Gelar Seni Budaya Pandhalungan Meriahkan HUT Jatim
JEMBER — Ratusan warga memadati Alun-alun Jember menyaksikan Gelar Seni Budaya Pandhalungan yang digelar oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur. Acara yang digelar dalam rangka sosialisasi Perda dan peringati Hari Jadi ke-72 Provinsi Jatim tersebut dipungkasi penampilan Kentrung Djos.
Salah satu pemain Kentrung Djos yang juga komisioner KPU Jawa Timur, Gogot Cahyo Baskoro, mengatakan, ada sejumlah performance budaya pandhalungan pada Gelar Seni Budaya Pandhalungan. “Yang punya gawe DPRD Jatim dalam rangka sosialiasi Perda,” kata Gogot, pemeran Patih Logender dalam lakon ‘Minakjinggo Nagih Janji’ kepada Cendana News, Minggu (5/11/2017).
Alumni FISIP Universitas Jember itu, mengaku senang bisa memerankan sosok Patih Logender. Katanya, pikiran jadi fresh. Dan, bisa berkumpul dengan kawan-kawan seniman. “Saya bebas berekspresi di atas panggung. Beda dengan saat kerja jadi komisioner, harus tampil rapi, bersepatu, dan ngomong harus diatur,” imbuhnya.
Tapi, lanjut Gogot, di panggung juga bisa diberi muatan terkait tugas dirinya selaku komisioner KPU Jatim dengan memberi muatan pemilu dan demokrasi. Dikatakan Gogot, hingga saat ini sudah 5 atau 6 kali performance dengan kawan-kawan Rumah Budaya Pandhalungan (RBP).

Di tengah kesibukannya sebagai komisioner KPU Jatim, Gogot mengaku selama ada waktu dan tidak benturan dengan kantor selalu berupaya ikut serta dalam acara budaya atau kesenian.
Mantan wartawan dan penyiar radio Soka Jember yang memegang program acara siaran campursari ‘LARIS’, Gelar Campursari Soka, mulai 2005 hingga 2014 dan berhenti saat jadi anggota KPU provinsi itu, mengatakan dirinya sebenarnya sudah sejak lama bergaul dengan kawan-kawan komunitas seni di Jember.
“Pada 2 Mei 2015 lalu kawan-kawan mendirikan Rumah Budaya Pandhalungan (RBP), dan saya ikut di dalamnya. Selama ini sudah lumayan sering saya ikut pentas. Entah, berbentuk ketoprak, kentrung, atau konsep teater yang lain,” tuturnya.
Ditambahkan Gogot, semua pemain dan pengrawit (penabuh gamelan) boleh dibilang sudah lumayan profesioanl. Jadi, tidak perlu latihan khusus untuk tampil dalam acara Kentrung Djos dengan lakon ‘Minakjinggo Nagih Janji’ yang digelar Sabtu (4/11/2017) malam kemarin.
“Biasanya, dua-tiga kali latihan langsung jadi, bahkan kemarin praktis hanya malam Sabtu latihan dan malam Minggunya langsung pentas,” imbuhnya.
Dikatakan Gogot, mulai zaman SMA hingga kuliah dulu, dirinya sudah biasa main ketoprak. Dulu ia bergabung dengan group ketoprak Karang Taruna Siswo Taruna Budhaya di Desa Tamanan Sukomoro, Magetan.
Ia bersama kawan-kawan Karang Taruna tampil pada acara desa, HUT RI, bersih desa, dan tidak main tanggapan. Jadi, main kentrung bukan barang baru.
Gogot mengaku senang bisa ikut tampil di panggung, katanya bisa buat hiburan. Kadang, lanjutnya, sampai-sampai harus bantingan biar bisa tampil bareng-bareng.
“Kebetulan banyak kawan-kawan di Rumah Budaya Padhalungan yang tidak hanya seniman murni. Ada dosen, ada wartawan, ada kepala sekolah, owner rumah makan, saya dan lain-lain. Tapi, ada juga yang seniman murni. Kita saling bahu-membahu untuk melestarikan seni,” tegas Gogot yang juga aktif di GP Ansor sebagai Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim.
Adapun acara Gelar Seni Budaya Pandhalungan itu, dibuka Plt Sekretaris Daerah Jember, Mirfano, dihadiri anggota DPRD Jatim, Miftahul Ulum dan M. Eksan dari PKB dan Nasdem. Juga turut hadir jajaran Fokompimda.
Turut memeriahkan Hari Jadi ke-72 Provinsi Jatim dan pentas akbar 35 tahun Kentrung Djos, lakon ‘Minakjinggo Nagih Janji’ dengan Dalang Cak Ilham dan Cak Untung.
Ketika Cendana News menghubungi Cak Ilham melalui pesan pendek belum ada jawaban. Namun, melalui akun facebook-nya, Cak Ilham menyebutkan bukan dirinya yang memberi judul, tetapi yang punya gawe, dalam hal ini DPRD Jatim.
“Para pendukung keseniannya jelas mereka yang sepakat dengan konsep Pandhalungan. Lha, Jember kan memang pendalungan, katanya.
Kentrung Djoss merupakan kelompok kesenian tradisional yang memadukan seni drama, menyanyi, tari, dan musik tradisional dalam penampilannya. Kentrung Djoss dibentuk oleh mahasiswa Fakultas Sastra di 1982. Kelompok Kentrung Djoss ini terkenal di zamannya. Sering tampil di TVRI dan diundang ke sejumlah daerah, termasuk Jakarta.
Selain Kentrung Djos, turut memeriahkan acara Gelar Seni Budaya Pandhalungan, antara lain Musik Cak Partu dan Campursari Gonjang Ganjing Miring, Rumah Budaya Pandhalungan (RBP), Sanggar Kartika Budaya dan Cemara Biru.
Atas suksesnya acara tersebut, melalui akun medsos-nya, Komunitas Pendhalungan mengungkapkan salam santun salam budaya seberapa penting pengetahuan kita terhadap seni dan budaya, ada ungkapan, “Tak kenal maka tak sayang”, bagaimanakah kita bisa menjaga dan melestarikannya jika kita tidak mengenalnya.
Disebutkan, Gelar Seni Budaya Pandhalungan dalam rangka HUT Provinsi Jatim di Alun-alun Jember, telah perform Rumah Budaya Pendalungan menampilkan Kentrung Djos, Sanggar Kartika Budaya, Sanggar Cemara Biru, Campursari Gonjing Miring, Ndalungnesia, juga tampilan Patrol Bekoh Kereng. Hal ini membuktikan betapa banyak keanekaragaman seni budaya yang harus tetap dijaga keberadaannya.
Salah seorang ahli etnomusikologi dari Illinois University Amerika Serikat, Philip Yampolsky, pernah suatu ketika dalam acara Sarasehan Budaya dan Apresiasi Seni Pendalungan di Gedung Keluarga Alumni Universitas Jember (Kauje) di Jember, pada Oktober lalu, mengapresiasi budaya Pendalungan yang tumbuh dan berkembang di daerah ‘Tapal Kuda’, karena dapat menjadi contoh bagaimana dua buah budaya dapat hidup berdampingan, bahkan saling menghormati.
“Dalam budaya Pendalungan, etnis Madura dapat memajukan seni asli Madura-nya, sedangkan mereka yang etnis Jawa juga memajukan seni asli Jawa-nya,” katanya.