Budidaya Lele Sangkuriang, Pilihan Warga Pedesaan

LAMPUNG – Pasokan air berlimpah dari Gunung Rajabasa melalui Sungai Way Asahan menjadi berkah tersendiri bagi petani dan masyarakat di wilayah Kecamatan Penengahan dan Palas dengan sistem pompanisasi menggunakan selang kebutuhan air untuk lahan pertanian dan perikanan masyarakat.

Felix (38) anggota kelompok budidaya ikan (Pokdakan) Asahan Jaya menyebut, pemanfaatan air untuk budidaya ikan terus dikembangkan di wilayah tersebut seiring dengan upaya warga dan pemerintah desa menggerakkan ekonomi produktif.

Bermula dari keberadaan lahan yang masih luas Felix bersama beberapa anggota kelompok budidaya ikan lain bahkan mulai memanfaatkan tiga jenis kolam ikan air tawar diantaranya kolam tanah, kolam terpal, dan kolam tembok permanen dengan semen. Sistem penggunaan kolam yang dibuat berukuran masing-masing 2 meter dengan ketinggian bervariasi dari setengah hingga satu meter. Awalnya dikerjakan secara gotong royong secara bergantian antaranggota kelompok.

Felix anggota Pokdakan Asahan Jaya memeriksa beberapa kolam budidaya ikan lele sangkuriang miliknya dengan kolam tembok. [Foto: Henk Widi]
“Beberapa anggota memang ada yang masih tahap belajar namun sebagian sudah melakukan budidaya ikan lele jenis sangkuriang, patin dan ikan gurami. Meski dominan warga melakukan budidaya lele sangkuriang karena lebih cepat panen setelah tiga bulan hingga empat bulan,” terang Felix, warga Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan, salah satu anggota Pokdakan Asahan Jaya saat ditemui Cendana News tengah melakukan penyortiran benih lele sangkuriang miliknya, Jumat (17/11/2017).

Lima tahun berjalan, setiap anggota kelompok mulai memperoleh pelanggan tetap ikan lele sangkuriang sebagai bahan konsumsi rumah tangga, warung makan, pecel lele serta berbagai acara masyarakat yang memerlukan lauk lele sangkuriang. Permintaannya pun secara berkelanjutan diantaranya permintaan rata-rata per hari 50 hingga 100 kilogram untuk sejumlah warung pecel lele di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.

Bermula dari mencari bibit lele dari luar kecamatan, budidaya lele sangkuriang milik kelompok mulai diarahkan ke budidaya konsumsi langsung dan budidaya pembenihan atau penyediaan bibit dengan tujuan produksi ikan lele sangkuriang di wilayah tersebut tidak terputus. Anggota kelompok yang terdiri dari beberapa pembudidaya tersebut rata-rata memiliki kolam terpal, kolam tanah dan kolam tembok.

Pasokan air lancar dan melimpah bagian pekarangan dimanfaatkan untuk budidaya lele sangkuriang. [Foto: Henk Widi]
Sistem tebar padat diakuinya lebih efektif dilakukan melalui proses penyortiran ikan lele yang sudah dipisah dari kolam pembenihan dengan kolam berukuran sekitar 2 x 3 meter dengan kedalaman 1 meter. Felix dan pembudidaya ikan lain menebar benih ikan lele dari mulai 1.500 hingga 2.000 ekor yang bisa dipanen mencapai 1,5 ton hingga 2 ton. Penerapan sistem biofloc juga diterapkan pada beberapa kolam meski penggunaan kolam persegi empat tetap dipergunakan akibat kolam lingkaran belum umum digunakan di wilayah tersebut.

Usaha budidaya ikan lele sangkuriang diakuinya memiliki prospek cukup baik dengan banyaknya usaha kuliner memanfaatkan lele sebagai sajian bahkan semakin didukung dengan proyek pengerjaan Jalan Tol Trans Sumatera. Di tempat itu pekerja banyak membutuhkan konsumi sistem pesanan pada sejumlah warung. Permintaan yang cukup banyak selain untuk kebutuhan lokal diakui Felix juga dikirim ke wilayah Banten dan Tangerang oleh pengepul ikan yang masih anggota pokdakan tersebut.

“Salah satu kendala pembudidaya ikan adalah upaya distribusi hasil panen sehingga kita melakukan manajemen pendistribusian berkelanjutan bekerjasama dengan pedagang kuliner agar produksi lele kita ada pemasoknya,” beber Felix.

Selain dipergunakan sebagai pasokan pasar lokal untuk konsumsi dengan rata-rata panen setiap triwulan antaranggota kelompok 3 ton ia mengantisipasi proses kelangkaan lele hingga membanjirnya lele dengan pola pembudidayaan terjadwal. Pola tebar padat terjadwal diakuinya menghindari sesama anggota Pokdakan panen bersamaan, sehingga diatur waktu penebaran bibit agar jeda panen bisa dilakukan setiap bulan.

Selain untuk konsumsi langsung dalam waktu dekat dengan adanya pelatihan dari penyuluh perikanan pokdakan tersebut diharapkan mampu memproduksi lele sebagai bahan baku pembuatan abon lele dan keripik lele yang menjadi camilan. Camilan tersebut selain bisa meningkatkan nilai jual sekaligus memanfaatkan kelebihan produksi lele sangkuriang yang dibudidayakan warga.

Lele sangkuriang dengan usia berbeda mulai satu bulan hingga tiga bulan dipisahkan ke beberapa kolam. [Foto: Henk Widi]
Selain pokdakan Asahan Jaya, kelompok budidaya ikan air tawar di Desa Padan, Pokdakan Tirta Rajabasa Utama yang diketuai oleh Hariri juga mulai melakukan penebaran ikan jenis patin di kolam kelompok. Meski demikian, ia mengaku, sebagian anggota kelompok juga membudidayakan ikan lain jenis lele sangkuriang, gurame dan nila. Hasil penjualan ikan sebagian dipakai mengisi uang kas kelompok, modal pakan, bibit dan pengembangan kolam baru.

“Budidaya ikan yang beragam mengantisipasi permintaan konsumen yang berbeda selera dalam konsumsi ikan sehingga tidak hanya satu jenis ikan yang dibudidayakan,” beber Hariri.

Sebagai salah satu sumber ekonomi produktif budidaya ikan diakuinya sangat dianjurkan. Selain keberadaan air yang melimpah dan musim hujan, saat ini gerakan gemari atau gemar makan ikan sesuai program Kementerian Kelautan dan Perikanan juga harus ikut didukung dengan pasokan ikan yang tercukupi di masyarakat. Pola pemeliharaan yang cepat dengan nilai jual ikan lele dan patin seharga Rp15.000 per kilogram, pembudidaya ikan bisa memperoleh hasil belasan juta dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan. Asumsi hasil per anggota kelompok mencapai satu ton.

Lihat juga...