Posdaya Melati Pampangan Tanam Kembali Bawang Dayak
PADANG — Banjir yang melanda Kota Padang Sumatera Barat beberapa waktu lalu, turut berdampak kepada kebun milik warga di Kelurahan Pampangan Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Padang.
Dalam areal kebun berukuran 10X 6 meter terdapat tanaman obat, yakni bawang dayak rusak dilanda banjir, sehingga mengalami gagal panen. Padahal tanaman ini hampir memasuki masa panennya. Kerusakan yang dialami yakni mati dan membusuk disebabkan air banjir yang terjadi becampur dengan minyak seperti oli bekas.
Persoalan yang dihadapi oleh warga di Kelurahan Pampangan Nan XX ini, langsung ditanggapi serius oleh Posdaya Melati Pampangan, yang memiliki peran untuk memberdayakan masyarakat. Menurut Ketua Posdaya Melati Pampangan Silfina Rafilis keberadaan tanaman bawang dayak di lingkungannya itu, berkat dari pemberdayaan yang dilakukan oleh Posdaya Melati Pampangan.
“Di daerah ini cukup dikenal dengan adanya tanaman bawang dayaknya, tapi saat ini kondisi tanaman bawang dayaknya malah rusak, dan hanya menyisakan beberapa rumpunnya saja. Ke depan, dengan adanya sisa tanaman bawang dayak ini, kita jadikan bibit dan akan kita kembangkan lagi,” katanya, Selasa (24/10/2017).
Ia menyebutkan, kini dari sisa tanaman bawang dayak yang ada tidak lagi dijual, akan tetapi dijadikan sebagai bibit untuk menanam kembali bawang dayak di atas lahan yang sama. Munculnya ide melakukan penanaman kembali tanaman dayak ini, bentuk peran dari Posdaya Melati Pampangan, dalam hal menjalankan pilar lingkungan yang menjadi peranan wajib yang harus dilakukan oleh setiap Posdaya.
Silfina menjelaskan, sebelum tanaman bawang dayak itu dilanda banjir, masyarakat cukup terbantu untuk menikmati hasil dari kebun yang berukuran sedang tersebut. Karena tanaman bawang dayak memiliki sejumlah manfaat, seperti mengatasi sakit perut, diabetes, obat disentri, dan berbagai jenis penyakit lainnya.
Selain menjadi tanaman obat yang menjadi pertolongan pertama bagi masyarakat sekitar, harga per kilogram untuk bawang dayak terbilang cukup mahal, yakni mencapai Rp100 ribu per kilogramnya.
“Harganya memang cukup mahal, tapi sayang belum bisa untuk dinikmati, karena pada saat awal ditanama saja, dan hampir panen pula, banjir sudah datang. Gagal jadinya menikmati hasil dari kebun sehat ini,” ujarnya.
Menurutnya, sebelumnya masyarakat sudah merasa putus asa untuk menanam kebali tanaman obat bawang dayak, akibat kawasan tersebut merupakan daerah langganan banjir. Namun Posdaya Melati Pampangan terus memberikan pemahaman terkait penting adanya tanaman obat bagi masyarakat.
Untuk itu ke depan, Posdaya Melati Pampangan berencana akan melakukan penanaman kembali bawang dayak bagi setiap pekarangan rumah masyarakat, dengan didasari perhitungan waktu.
Perhitungan waktu yang dimaksud ialah, tanaman bawang dayak akan diitanam pada saat Kota Padang tidak dalam musim hujan. Hal ini dilakukan untuk menghindari bencana banjir yang menjadi ancaman tanaman bawang dayak di daerah tersebut.
Masyarakat setempat cukup tertarik untuk menanam tanaman bawang dayak ini, selain harganya yang cukup mahal, manfaat dari bawang dayak bisa menjadi obat alami bagi masyarakat.
“Tentunya kami di Posdaya Melati Pampangan berharap, masyarakat untuk tetap semangat dalam hal melakukan kembali penanaman tanaman obat bawang dayak. Apalagi, untuk tanaman bawang dayak tidaklah terlalu sulit, sebab masih bisa hidup dengan kondisi tanah yang kering,” ungkapnya.
Untuk itu, ia menilai tanaman bawang dayak adalah hal yang mudah untuk dilakukan, meskipun itu di halaman rumah. Selain itu, saat ini untuk kebun tanaman bawang dayak tersebut, cukup banyak ditemukan di sejumlah kawasan di Kota Padang.
