Tiga Desa di Kabupaten Sikka Mengalami Rawan Pangan

MAUMERE — Tiga desa di kabupaten Sikka yakni Tuabao, Werang dan Natarmage di kecamatan Waiblama mengalami rawan pangan. Di Natarmage, sebanyak 16 kepala keluarga sudah mengkonsumsi ubi hutan yang dikenal beracun akibat ketiadaan stok pangan sebagai dampak dari kemarau panjang yang terjadi sejak bulan Juli 2017.

“Kami memberikan bantuan beras sebanyak satu ton dan bantuan bahan makanan lainnya kepada warga di tiga desa tersebut setelah mendapatkan laporan dari pihak desa,” tutur kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Sikka, Muhammad Daeng Bakir di Maumere, Kamis (5/10/2017).

Kepala BPBD kabupaten Sikka Muhammad Daeng Bakir/ Foto : Ebed de Rosary

Daeng Bakir menambahkan, stok beras di dinas Sosial sebanyak 70 ton dan dinas Ketahanan Pangan sebanyak 10 ton dipersiapkan untuk mengantisipasi ancaman rawan pangan yang kemungkinan besar terjadi akibat kemarau panjang sehingga desa-desa diharapkan segera memasukan data ril terkait kondisi di wilayahnya.

“Memang baru 50 desa saja dari 147 desa di kabupaten Sikka yang sudah memasukan data akan terjadinya ancaman rawan pangan sehingga kami juga sudah meminta bantuan ke BPNB pusat,” ungkapnya.

Bila melihat kondisi yang ada kata, Daeng Bakir, kemungkinan terjadinya ancaman rawan pangan sangat besar sebab masyarakat di desa-desa banyak yang mengandalkan air hujan yang ditampung di bak-bak penampung untuk dikonsumsi dan lahan pertanian.

Sementara itu, Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera mengakui sebagian warga Natarmage dan Tua Bao di kecamatan Wiblama memang sudah masuk ke hutan mencari ubi hutan untuk dikonsumsi sebab ketersedian pangan di rumah-rumah penduduka mulai habis.

Musim panen tahun 2016 lalu, banyak tanaman produksi tidak berhasil akibat curah hujan yang kurang dan angin kencang. Pihaknya sudah menyiapkan cadangan beras bantuan untuk mengatasinya.

“Kita pantau di lapangan ditemukan beberapa keluarga di Tua Bao dan Natar Mage sudah makan ubi hutan dan mereka mengatakan sudah biasa tapi kalau makan satu kali sehari itu kebiasaan, tapi kalau makan tiga kali sehari berarti persediaan makan tidak ada lagi,” tuturnya.

Masyarakat Sikka menyebut ubi hutan dengan istilah Pida sementara masyarakat Tana Ai menamakan Magar. Tanaman melata tumbuh di hutan bentuknya mirip ubi yang dibudiyakan petani Sikka di kebun-kebunnya namun jenis ubi ini jarang dimakan karena mengandung racun.

Pengolahannya harus cermat untuk menghilangkan racunnya dan biasanya masyarakat membersihkan umbinya terlebih dahulu kemudian direndam di kali atau air mengalir selama beberapa hari baru setelah itu dikeringkan.

Lihat juga...