LAMPUNG – Pasokan air berlimpah dari Gunung Rajabasa melalui Sungai Way Asahan menjadi berkah tersendiri bagi petani dan masyarakat di wilayah Kecamatan Penengahan dan Palas dengan sistem pompanisasi menggunakan selang kebutuhan air untuk lahan pertanian dan perikanan masyarakat.
Felix (38) anggota kelompok budidaya ikan (Pokdakan) Asahan Jaya menyebut, pemanfaatan air untuk budidaya ikan terus dikembangkan di wilayah tersebut seiring dengan upaya warga dan pemerintah desa menggerakkan ekonomi produktif.
Bermula dari keberadaan lahan yang masih luas Felix bersama beberapa anggota kelompok budidaya ikan lain bahkan mulai memanfaatkan tiga jenis kolam ikan air tawar diantaranya kolam tanah, kolam terpal, dan kolam tembok permanen dengan semen. Sistem penggunaan kolam yang dibuat berukuran masing-masing 2 meter dengan ketinggian bervariasi dari setengah hingga satu meter. Awalnya dikerjakan secara gotong royong secara bergantian antaranggota kelompok.

Lima tahun berjalan, setiap anggota kelompok mulai memperoleh pelanggan tetap ikan lele sangkuriang sebagai bahan konsumsi rumah tangga, warung makan, pecel lele serta berbagai acara masyarakat yang memerlukan lauk lele sangkuriang. Permintaannya pun secara berkelanjutan diantaranya permintaan rata-rata per hari 50 hingga 100 kilogram untuk sejumlah warung pecel lele di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.
Bermula dari mencari bibit lele dari luar kecamatan, budidaya lele sangkuriang milik kelompok mulai diarahkan ke budidaya konsumsi langsung dan budidaya pembenihan atau penyediaan bibit dengan tujuan produksi ikan lele sangkuriang di wilayah tersebut tidak terputus. Anggota kelompok yang terdiri dari beberapa pembudidaya tersebut rata-rata memiliki kolam terpal, kolam tanah dan kolam tembok.

Usaha budidaya ikan lele sangkuriang diakuinya memiliki prospek cukup baik dengan banyaknya usaha kuliner memanfaatkan lele sebagai sajian bahkan semakin didukung dengan proyek pengerjaan Jalan Tol Trans Sumatera. Di tempat itu pekerja banyak membutuhkan konsumi sistem pesanan pada sejumlah warung. Permintaan yang cukup banyak selain untuk kebutuhan lokal diakui Felix juga dikirim ke wilayah Banten dan Tangerang oleh pengepul ikan yang masih anggota pokdakan tersebut.
“Salah satu kendala pembudidaya ikan adalah upaya distribusi hasil panen sehingga kita melakukan manajemen pendistribusian berkelanjutan bekerjasama dengan pedagang kuliner agar produksi lele kita ada pemasoknya,” beber Felix.
Selain dipergunakan sebagai pasokan pasar lokal untuk konsumsi dengan rata-rata panen setiap triwulan antaranggota kelompok 3 ton ia mengantisipasi proses kelangkaan lele hingga membanjirnya lele dengan pola pembudidayaan terjadwal. Pola tebar padat terjadwal diakuinya menghindari sesama anggota Pokdakan panen bersamaan, sehingga diatur waktu penebaran bibit agar jeda panen bisa dilakukan setiap bulan.
Selain untuk konsumsi langsung dalam waktu dekat dengan adanya pelatihan dari penyuluh perikanan pokdakan tersebut diharapkan mampu memproduksi lele sebagai bahan baku pembuatan abon lele dan keripik lele yang menjadi camilan. Camilan tersebut selain bisa meningkatkan nilai jual sekaligus memanfaatkan kelebihan produksi lele sangkuriang yang dibudidayakan warga.

“Budidaya ikan yang beragam mengantisipasi permintaan konsumen yang berbeda selera dalam konsumsi ikan sehingga tidak hanya satu jenis ikan yang dibudidayakan,” beber Hariri.
Sebagai salah satu sumber ekonomi produktif budidaya ikan diakuinya sangat dianjurkan. Selain keberadaan air yang melimpah dan musim hujan, saat ini gerakan gemari atau gemar makan ikan sesuai program Kementerian Kelautan dan Perikanan juga harus ikut didukung dengan pasokan ikan yang tercukupi di masyarakat. Pola pemeliharaan yang cepat dengan nilai jual ikan lele dan patin seharga Rp15.000 per kilogram, pembudidaya ikan bisa memperoleh hasil belasan juta dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan. Asumsi hasil per anggota kelompok mencapai satu ton.