Cegah Abrasi SDN 5 Sumur Lampung Pertahankan Mangrove

LAMPUNG — Bangunan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar di SDN 5 Sumur Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan hanya berjarak sekitar puluhan meter dari bibir pantai Selat Pulau Rimau dan Pulau Sumatera. Kondisi tersebut sudah sejak awal sekolah dioperasikan pada 1991.

Menurut Sudarso, salah satu guru kelas 4 di SDN 5 Sumur mendampingi Kepala Sekolah tersebut, Iswandi, ketika ditemui Cendana News pada saat pasang tertinggi air laut serta banjir rob air pernah menggenangi halaman sekolah bahkan masuk ke beberapa ruang kelas beberapa tahun silam.

Air masuk ke halaman sekolah serta ruang kelas karena tidak adanya talud penahan berupa pondasi batu. Sudarso mengungkapkan adanya kesepakatan antara masyarakat serta wali murid dan siswa untuk melakukan langkah antisipasi. Beberapa bagian pantai yang berhadapan langsung dengan sekolah mulai direhabilitasi dengan berbagai jenis tanaman pantai.

“Kalau melihat sejarahnya pada awal pembukaan kampung di Pulau Rimau Balak hampir sebagian besar pesisir pantai dipenuhi vegetasi tanaman bakau,nipah serta berbagai tanaman lain namun dialihfungsikan menjadi tambak serta perumahan sehingga terjangan abrasi tidak bisa dihindarkan,” terang Sudarso, Rabu (8/9/2017)

Dampak pengalihfungsian lahan pesisir Pantai Pulau Rimau Balak dengan jumlah Kepala Keluarga mencapai lebih dari 90 KK kerap menimbulkan banjir rob memasuki sejumlah rumah sehingga warga sebagian besar terpaksa membuat rumah panggung mengantisipasi terjangan air laut.

Saat itulah sebagian warga mulai menyadari pentingnya tanaman pesisir yang ada di wilayah tersebut dengan swadaya menanam bakau dan nipah secara berjajar menyerupai pagar alami.

Bangunan SDN 5 Sumur yang tak jauh dari bibir pantai kerap dilanda banjir pasang air laut/ Foto: Henk Widi.

Beber Sudarso pihaknya mulai bertahap melakukan penanaman pohon mangrove. Penanaman mangrove secara bertahap tersebut dilakukan untuk mengganti tanaman yang rusak dengan yang baru.

“Bibit mangrove cukup tersedia di wilayah ini sebagian sengaja ditanam warga kemudian sebagian warga juga mulai membuat tanggul sekaligus berfungsi sebagai akses jalan sehingga penahan ombak bisa berlapis lapis,” tuturnya.

Pertumbuhan tanaman mangrove yang lambat dan sebagian tumbuh alami mempunyai ketinggian lebih dari dua meter bahkan selanjutnya dimanfaatkan warga sebagai lokasi tambat perahu milik para nelayan.

Ia berharap selain upaya swadaya masyarakat dan pihak sekolah dalam penanaman pohon mangrove dan pemeliharaan hutan mangrove di wilayah tersebut ada bantuan pembuatan talud atau bronjong di lingkungan sekolah tersebut.

Selain terjangan abrasi yang berpotensi terjadi meski sudah cukup banyak tanaman mangrove di dekat sekolah potensi longsoran tanah di sisi Timur yang terletak lebih tinggi kontur tanahnya dan kerap banjir disertai material tanah yang memasuki halaman sekolah bangunan talud sangat diperlukan.

“Bantuan dari wali murid jelas tidak mungkin karena wali murid sebagian hanya nelayan kecil sehingga upaya kita sementara melakukan penanaman pohon sebagai talud alami,” tegas Sudarso.

Ratusan tanaman mangrove yang ditanam oleh pihak sekolah. Sebagian ada yang sengaja ditanam oleh beberapa komunitas yang peduli pada sekolah terpencil tersebut diantaranya Komunitas 1000 Guru yang menanam mangrove pada 2015, komunitas literasi pada 2016.

Pemeliharaan tanaman mangrove yang berada di lingkungan sekolah juga sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Tanaman mangrove juga didukung penghijauan kawasan lereng Pulau Rimau Balak memberikan manfaat lingkungan. Di antaranya saat banjir tidak menyebabkan tanah longsor dan menutupi jalan setapak di wilayah tersebut.

“Kalau longsor akses jalan ke sekolah tertutup lumpur sehingga saat mengantar anak ke sekolah kami kesulitan dan pohon mangrove juga menghindari rumah kami diterjang angin,” terang Anis salah seorang wali murid.

Anis yang memiliki suami nelayan mengakui tanaman mangrove menjaga area perumahan dan SDN 5 Sumur. Sebagian nelayan bisa memasang keramba jaring apung untuk budidaya ikan serta sebagian dimanfaatkan sebagai lokasi melindungi perahu dari terjangan ombak saat bersandar.

Akses jalan setapak menuju SDN 5 Sumur kerap dilanda longsor dari bagian lereng tak jauh dari bibir pantai/ Foto: Henk Widi.
Lihat juga...