Hasanudin, Nelayan Kecil Lampung Pelestari Mangrove

LAMPUNG — Hasanudin (55) punya cara menjaga lingkungan. Warga Dusun Pegantungan Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan meneruskan aktivitas yang telah dilakukan keluarganya selama dua generasi.

Semenjak sang ayah menempati kawasan yang berada di dekat muara Sungai Way Pegantungan tepat di bibir Selat Sunda tersebut, keluarganya ikut dalam pelestarian mangrove. Hasanudin, istrinya Siti Khotimah dan anaknya merasakan manfaat dengan lestarinya hutan mangrove.

Laki laki sederhana tersebut tidak tinggal diam.Jauh sebelum kerusakan alam pesisir pantai terjadi akibat ulah manusia dengan penggunaan lahan mangrove menjadi tambak termasuk penggunaan zat kimia untuk memusnahkan mangrove maupun faktor alam gelombang, dirinya sudah sejak belasan tahun silam melestarikan mangrove.

Di sekeliling rumah terbuat dari geribik dan papan kayu tersebut yang berada di pesisir. Terlihat berbagai jenis pohon laut masih tumbuh subur sengaja dipelihara sejak benih hingga sebagian tumbuh sebagai pagar alam di lahan yang ditempatinya.

Sebagian besar tanaman mangrove diakuinya ada yang mudah dikembangkan dengan hanya menggunakan biji diantaranya jenis Kandelia candel yang terbilang langka karena hanya tumbuh di lokasi yang penuh lumpur sehingga habitat tersebut cocok tumbuh di wilayah yang ditinggalinya.

Semenjak belasan tahun silam sudah membudidayakan mangrove. Jutaan bibit pohon sebagian sudah dikirim ke berbagai wilayah karena kelangkaan jenis mangrove tersebut kini sukar ditemui di wilayah lain.

Hasanudin bukan tanpa halangan. Dia mengaku harus siap menghadapi keberadaan pemilik modal yang berada di dekat tanah miliknya dan membeli lahan dekat pantai untuk membuat area usaha pertambakan intensif. Pada bagian lain pernah direncanakan akan dibangun dermaga kapal cepat meski hingga kini belum terealisasi.

Lahan miliknya di sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Way Pegantungan, sebelah Barat dengan lahan milik pengusaha tambak dan sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Sunda yang digunakan sebagai dermaga kayu pendaratan ikan yang sebagian sudah rusak dan tidak difungsikan tersisa tiang pancang dari beton cor.

“Kerusakan alam yang sudah bertahun tahun sebagian memang terjadi karena faktor alam akibat gempuran ombak laut atau abrasi sementara pada bagian sungai terjadi pendangkalan oleh material tanah dan pasir dampak dari pembangunan jalan tol trans Sumatera,” terang Hasanudin saat ditemui Cendana News, Rabu (8/11/2017)

Hasanudin menyebut kawasan hutan mangrove (rhizophora) yang tersisa merupakan bagian yang langsung berhadapan ke laut sengaja dimanfaatkan oleh pemilik tanah, lahan tambak di wilayah tersebut sebagai penahan gelombang secara alami meski ke arah darat puluhan hektare lahan sudah berubah menjadi lahan tambak.

Laki laki bersahaja yang terlihat antusias saat dijumpai Cendana News mengaku sebagian hutan mangrove tersebut tinggal tersisa akarnya. Akibat kerusakan bahkan di sisi Timur terlihat sebagian bukit telah mengalami proses pembersihan lahan (land clearing), yang dikuatirkan akan berimbas pada kerusakan berbagai jenis tumbuhan bakau di wilayah tersebut akibat perataan tanah untuk perluasan lahan perbukitan wilayah tersebut.

Menurut dia berbagai jenis tanaman termasuk bakau berakar tunjang atau dikenal dengan mangrove yang masih tersisa di kawasan tersebut cukup subur namun beberapa pohon pantai juga masih tumbuh yang merupakan tanaman lain, di antaranya pohon belah ulu, goropa, perperk, setigi, api-api, kemiri laut, pulut-pulut (Kandelia candel) dan pandan laut. Semua jenis tanaman terebut semakin langka di wilayah pesisir berlumpur karena sebagian lahan telah dimanfaatkan sebagai permukiman penduduk dan sengaja ditebang.

Kelangkaan jenis pohon pantai tersebut diakuinya ikut berpengaruh pada abrasi pantai dan ikut mengurangi sumber habitat alami biota laut yang bisa menjadi sumber mata pencaharian nelayan setempat di antaranya kepiting bakau,berbagai ikan serta kerang lumpur.

Kondisi kerusakan diakuinya diperparah dengan pendangkalan sungai akibat material pasir dan tanah jalan tol Sumatera berimbas muara sungai yang menjadi alur masuk dan keluar perahu nelayan tak bisa digunakan lagi.

“Saya hanya nelayan kecil meski telah melakukan protes termasuk usulan ke pemerintah desa, kecamatan dengan usulan untuk pengerukan sungai yang dangkal namun hingga kini pendangkalan sungai masih terjadi dan tidak mendapat penanganan,” papar Hasanudin.

Permintaan Mangrove untuk Konservasi Hingga ke Wilayah Aceh

Budidaya sekaligus rehabilitasi mangrove Kandelia candel dengan buah yang bisa ditanam dengan cara menancapkan hipokotil (propagul) atau dikenal dengan buah ke lumpur yang teraliri air laut di dekat rumahnya.

Penanaman dengan cara menancapkan buah tersebut diakuinya cukup rapi berjajar dilakukan dengan memilih buah yang sudah tua dengan indukan sengaja dipertahankan oleh Hasanudin.

Proses penanaman dilakukan secara bertahap berdasarkan umur di antaranya tiga bulan, enam bulan dan kurun waktu tertentu. Sebagian merupakan pesanan dari beberapa wilayah yang mulai terkena abrasi.

Mereka membutuhkan tanaman mangrove sebagai pohon rehabilitasi untuk abrasi. Sebagian bibit mangrove yang telah ditanam berdasarkan usia tersebut bahkan terlihat seperti taman bunga menghijau yang sedap di pandang mata.

“Beberapa tempat pemesanan bibit mangrove memesan secara bertahap di antaranya kabupaten Pesawaran,Lampung Timur di Lampung sebagian ke wilayah Riau, Sumatera Barat,Jakarta hingga ke Aceh sudah pernah memesan,” tuturnya.

Pembibitan mangrove diakui Hasanudin awalnya bertujuan untuk melindungi rumahnya bahkan penanaman sengaja dilakukan menyerupai pagar alam di sekeliling pekarangan serta sebagian ditanam dalam lahan yang dipersiapkan sebagai persemaian mangrove miliknya.

Meski sebagai tanaman konservasi dan rehabilitasi lahan ia menyebut saat ini mangrove tersebut tidak dikomersialkan karena ia sengaja mengajak masyarakat memelihara mangrove melindungi pantai dan sekali pengambilan bisa mencapai ratusan bibit.

“Saya tidak pernah menjual namun sebagian kelompok pecinta alam pesisir atau instansi hanya memberikan uang pelihara bibit yang pasti jumlah bibit sudah mencapai jutaan mangrove,” terang Hasanudin.

Tanaman mangrove serta tanaman pesisir pantai jenis Setigi banyak diburu tanpa melakukan rehabilitasi atau proses pembibitan menggunakan biji. Para pemburu itu mencari jalan pintas mencari di alam secara merusak untuk pembuatan bonsai.

Ia berharap masyarakat yang benar benar mencintai lingkungan agar melakukan pemeliharaan tanaman mangrove di pesisir pantai sebagai penahan abrasi bahkan sebagai penahan gelombang tsunami dengan penanaman cemara laut secara berjajar.

Mangrove jenis pulut pulut (Kandelia candel) yang tersisa dipertahankan oleh Hasanudin sebagai indukan untuk benih /Foto: Henk Widi.

 

Lihat juga...