Kelola Sampah, Warga Panggungharjo Bantul Hasilkan PAD Rp1,2 Miliar
YOGYAKARTA — Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, sepintas tak ubahnya seperti desa pada umumnya. Namun siapa sangka, desa yang terletak di perbatasan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul ini ternyata mampu mengolah sampah yang dihasilkan menjadi sumber pendapatan bagi kesejahteraan warganya.
Adalah kepala Desa Panggungharjo, Wahyu Anggoro Hadi, sosok muda yang berhasil mengelola lingkungan di desanya menjadi lebih baik. Meski jumlah penduduk yang tercatat hanya sekitar 28 ribu jiwa, Desa Panggungharjo ditinggali sekitar 40 ribu warga. Mereka kebanyakan pendatang luar daerah yang menetap di desa ini.
Banyaknya penduduk yang menetap di desa Panggungharjo membuat sampah yang dihasilkan sangat besar. Wahyu mencatat pada 2014 saja, jumlah sampah yang dihasilkan mencapai 55 meter kubik sampah setiap hari atau setara 6 truk. Sebanyak 92 persennya merupakan sampah rumah tangga.
“Ada sekitar 9 ribu liter minyak goreng bekas atau jelantah yang dibuang tiap bulan. Karena itu kita berupaya mengelolanya sendiri,” katanya belum lama ini.
Melalui rumah pengelolaan sampah dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari, desa Panggungharjo mengumpulkan sampah warga tersebut. Sampah yang memiliki nilai jual seperti plastik dipilah untuk kemudian dijual. Sementara sampah yang dapat dimanfaatkan, diolah agar memiliki nilai jual salah satunya pengembangan limbah penggorengan/minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif pengganti solar untuk mesin industri, atau Revined Used Cooking Oil (R-UCO).
“Sejak 2014 dari sampah kita mampu mendapat pendapayan Rp30 juta dari retribusi sampah. Dari pemilahan dan penjualan sampah kita mendapatkan Rp10juta. Sedangkan dari penjualan minyak kita mendapatkan Rp36 juta. Total Rp80 juta. Terakhir pada 2016 kemarin kita mampu menghasilkan pendapatan Rp1,2 miliar dari sampah,” katanya.
Khusus untuk pengolahan jelantah menjadi minyak solar sendiri, BUMDes Panggung Lestari, bekerja sama dengan PT Tirta lnvestama (Danone AQUA) sejak 2014 telah mampu menghasilkan sekitar 4000 liter minyak per bulan. Sementara pada tahun ini naik menjadi 9000 liter minyak per bulan. Dengan harga Rp7500 per liter.
“Saat ini kita baru mampu mengelola sekitar 30 persen sampah di desa. Sehingga kita akan berupaya meningkatkan pengelolaan sampah ke depan. Karena kebutuhan minyak R-UCO pabrik di Klaten masih besar. Yakni sekitar 220 liter per bulan. Jadi kita masih belum mampu memenuhi seluruhnya,” katanya.
Berkat berbagai upaya yang telah dilakukan, desa Panggungharjo sendiri banyak mendapat prestasi. Mulai dari desa terbaik nasional, desa model dan desa unggulan di bidang pengelolaan sampah dan lingkungan hingga desa dengan tata kelola pemerintahan yang transparan bersih bebas serta bebas korupsi.
