Petani Tembakau Bantul Keluhkan Penyakit Keriting Daun
YOGYAKARTA — Sejumlah petani tembakau di Kecamatan Plered Bantul menyebut sebanyak 20 persen hasil panen mereka mengalami penyakit keriting daun. Tak hanya itu, sejumlah tanaman tembakau juga diketahui melambat pertumbuhannya karena saat ini sudah mulai turun hujan.
Salah seorang petani tembakau Sokiyem (55) asal dusun Srumbung, Segoroyoso, Plered, Bantul, menyebut terlambat melakukan proses penanaman tembakau hingga satu bulan. Akibatnya tembakau yang semestinya sudah bisa dipanen pada bulan September lalu masih belum bisa dipanen hingga Oktober ini.
“Memang agak terlambat menanam karena harus menunggu panen padi selesai. Akibatnya sampai turun hujan, tembakau belum bisa panen. Padahal jika terkena hujan, pertumbuhan tembakau akan terganggu,” katanya baru-baru ini.
Selain menyebabkan penyakit keriting daun, di mana daun menjadi tumbuh tidak lebar, pertumbuhan tanaman juga terganggu. Menanam tembakau di lahan seluas 1000 meter persegi, sekitar 20 persen tanamannya diketahui terserang keriting daun.
“Akibatnya jelas hasil produksi menurun. Tahun lalu dari lahan seluas 1000 meter saya bisa menghasilkan 400 kilogram. Semoga tahun ini bisa tidak jauh berbeda,” katanya.
Harga jual tembakau sendiri saat ini dikatakan cukup bagus yakni berkisar Rp25-35ribu per kilogram tergantung kualitas daun tembakau. Biasanya para petani di kawasan ini, menyetor tembakau rajang kering ke pabrik di daerah Klaten, Jawa Tengah.
Sebelum disetor ke pabrik, para petani terlebih dahulu harus mengolah daun tembakau. Yakni dengan menyimpan daun hingga menguning atau matang selama 3-5 hari. Setelah matang, daun tembakau kemudian dirajang hingga berbentuk kecil. Setelah itu tembakau rajang masih harus dijemur kembali hingga benar-benar kering.
“Semua proses dilakukan secara manual. Namun itu semua sangat bergantung pada sinar matahari. Kalau sudah sering turun hujan seperti sekarang ini, proses pengolahan akan membutuhkan waktu lebih lama,” katanya.