Romo Tirun, Kesehatan Manusia di Mata Orang Jawa
YOGYAKARTA – Setiap masyarakat di berbagai pelosok penjuru dunia memiliki cara berbeda-beda dalam menjaga kesehatan tubuhnya. Tak terkecuali masyarakat dalam tradisi dan kebudayaan Jawa.
Sejak jaman dahulu, masyarakat Jawa dalam lingkup keraton dikenal memiliki tradisi tersendiri dalam berolahraga dan menjaga kesehatan. Hampir setiap peradaban masyarakat Jawa yang berpusat di suatu kerajaan, memiliki kesenian yang khas berupa tari-tarian.
Di lingkungan Keraton Yogyakarta, tarian tradisional merupakan sesuatu yang sakral. Tak sekedar menjadi sebuah ekspresi kesenian, tarian juga menjadi sebuah cara melakukan persembahan. Baik itu terhadap sebuah momen peristiwa, seseorang yang dihormati hingga persembahan kepada Sang Pencipta.
Di balik semua itu, tarian ternyata juga menjadi cara tersendiri bagi masyarakat Jawa dalam menjaga kesehatan. Baik itu kesehatan jiwa maupun kesehatan raga.
Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Jogja, KRT Jatiningrat atau yang akrab disapa Romo Tirun, menyebut masyarakat Jawa memiliki cara pandang tersendiri dalam memposisikan kesehatan manusia. Jika orang Barat berpandangan kesehatan tubuh/raga merupakan sumber kesehatan jiwa, maka orang Jawa justru berpandangan sebaliknya.
“Kalau orang Barat kan berpandangan dalam bahasa Latin ‘mens sana in corpore sano (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Tapi kalau orang Jawa justru sebaliknya. Dari jiwa yang kuat itulah, akan muncul tubuh yang sehat,” katanya, Jumat (27/10/2017).
Karena itulah menurut Romo Tirun, pada zaman dahulu semua orang di lingkungan keraton selalu diwajibkan untuk belajar menari. Baik itu keluarga raja, kerabat hingga semua abdi dalem. Tak hanya kaum perempuan saja, namun juga laki-laki.
“Karena menari itu melatih mental karakter seseorang. Juga melatih tubuh melalui gerakan-gerakan badan,” katanya.
Salah satu prinsip orang Jawa dikatakan Romo Tirun adalah Sawiji, Greget, Sengkuh Ora Mingkuh. Sawiji berarti konsentrasi atau fokus. Greget yang berarti semangat. Sengkuh yang yang berarti percaya diri dan rendah hati serta ora mingkuh yang berarti bertanggung jawab.
“Dengan menari tarian tradisional, jiwa seseorang akan terasah. Dengan jiwa yang sehat dan kuat itulah tubuh akan sehat. Sehingga walau orang Jawa tubuhnya kecil, tapi sehat jiwa raga. Berbeda dengan orang Barat yang mengukur kesehatan dari tubuhnya yang besar dan kuat saja,” ungkapnya.