PADANG — Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang hadir sebagai bagian dari program inklusi keuangan nasional yang digagas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK, dalam waktu dekat akan melakukan terobosan untuk meningkatkan perekonomian para petani, terutama bagi petani bawang yang ada di Alahan Panjang, Kabupaten Solok.
Pelaksana Tugas Kepala OJK Sumbar Darwisman mengatakan dengan hasil produksi petani bawang di Alahan Panjang yang mampu menjadi penyangga kebutuhan bawang di wilayah Sumatera, merupakan sebuah hal yang sangat potensi untuk diberi dukungan dalam hal permodalan pengembangan usaha bertaninya.
“Dari data yang saya peroleh, ada sekira 6.850 jumlah petani bawang di Alahan Panjang. Dengan jumlah yang ada itu, produksi bawang di Alahan Panjang telah mampu mengirimkan bawang ke sejumlah derah di Sumatera, setelah memenuhi kebutuhan bawang di Sumbar sendiri,” katanya, Senin (30/10/2017).
Ia menyebutkan, TPAKD yang hadir sebagai memberikan percepatan akses keuangan, nantinya akan membantu melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan juga berkoloborasi dengan lembaga asuransi seperti Askrindo dan Jamkrindo, serta juga tidak tertutup kemungkinan akan ada lembaga asuransi lainnya yang akan ikut bergabung.
Menurutnya, dengan adanya akses keuangan ini petani bisa melakukan pengembangan usaha taninya seperti memperluas lahan dan hal lainnya. Alasan TPAKD menilai perlu adanya dibantu akses keuangan bagi petani bawang di Alahan Panjang, karena untuk di Alahan Panjang sendiri belum ada lembaga yang memantau perkembangan harga bawang.
Karena belum adanya lemabga, konsekuensinya harga yang ada dipasar tidak sesuai dengan kondisi penghasilan petani. Misalanya harga bawang di pasaran Rp15.000 per kg nya, sementara petani hanya menikmati harga bawangnya hanya Rp8.000 per kg nya.
“Jadi skema untuk memberdayakan petani bawang ini tengah kita bahas lebih lanjut. Kita di TPAKD kan mengupayakan diluncurkan tahun ini. Namun apabila juga belum selesai soal skemanya, kemungkinan peluncurandilakukan pada 2018 mendatang,” ucapnya.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumbar, Candra mengatakan, saat ini Pemprov tengah mengupayakan perluasan lahan kebun bawang merah. Hasil produksi bawang yang ada di Kabupaten Solok per haktarenya, mampu menghasilkan 15 ribu ton bawang merah tiap tahunnya.
“Dari hitungan kita, produksi bawang merah di Sumbar mencapai 72 ribu ton, jumlah produksi itu melebihi (surplus) kebutuhan yang hanya 30 ribu ton per tahunnya,” katanya.
Candra menjelaskan, untuk sisa dari produki bawang yakni 42 ribu ton bawang merah dikirim ke luar daerah, seperti ke Karamat Jati, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi, dengan jumlah 200 ton tiap harinya dikirim ke daerah tersebut. Kondisi demikian, Kementerian Pertanian berharap kepada Sumbar agar menjadi sentra bawang merah di Sumatera.
“Jadi Kementrian Pertanian telah menyampaikan keinginan agar Sumbar menjadi sentra bawang putih untuk di Sumatera. Tentunya hal ini akan kita penuhi, dengan cara terus menambah luas lahan perkebunan bawang merah,” ujarnya.
Ia menyebutkan, kedepan, lahan perkebunan bawang merah di Sumbar akan bertambah seluas 250 ha dari lahan yang ada saat ini hampir mencapai 10 ribu haktare perkebunan bawang merah. Namun, kata Candra, untuk menambahan lahan itu akan dilakukan secara bertahap, yakni untuk tahun 2018 lahan perkebunan bawang merah di Sumbar seluas 59 haktare.
Ia menyebutkan, di Sumbar tidak semua daerah yang memiliki perkebunan bawang merahnya. Saat ini yang ada di Kabupaten Solok di tiga kecamatan, lalu juga ada di Kabupaten Tanah Datar, Padang Pariaman, dan di Kabupaten Pesisir Selatan.
Sementara itu, Wakil Gubernur SUmbar Nasrul Abit mengatakan untuk meningkatkan produksi petani bawang, salah satu yang bisa dilakukan ialah dengan cara menggunakan mesin sebagai pendukung pertanian. Hal tersebut akan mampu untuk mempercepat kinerja petani, sehingga hasil yang didapatkan lebih maksimal.
“Tidak hanya itu kita harapkan agar petani bawang menggunakan bibit dan pupuk yang telah disarankan oleh instansi terkait. Karena, pemerintah turut membantu petani supaya tumbuh dan menghasilkan bawang yang bagus,” ujarnya.
