OLEH MANAF MAULANA
GENERASI milenial di zaman sekarang mau tidak mau harus berhadapan dengan persaingan global yang membutuhkan daya kreatif. Dalam hal ini, apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk membantu anak-anak bangsa yang nota bene generasi milenial?
Pertanyaan tersebut selayaknya direspons positif oleh pemerintah. Dalam hal ini, ISI (Institut Seni Indonesia) selayaknya dibuka di semua kabupaten agar Indonesia tidak semakin tertinggal dalam bidang pengembangan industri kreatif (seni budaya) dibanding dengan negara-negara lain.
Selama ini, ranah seni budaya hanya dipandang sebelah mata oleh pemerintah daerah, padahal seni budaya menjadi salah satu andalan bagi Indonesia untuk membangun citra bangsa di mata dunia dan juga untuk memperkokoh perekonomian kita.
Jika ISI bisa diperbanyak, generasi muda peminat seni di seluruh pelosok daerah mungkin akan bergairah untuk belajar kreatif, tidak hanya di bidang seni tapi di bidang-bidang lain. Selama ini banyak peminat seni yang kesulitan belajar seni karena semua sekolah umum minus guru seni. Bahkan banyak orang tua yang keberatan merestui anaknya yang hendak belajar seni karena menganggapnya kurang gaul.
Di sejumlah kabupaten, di setiap provinsi, sarjana seni yang menjadi guru negeri masih langka. Dan kelangkaan sarjana seni yang menjadi guru di sekolah umum menjadi kendala utama pengembangan seni budaya, terutama pengembangan industri kreatif yang memerlukan stimulasi kreatif sejak dini.
Kini sudah saatnya setiap sekolah (SD, SLTP, SLTA) seharusnya memiliki minimal satu guru seni bergelar sarjana seni untuk mengajar mata pelajaran seni yang layak dikembangkan juga untuk melengkapi mata pelajaran lainnya.
Diplomasi Budaya
Tanpa mengecilkan bidang lain, bidang seni harus diakui sebagai bidang yang paling menarik bagi bangsa-bangsa lain untuk datang (belajar) di Indonesia. Sebab, telah terbukti, sejumlah lulusan sekolah seni dari negara-negara lain kini menjadi pakar seni atau seniman kondang yang memperkaya citra bangsanya. Misalnya di Amerika, Eropa, dan sejumlah negara Asia, Afrika dan Australia, semua pakar gamelan dapat dipastikan alumni Indonesia yang kini menjadi patron diplomasi budaya antarbangsa.
Jika semua pemerintah daerah di setiap provinsi memang benar-benar ingin mengembangkan bisnis pariwisata, juga tidak bisa meremehkan pengembangan kesenian, karena pariwisata identik dengan kesenian. Dan semua tentu setuju, betapa Bali dan Yogya misalnya begitu eksotik bagi turis asing bukan cuma karena alamnya yang indah tapi lebih-lebih karena seni budayanya sangat kaya.
Untuk ke depan, diplomasi budaya tak bisa dipisahkan dari bisnis pariwisata, dan karena itu setiap propinsi layak memproduksi sarjana seni sebanyak-banyaknya untuk mengisi kekosongan di sejumlah daerah di dalam negeri maupun “diekspor” ke berbagai negara untuk menjadi tenaga pengajar di lembaga-lembaga pendidikan.
Diplomasi budaya akan menjadi satu-satunya ujung tombak untuk mempromosikan kekayaan seni budaya Indonesia kepada bangsa-bangsa lain dengan biaya rendah dibanding misalnya mengirimkan kontingen atlet ke berbagai turnamen internasional yang menelan banyak biaya.
Misalnya saja kita mungkin bisa mengirim banyak sarjana seni untuk “bekerja” memperkenalkan kekayaan seni budaya Indonesia di setiap negara. Sedangkan setiap sarjana seni yang kita kirim ke luar negeri dapat dipastikan akan mendapat sambutan positif dengan sikap apresiatif oleh pemerintah dan bangsa lain yang didatanginya.
Lapangan Kerja
Naiknya jumlah sarjana seni dengan sendirinya tentu akan membuka lapangan kerja baru di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam hal ini, akan semakin banyak sarjana seni yang produktif berkarya atau minimal mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dan juga mampu mengisi peluang-peluang usaha pengembangan bisnis properti.
Faktanya, hotel dan mal-mal kini harus bersaing menarik pengunjung dengan menggelar acara seni yang melibatkan seniman-seniman. Hal ini tentu akan lebih menarik jika melibatkan juga sarjana seni sebagai instruktur dan penyelenggara pentas seni maupun menjadi desainer visual interior-eksterior yang bertujuan menarik perhatian publik.
Dengan demikian, mendirikan banyak ISI di setiap propinsi akan mampu membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda melalui upaya apresiasi terhadap seni di banyak bidang usaha bisnis. Dan juga mendukung upaya pengembangan sumber daya manusia untuk membangun budaya bangsa dalam arti luas.
Pada akhirnya, jika semua sekolah menengah memiliki guru seni yang bergelar sarjana, murid-murid akan lebih banyak mendapatkan pendidikan seni yang lebih bermutu, tidak lagi sekadar pelajaran tambahan yang kesannya kurang serius.
Maka semua pemerintah daerah di setiap propinsi layak menjalin kerjasama dalam rangka mendirikan ISI untuk mengangkat martabat seni budaya bangsa yang sekian lama nyaris selalu terabaikan dalam hiruk pikuk pembangunan sekaligus untuk memperkaya sumber daya manusia yang lebih variatif dan inovatif.
Jika ada kendala dalam mendirikan ISI di daerah-daerah, salah satu kendala mungkin kurangnya tenaga pengajar. Kendala ini sangat mudah diatasi, karena bisa mengundang dosen-dosen dari lembaga pendidikan seni yang ada di sejumlah daerah lain.
Untuk saat ini, kendala ruang dan waktu dalam belajar mengajar seni juga bisa diatasi dengan menggunakan teknologi informasi. Misalnya, ISI di daerah-daerah di setiap propinsi membuka mata kuliah jarak jauh dengan jaringan internet, sehingga dosen-dosen di daerah lain tidak perlu datang jauh-jauh setiap hari untuk mengajarkan ilmunya kepada mahasiswa-mahasiswanya.
Berdasarkan fakta empiris, lulusan ISI di banyak daerah umumnya menjadi pribadi kreatif sehingga tidak ada yang menjadi pengangguran. Bahkan banyak lulusan ISI yang telah menjadi PNS tetap saja kreatif dengan mengembangkan industri kreatif yang menjadi lapangan kerja bagi banyak orang.***
Manaf Maulana, peneliti Pendidikan dan Kebudayaan
Redaksi menerima kiriman artikel/opini dari publik. Isi naskah di luar tanggung jawab redaksi. Kirimkan artikel/opini beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi naskah yang ditayangkan.