Hasni dari Ponorogo Sukses Bisnis Mi Sehat

PONOROGO –– Hasni Misdwiyanti Masruroh (26 tahun) awalnya pecinta mi, ia suka sekali dengan berbagai panganan mi. Namun lama-kelamaan timbul kekhawatiran dari dirinya terkait efek samping MSG yang biasanya ada dalam mi. Akhirnya timbullah ide, membuat mi tanpa menggunakan MSG dan bahan pengawet dengan nama Mie Healthy (mi sehat).

Menariknya, mi buatan Hasni sapaannya, memiliki warna yang beragam mulai dari kuning, hijau, merah dan jingga. Warna yang dihasilkan mi berasal dari sari pati buah dan sayur yang ia tambahkan. Meski tanpa MSG, mi buatan Hasni memiliki rasa yang enak karena menggunakan teknik pengolahan khusus.

“Berawal dari kekhawatiran itu, mi buatan saya tawarkan ke orang lain, ternyata tanggapannya bagus,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (28/11/2017).

Bahan yang digunakan Hasni hampir sama dengan mie pada umumnya, seperti tepung terigu, tepung kanji, telur dan ditambah sari pati buah dan sayur. Pemakaian sari pati buah dan sayur bisa menambah warna, meski tanpa menggunakan bahan pewarna makanan. “Jadi untuk anak-anak pun aman dikonsumsi,” ujarnya.

Saat ini dalam satu hari, Hasni mampu memproduksi 18 pak mi basah berat 500 gram. Untuk satu pak mi varian sawi dijual dengan harga Rp13 ribu sedangkan varian rasa buah naga dibanderol Rp15 ribu.

“Kami sementara masih memproduksi mie basah, tahan di suhu ruang selama 12 jam dan dalam lemari es 3-4 hari,” cakapnya.

Ibu satu orang anak ini menambahkan adonan mi satu kilogram membutuhkan buah dan sayur sebanyak 500 gram agar menghasilkan warna yang bagus. Sementara ada tiga varian rasa yang dijual, ada warna hijau dari sari pati sayur sawi dan pak coy, ada warna jingga dari sari pati wortel dan warna merah dari sari pati buah naga.

“Untuk rasa tetap seperti mi pada umumnya, tapi dengan warna yang menarik bisa menyiasati anak yang susah makan buah dan sayur, karena mie sudah ada sari pati buah dan sayur,” imbuhnya.

Menurutnya, mi wortel mengandung karbohidrat dan protein dari olahan bahan tepung dan telur serta mengandung vitamin A. Sedangkan mi hijau mengandung vitamin K.

Ke depan Hasni berniat menjual mi lengkap dengan bumbu serta varian mi kering. Namun masih dalam proses produksi bumbunya, karena masih mengupayakan bumbu tanpa menggunakan MSG.

“Murni dari bahan alami dengan cita rasa yang tidak kalah dari bumbu mi instan pada umumnya,” tukasnya.

Alumni Universitas Muhammadiyah Ponorogo ini menerangkan bagian pemasaran masih terbatas dalam kota, mengingat ketahanan mi yang hanya sebentar. Ke depan ia mempersiapkan diri untuk mi kering agar bisa menjangkau hingga luar kota.

“Diharapkan ini bisa menjadi solusi bagi orang tua yang anaknya suka makan mie dan khawatir dengan kesehatannya bisa beralih mengkonsumsi Mie Healthy, karena moto kami jangan takut makan Mie Healthy,” pungkasnya.

Ini bisa menjadi salah satu modal utama masyarakat Indonesia untuk mandiri secara bahan pangan tanpa perlu mengimpor lagi. Penggunaan Mie Healthy bisa menjadi pilihan makanan utama pengganti nasi yang aman dan sehat bagi seluruh keluarga Indonesia.

Lihat juga...