Danau Air Tawar TMII Siap Lestarikan Ikan Endemik
JAKARTA — Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) diperingati setiap tanggal 5 November. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan manusia.
Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional dimulai pertama kali pada tahun 1993 berdasarkan Kepres Nomor 4 tahun 1993 yang ditandatangani langsung oleh Presiden kedua RI, H.M. Soeharto.
Baca juga: Asyiknya Belajar Jenis Ikan di Danau Air Tawar TMII
Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) dan Hari Ikan Nasional (HARKANNAS) 2017, Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga TMII menggelar diskusi bertema “Menjadi Insan yang Mencintai dan Melestarikan Ikan Endemik Indonesia”.
Staf Karantina dan Budidaya Danau Air Tawar TMII, Muchamad Chatim Mahfur mengatakan, khususnya Danau Air Tawar ini salah satu misinya itu TMII, yakni selain sebagai sarana wisata juga sebagai sarana edukasi.
“Terutama edukasi perikanan air tawar,” kata Chatim begitu sapaan kepada Cendana News di area Danau Air Tawar TMII, Jakarta Timur, Sabtu (25/11/2017).

Pada tahun ini, jelas dia, Danau Air Tawar bagian dari lembaga konservasi mengadakan diskusi ikan endemik. Karena memang banyak hal yang sudah mulai harus ditata dari pengelolaan dari mulai pemerintahan dan lembaga serta pengusaha.
Makanya dalam acara ini ada mengenai kebijakan konservasinya, baik itu dari dunia pendidikan untuk lebih mencintai perairan akademik. Dari pengusaha karena yang memanfaatkan sumber daya ikan ini dari pengusaha.
“Konservasi sendiri adalah pilarnya pelestarian perlindungan dan pemanfaatan ikan secara berkelanjutan,” jelas Chatim yang juga panitia diskusi.
Adapun sebut dia, yang masih perlu ditata dari pengamatan pihaknya, adalah pertama kesadaran masyarakat untuk pengetahui ikan endemik yang masih dilindungi itu masih kurang.
Penataan dari pemerintah juga masih digodok pengaturannya karena dari beberapa pulau yang ada ikan endemiknya itu terlambat untuk mengadakan konservasi.Sehingga kebanyakan diambil oleh negara luar.
“Kita belum siap, UU belum siap. Begitu sudah jalan bisnisnya yang punya orang lain,” ujarnya.
Ikan endemik itu harus dilestarikan. Contohnya, kata Chatim, super red dari Kalimantan Selatan sudah menjadi rebutan dalam kancah pemasaran. Begitu juga di Papua dan Irian Jaya, aturannya belum ketat kebanyakan yang memanfaatkan malah pihak luar.
“Kita adakan acara ini biar ada sinergi terintegrasi antara pihak pengusaha dan pemerintah memberitahu kalau ikan-ikan endemik yang hampir punah yang harus kita lindungi,” ungkapnya.

Melestarikan satwa tegas dia, berarti menjaga keanekaragaman hayati. Sebagai bagian dari keanekaragaman hayati merupakan modal penting bagi pemenuhan kebutuhan dasar manusia serta penjaga keseimbangan ekosistem. Apalagi Indonesia menjadi salah satu negara megabiodiversity di dunia. Hal ini sangat berkaitan dengan penetapan tahun 2010 sebagai Tahun Internasional Biodiversity yang dideklarasikan PBB.
Menurutnya, TMII ini wadah edukasii seni budaya bangsa yang bisa dinikmati dan dilestarikan. “Ikan pun harus dilestarikan. Danau Air Tawar siap melestarikan aneka jenis ikan endemik Indonesia di TMII ini dengan berbagai program dan juga diskusi ini,” pungkas Chatim.