Bullying Sisi Psikologis Masih Marak Terjadi

PADANG – Bullying yang mensasar psikologis korban masih cukup sering terjadi di tengah masyarakat. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sumatera Barat (Sumbar) hingga kini masih mencoba melakukan penelusuran data terkait persoalan tersebut.

Ketua P2TP2A Sumbar Nevi Irwan Prayitno mengatakan, P2TP2A belum memiliki data yang pasti terkait bullying yang dialami oleh anak-anak di Sumbar. “Dari pantuan yang diamati selama ini, bullying cukup sering dialami oleh anak-anak dengan mensasar psikologi dari korban,” ungkapnya saat bersama Duta Bully Internasional Harris J di ruangan VIP Bandara Internasional Minangkabau, Senin (6/11/2017).

Bullying terhadap psikologi diantaranya seperti ungkapan yang dilontarkan pelaku terhadap korban dengan kata-kata cemo’oh atau mengejek. Seperti sebutan bagi seseorang yang gendut, soal kulit, dan yang yang lainnya. Hal tersebut secara tidak langsung telah membuat psikologi korban merasa di bully.

Tindakan bully psikologi banyak terjadi pada anak-anak. Dan hal tersebut harus diminimalisir dan segera ditangani karena dampak bully sangat buruk bagi perkembangan anak-anak baik dari sisi fisik maupun psikologis.

Bully bisa menjadi mimpi buruk bagi perkembangan karakter anak. Bahkan dapat mempengaruhi pendidikan berkarakter anak.  Untuk itu, sebagai upaya menekan tindakan bullying di Sumatera Barat, P2TP2A gencar memberikan sosialisasi dan penanaman sejak dini untuk menjauhi tindakan tersebut.

Salah satu realisasi dari kegiatan yang dilakukan adalah akan ada seminar pada Selasa 7 November 2017 di Universitas Negeri Padang.  “Kita adakan seminar anti bullying dan anti narkoba pada siswa SD dan SMP di GOR Universitas Negeri Padang (UNP) bekerjasama dengan Yayasan Sejiwa. Selanjutnya konser Stop Bullying di Auditorium UNP, sekaligus deklarasi anti bully,” ujarnya.

Sementara itu, Duta Bully Internasional Harris J mengatakan berbicara soal bully, memang di zaman yang serba canggih ini aksi bullying cukup sering terjadi, terutama di media sosial. Alasan itulah, dirinya memilih Sumatera Barat menjadi lokasi aksi stop bullying dan sekaligus bersosialisasi bahaya dari tindakan bully tersebut.

“Saya juga sering mengalami bully. Tapi saya tidak begitu menanggapinya dengan serius. Bahkan, ada para sahabat atau orang yang saya temui mengalami bully, sering saya nasehati untuk tidak membalas bully yang terjadi, akan tetapi mencoba untuk tenang,” jelasnya.

Pelantun tembang Salamualaikum yang berasal dari Inggris tersebut berharap, agar masyarakat bisa sadar bahwa aksi bully telah membuat karakter seseorang menjadi buruk, dan merusak kepercayaan diri. Hal ini disebabkan yang terdampak adalah sisi  psikologi dan juga fisik. “Selain bersosialisasi, pada acara besok itu, saya akan memberikan semangat bagi remaja di Kota Padang,” ujarnya.

Lihat juga...