Perajin Genting dan Batu Bata Kelebihan Peminat
YOGYAKARTA – Para pelaku usaha pembuatan genting dan batu bata di kawasan sentra industri Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo mengaku kuwalahan (kelebihan) memenuhi tingginya permintaan pasar. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan di sejumlah kawasan relokasi menyusul pembangunan bandara baru Kulonprogo, untuk menenuhi kebutuhan sekitar Hargorejo dan sekitarnya saja mereka mengaku tidak mampu.
“Pemerintah memang mendorong kita untuk bisa memproduksi kebutuhan genting dan batu bata di sejumlah kawasan relokasi, namun kita tidak mampu. Untuk memenuhi kebutuhan di sekitar desa sini saja kita kuwalahan. Apalagi sekarang semakin banyak orang yang membangun rumah dimana-mana,” ujar salah seorang perajin genting dan batu bata, Ihsan Mawardi (63) asal Dusun Selo Timur, Hargorejo, Kokap, Selasa (24/10/2017).
Menurut Mawardi, terbatasnya produksi genting dan batu bata di kawasan sentra industri Selo, Hargorejo, Kokap disebabkan tidak banyak perajin yang secara serius menggeluti usaha. Sebagian besar perajin genting dan batu bata di kawasan ini dikatakan hanya menggeluti usaha pembuatan genting dan batu-bata sebagai usaha sambilan.
“Disini memang ada kelompok atau koperasi bagi perajin genting dan batu bata. Anggotanya lebih dari 30 orang. Namun memang hanya sebagian kecil yang fokus pada usaha ini. Selebihnya hanya sambilan saja, karena banyak yang juga bekerja atau memiliki usaha lain selain membuat genting dan batu bata,” katanya.
Dari sekitar 30 pelaku usaha yang ada Dusun Selo, dikatakan Mawardi hanya ada 2-3 orang saja yang memiliki tungku pembakaran. Sementara banyak perajin lainnya sekedar menjual genting atau batu bata dalam bentuk mentah. Yakni dengan menyetor cetakan genting atau batu bata tersebut ke perajin lain yang memiliki tungku pembakaran.
“Sebenarnya banyak bantuan yang diberikan pemerintah, seperti cetakan genting, hingga mesin pengaduk tanah sebagai bahan utama pembuatan genting dan batu bata. Tapi tidak semua bantuan digunakan dan dimanfaatkan,” ungkapnya.
Mawardi sendiri merupakan salah satu pelaku usaha yang menggantungkan hidup dari hasil memproduksi genting dan batu bata. Memiliki tungku pembakaran sendiri, ia biasa menerima cetakan genting dan batu bata mentah dari sejumlah perajin lain di sekitarnya untuk ia bakar dan ia jual.
“Tapi tungku pembakaran saya juga hanya mampu mengolah genting dan batu bata dalam jumlah terbatas. Sekali bakar hanya cukup untuk sekitar 4500 buah batu bata dan 3000 genting,” katanya.
Untuk ketersediaan tenaga maupun bahan baku, Mawardi menyebut seluruhnya belum menjadi kendala. Ia masih mudah mendapatkan bahan baku meski harus membeli. Yakni Rp125-140 ribu tanah per rit dan Rp500 ribu per rit untuk kayu sebagai bahan baku proses pembakaran.
“Satu-satunya kendala hanyalah cuaca. Apalagi saat memasuki musim penghujan seperti saat Ini. Karena kita masih menggunakan cara tradisional sehingga sangat bergantung pada sinar matahari untuk proses pengeringan,” ungkapnya.
Jika saat musim kemarau ia mampu memproduksi sekitar 5000 batu bata dalam waktu satu minggu, saat musim penghujan ia membutuhkan waktu paling tidak satu bulan lamanya. Sementara itu harga jual genting pres sendiri saat ini cukup bagus, yakni Rp1100 per biji dan Rp600 per biji untuk batu bata.