Erupsi Gunung Agung Turunkan Omzet Penjualan Mutiara

MATARAM – Selain berdampak terhadap aktivitas penerbangan yang mengalami penutupan dari dan menuju Lombok dalam dua hari terakhir, aktivitas erupsi Gunung Agung juga dirasakan langsung masyarakat khususnya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Akibat erupsi tersebut, omzet penjualan mengalami penurunan drastis dari biasanya. Karena wisatawan, terutama wisatawan mancanegara yang hendak berlibur ke Lombok dari Bali tidak bisa terbang ke Lombok, akibat penutupan bandara.

Fuji Astuti, penjual Mutiara Lombok asal Kota Mataram mengaku, biasa berjualan di bandara di Lombok International Airport (LIA). Selama dua hari belakangan, omzet penjualannya menurun drastis.

“Erupsi Gunung Agung jelas sangat berdampak bagi penjualan mutiara yang kita jual di bandara LIA, karena wisatawan yang berbelanja sedikit. Meski sekarang sudah mulai dibuka, tapi di Bali masih tutup,” kata Fuji di Mataram, Rabu (29/11/2017).

Ia mengaku biasa menjual produk mutiara miliknya di Pasar Seni Senggigi dan bandara LIA, mulai dari mutiara air tawar hingga air laut dengan kisaran harga 50 ribu rupiah per gram untuk air tawar dan 1 juta lebih untuk mutiara air laut.

Diakuinya, sebelum terjadi erupsi, dirinya bisa memperoleh keuntungan sampai jutaan rupiah per hari. Baik itu dari mutiara air tawar maupun air laut. Namun sejak erupsi terjadi, penjualan perlahan menurun. Bahkan hingga hari kedua penutupan bandara, ia tidak mendapatkan penjualan sama sekali.

“Penjualan kita di LIA benar-benar anjlok hampir 100 persen. Tapi mau bagaimana, namanya juga peristiwa alam, tidak bisa kita cegah dan prediksi kapan datang. Bisa terjadi kapan pun,” terangnya. Sementara ini, dirinya dan beberapa UMKM lainnya harus pasrah menunggu kondisi Gunung Agung membaik.

Sebagai solusi supaya bisa tetap jualan, Fuji sementara waktu berjualan di setiap ada kesempatan acara pemerintahan dan kegiatan lain perhotelan termasuk pasar seni, meski tidak begitu menghasilkan omzet yang besar dibandingkan berjualan di bandara LIA.

“Kalau bandara kan selalu ramai dengan orang yang datang dan pergi dari Lombok,” pungkasnya.

Sebelumnya, akibat Erupsi Gunung Agung membuat penerbangan di bandara LIA terpaksa ditutup selama dua hari, yaitu sejak Minggu 26 November hingga Senin 27 2017 dan baru dibuka pada Selasa 28 November 2017.

General Manager Angkasa Pura LIA, Ngurah Ardita mengatakan, penetapan keputusan untuk menutup bandara LIA berdasarkan Notice to Airmen (Notam) atau informasi terbaru mengenai keadaan bandar udara.

“Mempertimbangkan aspek safety akibat erupsi Gunung Agung yang berdampak pada aktivitas penerbangan,” kata Ardita.

Lihat juga...