Kerajinan Cangkang Telur Bantul Terkendala Bahan Baku

YOGYAKARTA – Potensi usaha berbasis kerajinan di Indonesia memang sangat luar biasa. Hal itu tidak terlepas dari kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang bisa dimanfaatkan untuk bahan pembuatan kerajinan tersebut. Selain juga kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Indonesia yang dikenal kreatif dan memiliki nilai seni tinggi. 

Salah satu usaha kerajinan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah pembuatan produk kerajinan berbahan baku cangkang telur. Dengan keunikan dan ciri khasnya, produk kerajinan yang banyak ditemukan di wilayah Jawa Tengah dan DIY ini bukan tidak mungkin mampu menembus pasar ekspor.

Salah satu usaha produk kerajinan berbahan baku cangkang telur yang ada di Bantul adalah Tonk Craft milik Santi (32) warga Karangmojo, Trirenggo, Bantul. Bersama suaminya, ia mengaku sudah mulai menggeluti usaha ini sejak tahun 2000 lalu. Berbagai macak produk kerajinan cangkang telur ia hasilkan mulai dari pernak-pernik, hiasan hingga alat-alat rumah tangga.

Ia menceritakan, awal mula usaha pembuatan kerajinan cangkang telur miliknya bermula saat ia dan suaminya mencoba-coba membuat produk kerajinan baru secara mandiri. Kebetulan sebelumnya suaminya pernah bekerja di industri pembuatan bambu. Berbekal ilmu itulah ia kemudian memulai usaha pembuatan kerajinan cangkang telur secara mandiri.

“Awalnya hanya membuat hiasan kaligrafi dari bahan kulit telur saja. Kemudian berkembang dan berkembang. Kini ada banyak produk kerajinan yang dibuat. Seperti misalnya tempat tisu, tempat lilin, tempat pensil,  tempat perhiasan, celengan hingga baki dsb. Harganya berfariasi, mulai dari puluhan ribu sampai ada yang ratusan,” katanya.

Dengan memanfaatkan 3 orang tenaga, Santi mengaku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memproduksi berbagai macam produk kerajinan cangkang telurnya. Hal itu dikarenakan semua pakerjaan dilakukan secara manual menggunakan tangan. Mulai dari menyiapkan bahan mentah, menempel cangkang telur, menempel semen, mengamplas, hingga mewarnai dan finishing.

“Untuk jumlah produksi tiap barang berbeda-beda. Ada yang satu hari bisa jadi 5 biji, ada yang 3 biji, ada juga yang hanya 1 biji. Tergantung tingkat kesulitannya,” ujarnya.

Masih dipasarkan secara langsung ke toko-toko, maupun dikirim ke sejumlah pelanggan, Santi mengaku belum mampu memaksimalkan pemanfaatan internet untuk mendukung usahanya. Selain itu ia juga mengaku terkendala sulitnya mencari cangkang telur sebagai bahan baku utama. Selama ini sendiri ia hanya mengandalkan pasokan cangkang telur dari restoran atau rumah makan untuk di tampung di rumahnya.

“Harapannya tentu ada perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun pihak lain. Seperti misalnya pelatihan produksi, managemen atau pemasaran. Dan yang paling penting tentu saja bantuan baik berupa alat atau modal usaha,” katanya.

Lihat juga...