Menikmati Keseruan Wisata Perahu Gupit Watu Mejo
PACITAN — Berwisata menyusuri sungai ditambah panorama indah menjadi kenikmatan sendiri. Selain mensyukuri ciptaan Tuhan, sekaligus merenggangkan saraf yang tegang karena aktivis rutin sehari-hari.
Untuk di Kabupaten Pacitan Jawa Timur, salah satu destinasi yang dapat dinikmati saat akhir pekan yakni Wisata Perahu Gupit Watu Mejo, Desa Kembang, Kecamatan Pacitan.
Berjarak tiga kilometer dari pusat kota, wisatawan tidak hanya diajak menaiki perahu dan menikmati arus sungai tapi juga dimanjakan dengan keindahan bukit gupit watu mejo.
Salah satu pemilik perahu, Yanto saat ditemui mengatakan, wisatawan diajak mengarungi sungai sejauh enam km, dari sungai Grindulu sampai Kebun Agung.
“Berangkat dari sungai Grindulu sampai ke muara sungai ke laut,” jelasnya kepada Cendana News, Minggu (29/11/2017).
Di sepanjang aliran sungai ini, wisatawan tidak hanya disuguhi aliran yang tenang namun juga bisa merasakan aliran deras pertemuan antar sungai dan laut. Bahkan diakhir perjalan perahu, wisatawan juga diajak ke laut.
Terutama saat terjadi air laut pasang dan angin kencang, perahu wisatawan juga bisa merasakan deburan ombak khas pantai selatan yang terkenal tinggi dan ganas. Namun para pemandu wisata sudah mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membawa wisatawan berkeliling.
Berbeda dengan wisata perahu yang biasanya air tenang, disini aliran air cukup deras. Penumpang perahu biasanya juga dilengkapi dengan jaket pelampung. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari musibah atau kecelakaan wisatawan saat jatuh ke air.
Objek yang baru dibuka sejak sembilan bulan lalu ini, merupakan gagasan dari kepala desa guna menambah pemasukan bagi warga. Ada sepuluh perahu yang dipersiapkan. Sebelumnya, para nelayan juga diberi bekal wawasan bagaimana menjadi pemandu wisata dari dinas terkait dan juga perangkat desa.
“Satu orang bayar Rp 15 ribu kalau 10 orang, kalau dibawah tiga orang per orang Rp 75 ribu,” ujarnya.
Perahu warga selain digunakan untuk wisata setiap akhir pekan juga digunakan untuk melaut. Hal ini dimaksudkan untuk menambah perekonomian warga sekitar.
“Sebenarnya setiap hari kami melayani wisatawan, tapi paling ramai Sabtu dan Minggu,” tandasnya.

Salah satu wisatawan, Gayuh Satria (29 tahun) warga asal Ponorogo ini misalnya mengaku ketagihan dengan wahana wisata satu ini. Ia membandingkan dengan wisata perahu Ngebel, Ponorogo, menurutnya disini lebih menantang.
“Kalau di Ngebel kan telaga ya, jadi airnya tenang, kalau disini lebih seru, ada aliran air yang deras saat naik perahu,” pungkasnya.