Aset Wisata Bernilai Ratusan Juta Rupiah Ditelantarkan Pemda Sikka
MAUMERE — Dua bangunan permanen serta tiga buah pondok (Lopo) beratap ilalang serta bak air berukuran besar yang dibangun dinas Kebudayaan dan Pariwisata di pesisir pantai Wairterang desa Wairterang kecamatan Waigete bernilai ratusan juta rupiah dibiarkan terlantar sejak tiga tahun silam.
Bangunan yang diperuntukan sebagai tempat wisata ini tidak pernah dimanfaatkan sehingga lokasi dengan luas sekitar 2.500 meter persegi ini hanya dijadikan sebagai tempat parkir kendaraan pengunjung pantai wisata.

Penjabat Kepala Desa Wairterang, Frumensia da Tae menyebutkan, memang ada keinginan dari Pemda Sikka untuk menyerahkan pengelolaan aset wisata ini kepada pihak desa. Namun hingga saat ini, perjanjian kerjasamanya belum diserahkan sehingga pihaknya tidak berani mengelolanya.
Frumensia akui, pernah didatangi staf dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Sikka terkait MoU pemanfaatan aset Pemkab yang dikenal dengan aset eks Praja tersebut namun hingga sekarang belum ada realisasinya. Padahal tempat tersebut sudah dibersihkan dan bangunan sudah dicat oleh pihaknya.
“Bila sudah ada perjanjian kerjasama kami akan kerahkan kelompok Sadar Wisata yang sudah lama terbentuk di desa untuk mengelola tempat wisata tersebut agar bisa mendatangkan pendapatan bagi desa dan Pemda Sikka,” ungkapnya.
Di tempat terpisah, Kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Sikka Drs. Kensius Didimus membenarkan bahwa pihaknya akan menyerahkan pengelolaan aset wisata ini kepada pihak desa Wairterang.
Kensius berjanji dalam waktu dekat akan segera membuat perjanjian kerjasama agar pengelolaannya bisa segera terlaksana. Bila berlarut-larut maka akan semakin rusak parah dan membutuhkan banyak biaya untuk perbaikan kembali.
Sementara itu, Hendrikus Sina salah seorang warga yang ditemui Cendana News, Sabtu (25/11/2017) di lokasi menjelaskan, memang sejak dibangun, fasilitas yang diperuntukan bagi pengunjung tempat wisata pantai Wairterang ini tidak pernah diurus.
“Kasihan anggaran yang sudah dikucurkan sepertinya tidak ada gunanya padahal bila dikelola bisa mendatangkan pendapatan bagi daerah,” sesalnya.
Disaksikan Cendana News, sebuah ranting pohon Jamblang berukuran besar patah dan menindih bangunan beratap seng yang dipergunakan sebagai tempat mengganti pakaian serta merusak atap dan bangunan kamar mandi di sekitarnya.

Selain itu, tiga buah bangunan Lopo yang ada dan berada persis di bibir pantai atapnya sudah terlepas sebagian serta sekeliling lokasi tempat wisata ini dipenuhi dengan rerumputan dan ranting-ranting pohon Jamblang bekas dipangkas.
Keran air yang ada di kamar mandi pun sudah hilang dan bagian dalam lantai bangunan dipenuhi dedaunan dan sampah termasuk bekas botol air mineral. Bak air berukuran panjang 4 meter dan tinggi 3 meter masih kokoh berdiri dan cat temboknya masih terlihat jelas termasuk pos jaga di bagian depan pintu masuk.