Happy Salma: Perempuan Miliki Kekuatan Dahsyat

JAKARTA – Happy Salma bersama Titimangsa Foundation semakin giat memproduksi pertunjukkan teater. Setelah sukses dengan ‘Bunga Penutup Abad’, kini Happy sebagai produser menggelar pementasan teater ‘Perempuan-Perempuan Chairil’.

“Wow, perempuan memiliki peranan yang penting sekali. Terlihat dalam catatan dan puisi-puisi Chairil banyak nama-nama perempuan memberikan inspirasi dan daya cipta untuk berkarya. Ternyata perempuan memiliki kekuatan yang dahsyat”, kata Happy Salma, kepada Cendana News, usai pementasan teater ‘Perempuan-Perempuan Chairil’ di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (11/11/2017) malam.

Happy diskusi panjang dengan sutradara Agus Noor dan tak bisa memungkiri, jika peran Chairil Anwar memang tepat dilakoni Reza Rahadian. “Reza, lagi, Reza, lagi. Tapi, tak bisa dipungkiri memiliki dedikasi penuh di dalam keaktoran. Reza mau bersungguh-sungguh. Begitu juga dengan Marsha Timothy, Chelsea Islan, Tara Basro, dan Sita Nursanti. “Mungkin fisik mereka tidak sama, tetapi mereka bisa memunculkan roh ke dalam peran-peran yang kita pilih”, ungkapnya.

Baca: Reza Rahadian Lakoni Chairil Anwar di ‘Perempuan-Perempuan Chairil’

Lebih lanjut, Happy menerangkan, Chairil Anwar melalui karya-karyanya, merupakan cermin sejarah untuk memaknai apa arti kemerdekaan manusia, juga kemerdekaan sebuah bangsa. Esensi itulah yang mendorongnya untuk mewujudkan mimpi menampilkan perjalanan hidup Chairil Anwar.

Menurut Happy Salma, lewat puisi-puisinya, Chairil Anwar telah mengambil peran yang tak kecil demi memberi tenaga dan makna pada semangat revolusi dan kemerdekaan negeri ini. “Chairil Anwar mati muda, tetapi karya-karyanya melampaui zamannya. Ia seakan tak pernah mati. Semangatnya selalu ada dan terus hidup bersama kita,” katanya.

Pementasan teater ‘Perempuan Perempuan Chairil’ menampilkan Reza Rahadian sebagai Chairil Anwar. Sementara, para pemeran perempuan yang pernah ada dalam hidup Chairil adalah Marsha Timothy sebagai Ida, Chelsea Islan sebagai Sri Ajati, Tara Basro sebagai Sumirat, dan Sita Nursanti sebagai Hapsah Wiriaredja.

Ada pula dua pemain pendukung, yaitu Sri Qadariatin sebagai perempuan malam dan Indrasitas sebagai pelukis Affandi.

Selama hampir 120 menit, pementasan teater ‘Perempuan Perempuan Chairil’ terdiri empat babak yang menggambarkan hubungan Chairil dengan Ida, Sri, Mirat dan Hapsah.

Setiap sosok memiliki karakteristik yang membuat Chairil jatuh cinta. Ida adalah mahasiswi, penulis hebat, pemikir kritis, dan bisa menyaingi intelektualitas Chairil Anwar ketika mereka berdebat.

Sri Ajati, juga seorang mahasiswi, bergerak di tengah pemuda-pemuda hebat pada zamannya. Dia ikut bermain teater, jadi model lukisan, dan gadis ningrat yang tak membeda-bedakan kawan.

Sumirat, juga seorang yang terdidik yang lincah. Dia tahu benar bagaimana menikmati keadaan, mengagumi keluasan pandangan Chairil Anwar, menerima dan membalas cinta Chairil Anwar dengan sama besarnya. Walaupun, akhirnya cinta itu kandas.

Petualangan cinta Chairil Anwar disadarkan kehadiran Hapsah yang menganggap Chairil Anwar lelaki biasa. Perempuan yang memberi anak pada Chairil Anwar ini berani mengambil risiko mencintai karena tahu lelaki itu akhirnya berubah, meskipun terlambat.

Mereka adalah empat perempuan yang tak sama, dengan empat cerita yang berbeda. Tanpa mengecilkan arti dan peran perempuan lain, tapi lewat cerita empat perempuan ini penonton ‘Perempuan Perempuan Chairil’ bisa mengenal sosok sang pujangga juga dunia yang hendak ia jadikan, serta zaman yang menghidupi dan dihidupinya.

Lihat juga...