan destinasi menarik adalah wisata pulau yang ada di Desa Ketapang, Desa Legundi dan Desa Tridharmayoga hingga Desa Sumur, yang semuanya ada di Kecamatan Ketapang. Beberapa pulau yang masih kerap dikunjungi wisatawan pada puncak liburan di antaranya jelang bulan Ramadan,libur hari raya Galungan, Idul Fitri dan tahun baru, di antaranya Pulau Mundu, Pulau Suling, Pulau Seram atau Pulau Gede dan Pulau Kopiah.

Selain keempat pulau tersebut, beberapa pulau lain bahkan bisa dikelilingi dengan perahu, di antaranya Pulau Rimau Balak, Pulau Tumpel Lunik, Pulau Rimau Lunik, Pulau Tumpel, Pulau Seram Kecil yang hanya dikunjungi oleh pecinta alam bahari dan berniat menikmati wisata alam yang anti maenstream.

Akses yang mudah membuat beberapa pulau tersebut bisa dicapai dari beberapa pantai terdekat dengan perahu tanpa lupa menggunakan pelampung dan alat keselamatan lain.

Nanda (23), wisatawan penghobi fotografi dan petualangan mengatakan, salah satu lokasi yang sangat menarik untuk dikunjungi adalah pasangan Pulau Kopiah dan Pantai Puri Dewata di Desa Tri Dharma Yoga. Disebut berpasangan, karena baginya kurang lengkap berwisata ke pantai Puri Dewata tanpa menyeberang ke Pulau Kopiah yang tak jauh dari pantai.

“Selain jaraknya cukup dekat, sebagai penghobi fotografi saya bisa menemukan beberapa objek foto menarik berupa pohon kayu pantai yang unik termasuk melakukan aktivitas diving, snorkeling atau menikmati kesunyian setelah lelah dengan aktivitas sepekan”, terang Nanda, saat ditemui di salah satu spot Pulau Kopiah, Desa Tridharmayoga, Kecamatan Ketapang, Minggu (5/11/2017).

Akses menuju Pulau Kopiah, diakuinya tidak terlalu sulit, karena bisa ditempuh dari beberapa lokasi, di antaranya dengan menyewa perahu dari dermaga Ketapang dengan menyewa perahu secara borongan mulai dari Rp250.000 hingga Rp300.000 untuk mengunjungi beberapa pulau sekaligus. Akses lebih dekat bahkan bisa ditempuh dari Pantai Agro di Desa Legundi, yang dekat dengan Pulau Suling dan Pulau Kopiah, dengan memanfaatkan jasa ojek perahu milik nelayan setempat dengan kesepakatan biaya yang saling menguntungkan.

Bentang alam di sudut Pulau Kopiah bisa menjadi objek foto menarik. [Foto: Henk Widi]
Menuju ke titik keberangkatan terdekat Pantai Puri Dewata, wisatawan bisa menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dari Pelabuhan Bakauheni dengan waktu tempuh sekitar 30 menit, dengan fasilitas parkir memadai cukup dengan biaya Rp15.000 di Pantai Puri Dewata. Selanjutnya menggunakan perahu dayung dengan waktu sekitar 15 menit, dengan biaya sekitar Rp30 ribu pulang pergi.

Nanda menyebut, nelayan akan dengan senang hati mengantarkan wisatawan berkeliling pulau dan dengan setia menunggui wisatawan yang akan berlama-lama menikmati suasana pantai, termasuk untuk mengambil objek foto untuk pranikah (prewedding) dan penghobi fotografi landscape.

Nanda yang menyukai fotografi landscape untuk koleksi pribadi di blog yang dimilikinya, melakukan beberapa kali kunjungan untuk mencari spot foto yang terbaik, khususnya saat kondisi air laut surut.

“Saat terbaik mengunjungi Pulau Kopiah adalah ketika air surut, meski kita harus membantu nelayan mendorong perahu untuk berangkat ke pulau, karena pantai yang dangkal, tapi hal tersebut bisa menjadi petualangan yang menarik”, beber Nanda.

Mengunjungi Pulau Kopiah, kata Nanda, menjadi sebuah petualangan yang mengasyikkan, karena terasa berada di sebuah pulau pribadi tanpa ada keramaian. Bahkan, tanpa ada bangunan satupun di lokasi pulau yang luasnya tak lebih dari 500 meter persegi tersebut.

Pohon-pohon mangrove dan waru laut yang menjadi vegetasi alami sekaligus batu-batu hitam yang utuh sisa bukti kedahsyatan ledakan Gunung Krakatau pada 1883, bahkan teronggok tak beraturan, namun justru menjadi objek untuk berswafoto lengkap dengan akar-akar nafas pohon mangrove serta pohon waru terkena abrasi.

Ia yang mengajak Ketut Siwi (24), menyebut beberapa destinasi wisata lain pernah dikunjungi. Namun, rekomendasi harus berkunjung ke Pulau Kopiah karena alam yang masih asli, bahkan nyaris tak terjamah manusia, pasir yang putih, air laut yang jernih, sehingga dengan menggunakan fin atau pelampung dan alat snorkeling keindahan alam bawah laut dangkal bisa dinikmati tanpa merusak terumbu karang.

Penghobi menyelam bahkan direkomendasikan tanpa lupa membawa kamera bawah air untuk menikmati objek menarik di Pulau Kopiah tersebut tanpa merusak alam.

Pulau Kopiah yang tak berpenghuni tersebut, kata Nanda, kerap dipergunakan oleh pecinta alam bahari sebagai lokasi untuk melakukan transplantasi terumbu karang, karena potensi gangguan di wilayah tersebut minim dari lalu lintas perahu dengan kontur yang dangkal, sehingga hanya kerap dilalui nelayan tradisional pembudidaya rumput laut.

Lelah dengan mengeksplore Pulau Kopiah dan menikmati keindahan tanpa lupa memenuhi memori kamera telepon pintar atau kamera Single Lens Reflex (SLR), Nanda menyempatkan melakukan hal-hal menarik layaknya anak-anak kekinian. Bermain pasir, menulis di atas pasir serta berswafoto ria untuk diunggah di akun media sosial miliknya.

Ia menyebut, Pulau Kopiah bisa menjadi tempat cocok untuk berkemah bagi pecinta alam atau mendirikan kemah di pantai Puri Dewata, selanjutnya menyeberang menggunakan perahu bagi para pecinta alam petualangan atau wisata yang jauh dari hingar-bingar keramaian.

Lihat juga...