Inovasi ‘Irigasi Kabut’ Solusi Lahan Kering

YOGYAKARTA – Penerapan inovasi teknologi sistem irigasi kabut di kawasan lahan pertanian pesisir pantai, mampu meningkatkan hasil panen hingga 2-3 kali lipat. Hal itu telah dibuktikan oleh Kelompok Tani Pasir Makmur, Desa Samas, Srigading, Sanden, Bantul.  

Menanam komoditas utama, yakni bawang merah dan cabai, pada petani mampu mengubah lahan pasir yang selama ini dikenal kurang subur menjadi lahan produktif yang menjanjikan.

Ketua Kelompok Tani Pasir Makmur, Sumarno, yang merupakan inovator sistem irigasi kabut, mengatakan penerapan inovasi teknologi pertanian tersebut mampu meningkatkan hasil panen bawang merah dari semula 2-4 ton per hektare menjadi sekitar 7 – 9,4 ton per hektare.

Baca: Titiek Soeharto: Pemanfaatan Lahan Marjinal Belum Maksimal

Untuk komoditas cabai, penerapan sistem pertanian irigasi kabut juga mampu meningkatkan hasil panen dari semula sekitar 8 ton per hektare menjadi 17 ton per hektare, dengan hitungan peningkatan waktu panen dari 12 kali petik menjadi 19 kali petik untuk sekali masa tanam.

“Untuk cabai, sebenarnya kita mentargetkan hasil panen 20 ton per hektare. Namun, karena kemarin sempat terkena serangan hama pathek, maka kita hanya panen 17 ton per hektare,” katanya, saat temu wicara Anggota Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, Titiek Soeharto, bersama Kelompok Tani Pasir Makmur, Dusun Samas, Desa Srigading, Sanden, Bantul, Jumat (24/11/2017) sore.

Dianggotai 70 lebih petani, Kelompok Tani Pasir Makmur mulai menerapkan sistem irigasi kabut sejak beberapa tahun terakhir. Berawal dari uji coba dengan melihat sistem serupa di internet, mereka menerapkan sistem teknologi pengendalian suhu dan kelembaban lahan pertanian itu di kawasan seluas kurang lebih 1,3 hektare.

Baca: ‘Irigasi Kabut’ Tingkatkan Hasil Panen Lahan Marjinal

Sistem irigasi kabut ini kita terapkan untuk mengatasi permasalahan yang ada di lahan pasir, yakni mengontrol kelembaban dan suhu. Prinsip sistem ini adalah memompa air dari sumur tanah dangkal, kemudian menyalurkannya ke pipa primer, serta pipa-pipa karet di sepanjang lahan pertanian,” katanya.

Dengan tekanan dari popa, pipa-pipa karet yang memiliki lubang mikro tersebut akan menyiram air secara lembut ke seluruh areal lahan pertanian. Sehingga, pada akhirnya akan dapat mengatur suhu dan kelembaban udara di sekitar tanaman.

“Sistem irigasi kabut ini mampu berjalan secara otomatis dalam menjaga suhu dan kelembaban. Pompa akan menyala sendiri pada saat pagi dan sore hari. Sementara pada saat siang hari, ketika cuaca panas dan suhu mencapai lebih dari 30 derajat, pompa akan otomatis menyala dan menyiram sendiri,” katanya.

Selain menghemat tenaga, sistem ini juga memungkinkan petani menanam berbagai komoditas pertanian sepanjang musim. Pasalnya, lahan pasir tidak akan mudah becek, meski turun hujan lebat, sehingga cocok untuk ditanam komoditas pertanian yang rawan rusak seperti cabai maupun bawang merah.

Lihat juga...