SimPel di Sumbar Belum Optimal
PADANG — Kepala Otorita Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Barat, Darwisman, mengatakan berdasarkan data yang dihimpun OJK, sampai dengan bulan September 2017 tercatat ada 714 sekolah yang telah menjalin kerjasama untuk menjadi peserta Simpanan Pelajar (SimPel), dan terdapat 33.269 siswa di Sumatera Barat yang menjadi nasabah SimPel.
Ia menyebut, hal demikian telah menunjukkan sampai saat ini baru sekira 11,24 persen sekolah yang telah bekerja sama mendaftarkan siswanya menjadi peserta SimPel, serta baru ada sekitar 3,09 persen siswa yang menjadi nasabah tabungan Simpanan Pelajar.

“Jadi, memang masih terdapat potensi yang besar yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha jasa keuangan. Untuk ke depan, pelakau usaha jasa keuangan untuk bisa melakukan upaya, agar pelajar-pelajar yang ada di Sumatera Barat bisa ikut menabung dan menjadi peserta SimPel,” katanya, saat membuka kegiatan bulan inklusi keuangan, di Auditorium Universitas Negeri Padang, Sabtu (28/10/2017).
Darwisman menjelaskan, bila melihat berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah sekolah tingkat dasar dan menengah di Provinsi Sumatera Barat ada 6.352 sekolah dengan jumlah pelajar 1.075.108 siswa. Bila 1.075.108 siswa di seluruh Sumatera Barat ditambah dengan guru sebanyak kurang lebih 103.497 orang, rutin menjalankan arahan Gubernur Sumatera Barat untuk menabung pada hari Rabu pekan pertama setiap bulan, dengan jumlah tabungan Rp10.000 saja, maka dalam satu bulan dana yang dapat dihimpun sebesar Rp 11,78 miliar.
“Nah, hal itu baru dihitung dengan rentang waktu satu bulan. Lalu, bagaimana kalau dihitung selama satu tahun, maka dana dapat dikumpulkan sebanyak Rp141,43 miliar. Tentu jumlah sebesar ini akan membawa dampak yang luas kepada masyarakat,” ucapnya.
Ia mengakui, dengan jumlah yang demikian, memang masih cukup kecil jumlah siswa yang ikut menjadi peserta SimPel di Sumatera Barat. Untuk itu, melalui sejumlah kegiatan pada peringatan bulan inklusi keuangan di Padang ini, OJK mengharapakan agar para siswa yang hadir, yakni mencapai 1.500 orang siswa/siswi, dapat lebih mengenal berbagai pilihan produk dan jasa keuangan yang tersedia di Sumatera Barat.
Darwisman berharap, bulan inklusi keuangan dapat menjadi momentum peningkatan budaya menabung masyarakat melalui pemanfaatan berbagai produk jasa keuangan yang ada. Sehingga sinergi yang telah terbangun dengan para pelaku usaha jasa keuangan serta stakeholder selama ini, dapat terus terjaga, sehingga ke depan industri jasa keuangan dapat terus memberikan kontribusi yang nyata kepada masyarakat.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Ali Asmar, menyatakan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, telah menginstruksikan lembaga perbankan untuk masuk ke sekolah-sekolah guna mensosialisasikan ‘Gerakan Mari Menabung’ atau ‘Gemar Menabung’, yang dilakukan setiap hari Rabu pada pekan pertama awal bulan.
Gubernur juga meminta, agar lembaga perbankan terutama yang sudah memiliki produk tabungan pelajar atau Simpel, agar datang ke sekolah-sekolah, sebagai bentuk upaya mewujudkan generasi yang gemar menabung.
Ia menilai, bila para siswa/siswi suka menabung, maka telah menunjukkan para generasi pola hidup hemat. Selain telah memebentuk karakter hidup hemat, melalui gerakan tersebut juga dinilai telah melakukan pengenalan industri jasa keuangan sejak dini tehadap ribuan pelajar yang di Sumatera Barat ini.
Untuk itu, Ali Asmar juga berharap, agar upaya tersebut didukung bersama, supaya sekolah-sekolah yang belum menjadi peserta SimPel, bisa ikut menjadi bagian dari generasi yang hemat. Tidak hanya itu, Ali juga meminta kepada pihak sekolah, untuk serius menyikapi SimPel tersebut.
“Jadi, kepada pihak sekolah, harap hal ini disampaikan kepada anak-anak, agar mereka bisa ikut menabung. Dengan nilai Rp10.000 per bulan, akan membantu kehidupan anak-anak kita pada masa mendatang. Selain itu, kepada pihak perbankan, juga diharap terus sosialisasikan hal tersebut ke setiap sekolah,” harapnya.