Lukisan dari Ampas Kopi, Inovasi Putra Ponorogo

PONOROGO — Siapa bilang lukisan hanya bisa dibuat dengan kanvas dan cat, Imam Subandi (42 tahun) warga Jalan Menur, Desa Ronowijayan, Kecamatan Siman justru membuat lukisan dari ampas kopi. Meski baru digeluti pada Januari 2016 lalu, lukisan ampas kopinya banyak diminati.

“Awalnya karena bahan melukis seperti cat minyak itu mahal, kalau kopi kan murah dan ada dimana-mana,” jelasnya saat ditemui Cendana News, Selasa (31/10/2017).

Menurutnya, satu cangkir kopi bisa untuk 2-3 lukisan. Tergantung lukisan yang diminta pelanggan. Harga yang dipatok juga terjangkau. “Untuk lukisan kopi dari Rp500 ribu sampai Rp2 juta tergantung tema,” ujarnya.

Namun jika lukisannya bertema sejarah, politik dan ada pesan moral maka akan semakin mahal. Uniknya meski menggunakan kopi, Imam sapaannya, hasil lukisannya bisa bertahan hingga tahunan. Selain itu ia juga memfokuskan diri melukis sejarah yang berkaitan dengan Ponorogo.

“Ampas kopi dicampur sejenis plitur air supaya awet,” paparnya.

Ampas yang dipakai untuk melukis pun tidak boleh sembarangan harus yang pekat dan teksturnya halus. Terkadang karena pesanan lukisan banyak dan ampas kopi sedikit, ia tak sungkan meminta ampas dari warung kopi milik temannya.

“Malah kadang saya juga melukis di warung kopi,” tuturnya.

Imam menambahkan untuk lukisan ampas kopi ukuran A3 dalam satu jam bisa langsung selesai asalkan sketsa sudah jadi. Sedangkan ukuran yang lebih besar bisa sampai dua hari.

“Alat yang dipakai juga seperti melukis pada umumnya, yakni kuas dan medianya,” tukasnya.

Di jaman serba teknologi seperti saat ini, Imam mengaku terbantu. Pemasaran hasil lukisannya jadi lebih mudah. Bahkan pembeli biasanya datang dari luar Ponorogo, seperti Madiun, Solo, Yogyakarta dan Surabaya.

“Sumatera juga pernah beli,” tandasnya.

Ada cerita menarik, Imam pernah melukis di Solo. Tanpa disengaja ia melihat sosok makhluk halus. Sesampainya di Ponorogo ia pun segera melukis hantu tersebut menggunakan kopi. Tapi, keesokan harinya lukisan tersebut tiba-tiba hilang.

Imam sendiri tidak setiap hari melukis, karena membutuhkan imajinasi. Tiap kali ada imajinasi, baru melukis.

Tak lupa Imam berharap dengan melukis menggunakan ampas kopi, bisa mengajak siapapun untuk melukis dengan bahan yang ada.

“Saya ingin mengajak anak yang suka menggambar dan kesulitan bahan yang mahal, maka ini bisa jadi alternatif melukis memakai ampas kopi,” pungkasnya.

Lukisan ampas kopi hasil karya Imam Subandi/ Foto: Charolin Pebrianti.
Lihat juga...