Coklat Jembrana Sabet Penghargaan Cocoa Exellence 2017

DENPASAR – Komoditas coklat (kakao) yang dihasilkan Koperasi Kerta Semaya Samania , Kabupaten Jembrana, Bali, berhasil menyabet penghargaan coklat dunia dari Cocoa Exellence 2017.

Penghargaan yang diterima oleh kelompok petani Koperasi Kerta Semaya Samania adalah pengakuan dari sertifikasi dunia bidang kakao. “Untuk memperoleh penghargaan tersebut ada kriteria tertentu yang ditetapkan oleh penyelenggara ajang Cocoa Exellence,” kata Direktur Yayasan Kalimajari Denpasar Agung Widiastuti di Pakutatan, Jembrana, Bali, Sabtu (25/11/2017).

Widiastuti selaku pendamping Koperasi Kerta Semaya Samania mengatakan, penghargaan Cocoa Exellence  merupakan ajang bergengsi dalam sektor perkebunan coklat. Salah satu untuk menjadi peserta adalah biji coklat memiliki kekhasan dan coklat asal Jembrana kekhasan itu ada pada aromanya. Sehingga pihak koperasi pun mengirimkan sampel coklat ke pihak panitia penyelenggara penghargaan tersebut.

Di 2017, ajang tersebut diikuti peserta dari 66 negara di dunia dengan 166 sampel coklat. “Sampel coklat dari Jembrana masuk lima puluh besar, sehingga berhak menyabet penghargaan tersebut,” tambahnya.

Kelompok tani coklat yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samania saat ini berjumlah 35 subak abian (kelompok tani tradisional Bali) dengan anggota 558 petani. Sedangkan luas lahan perkebunannya mencapai 600 hektare lebih. Waktu mengirim sampel itu menggunakan coklat milik petani Made Sugandi. Namun yang mendaftarkan adalah pihak koperasi ke panitia tersebut.

“Kelebihan coklat di Kabupaten Jembrana dari hasil penelitian memiliki kekhasan, yakni pada aroma, buah, bunga, rempah dan madu. Ini bisa terjadi karena penanaman coklat tersebut juga ditentukan dari kontur tanah, termasuk juga sistem tumpang sari,” ucapnya.

Menurut Widiastuti, tanaman coklat memerlukan penaung atau pelindung dari tanaman lain. Maka dari itu, petani coklat di Jembrana menggunakan sistem tumpang sari. Perkebunan coklat Jembrana memiliki ciri khas tumpang sari dengan petani menanam pohon pisang, kelapa, termasuk juga petani membuat kotak rumah lebah.

Widiastuti mengatakan petani yang tergabung dalam koperasi ini pendapatannya sudah ada peningkatan dibanding enam tahun lalu sebelum ada pendampingan dari Yayasan Kalimajari.

“Kami terus melakukan sosialisasi dan memotivasi para petani agar mampu menghasilkan biji coklat berkualitas. Tujuan dari yayasan kami tidak semata-mata meningkatkan kualitas coklat, tetapi bagaimana upaya melestarikan coklat ini untuk generasi selanjutnya di Jembrana,” ucap wanita asal Desa Sangeh, Kabupaten Badung tersebut.

Hasil petani coklat Jembrana sekarang sudah ada peningkatan, baik dari jumlah maupun kualitas. Dari sisi kualitas, komoditasnya sudah siap di ekspor di pasar dunia dan hal tersebut saat ini sudah dikerjasamakan dengan pembeli dari luar negeri. (baca : https://www.cendananews.com/2017/11/komoditas-coklat-jembrana-tembus-pasar-perancis.html)

Sementara itu, seorang petani coklat asal Pulukan, Ketut Sukarta menyebut, pendampingan dari Yayasan Kalimajari menjadikan petani di Jembrana semakin bergairah untuk bertani. “Dahulu penjualan coklat hanya mengandalkan dari tengkulak yang harganya sangat jauh dibanding sekarang di beli oleh Koperasi Kerta Semaya Samania,” tandasnya. (Ant)

Lihat juga...