Adie Massardi: Korupsi di Indonesia Sudah ‘Trias Koruptika’
JAKARTA – Menarik sekali, ada sebuah istilah baru yang disampaikan Adie Massardi dalam diskusi publik bertajuk ‘Babak Akhir Jumbo Korupsi e-KTP 2,3 T: Siapa Susul Setnov?’, bahwa Yudikatif, Legislatif dan Ekekutif, sekarang disebutnya bukan lagi Trias Politika, tapi Trias Korupsia, karena semuanya korup, tidak ada yang tidak!
“Saudara-saudara sekalian, saya ingin mengingatkan kembali mengenai kasus korupsi, kita lihat perilaku korupsinya memang sekarang benar-benar semakin kompleks,” kata Adie Massardi, pembicara dalam diskusi publik bertajuk ‘Babak Akhir Jumbo Korupsi e-KTP 2,3 T: Siapa Susul Setnov’ di Restoran Ayam Goreng Suharti, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Rabu (29/11/2017).

Lebih lanjut, Adie menerangkan, Kalau Zaman dulu korupsinya hanya satu level di tingkat pelaksanaan, tapi sekarang dua level, yaitu di tingkat perencanaan dan tingkat pelaksanaan, prosentasenya perencanaan 30 persen, pelaksanaan 30 persen, dan mata anggaran 40 persen. “itu juga kalau bener, sebab kalau anggaran partai lebih dari itu”, katanya.
Menurut Adie, jenis korupsi berdasarkan mata anggaran, mata anggarannya e-KTP ya e-KTP, mata anggarannya Al Quran, ya Al Quran, mata anggarannya laptop, ya laptop. “Semua mata anggaran, semuanya mata anggaran tidak ada yang lolos, semua dikorupsi. Selalu ada swasta, regulator, pengawas, yudikatif, legislatif dan ekekutif, “ ungkap mantan juru bicara Presiden, KH Abdurrahman Wahid.
Kalau soal pelaku korupsinya, sambungnya, memang rata-rata seperti itu, sudah Trias Koruptika, di yudikatif, legislatif dan ekekutif. “Semuanya korup, tidak ada yang tidak!“ tegas aktivis Komite Bangkit Indonesia dan Gerakan Indonesia Bersih.
Adie memaparkan, kalau masuk ke rezim pemilu, yang dipelopori oleh SBY dengan survey, iklan dan lain-lain, politik yang high cost saat ini biaya politik memang sangat tinggi. “Yang dulu masuk politik dengan modal sosial, tapi sekarang harus ada modal finansial,” tandasnya.