Mahasiswa UB Jadikan Susu Sortasi Alternatif Penghasil Listrik
MALANG — Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) terus berupaya menghasilkan inovasi-inovasi baru guna memberikan manfaat bagi masyarakat. Kali ini lima mahasiswa Fakultas Kedokten Hewan (FKH) UB, Galuh Purnawati (ketua), Siti Maria Khiftiyah, Fitri Indah Prmatasari, Suhardi Winaryo dan Bayu Hendra Laksmana di bawah arahan dosen pembimbing Srimurwani mencoba memanfaatkan limbah susu sortasi untuk dapat menghasilkan sumber listrik dengan nama Milk Sortation for Fuel Cell (MARFEL).
Galuh Purnawati menjelaskan bahwa ide awal pembuatan Marfel dilatar belakangi kebutuhan energi listrik dari tahun ke tahun yang semakin meningkat.
“Dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sendiri menyebutkan bahwa sejak 2013 sampai dengan 2015 kebutuhan energi semakin meningkat hingga mencapai kurang lebih 6 persen,” jelasnya.
Dari situlah kemudian muncul ide membuat terobosan mengenai Marfel dengan pemanfaatan bakteri dan limbah susu sortasi sebagai alternatif penghasil listrik untuk terwujudnya sustainable development goal. Susu sortasi sendiri menurut Galuh adalah susu yang tidak layak pakai di pabrik-pabrik.
“Susu sortasi ini biasanya tidak dimanfaatkan oleh peternak, atau hanya digunakan untuk bahan membuat kerupuk dan tahu susu,” ujarnya.
Lebih lanjut Galuh menyampaikan, rangkaian alat tersebut terdiri dari chamber yang digunakan untuk menampung susu. Kemudian diwadah tersebut ditambahkan dengan bakteri E. Colli yang selanjutnya ditambahkan oksidator. Karena ada perbedaan potensial disitu akhirnya menghasilkan listrik. Kemudian listrik yang dihasilkan itu akan masuk ke boost converter.
“Boost converter ini fungsinya untuk menaikkan tegangan. Karena tegangan yang dihasilkan di awal tadi hanya 3 volt,” terangnya.
Karena listrik yang dihasilkan diawal belum bersifat bolak balik, selanjutnya di masukkan lagi ke DC to AC inverting. Jadi dari DC to AC inverting sehingga listrik yang dihasilkan bisa sampai 500 watt, ungkapnya.
Disampaikan Galuh, susu sortasi yang dihasilkan di Indonesia cukup banyak terutama di Jawa Timur. Karena di Jawa Timur sendiri disebut-sebut merupakan salah satu penghasil susu terbesar di Indonesia.
Sementara itu, berkat temuan Marfelnya tersebut, Galuh bersama dengan kawan-kawannya berhasil dua medali di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2017 yakni medali perak dalam kategori presentasi dan perunggu untuk kategori poster.
“Tidak hanya di ajang Pimnas, pada Maret yang lalu, Marfel juga pernah diikutkan di kompetisi internasional di Malaysia dan berhasil mendapatkan medali emas dalam ajang Innovation Design Research International Symposium (IDRIS). Marfel juga mendapatkan tiga penghargaan dari Kanada, Malaysia, Korea dan Toronto internasional,” ungkapnya.
Untuk sementara Marfel ini masih dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan. Ke depan, jika ada kesempatan kami ingin Marfel ini bisa diterapkan di masyarakat, pungkasnya.
