PONOROGO – Meski sudah memasuki musim penghujan, beberapa wilayah di Ponorogo masih dilanda kekeringan. Seperti Desa Suren, Kecamatan Mlarak malah meminta droping air lebih banyak, yang sebelumnya empat tangki menjadi lima tangki isi 5000 liter air.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Setyo Budiono menuturkan, hujan di Ponorogo hanya berlangsung tiga hari saja. Dari tiga hari tersebut hanya berdampak pada satu hari pertama pasca hujan.
“Pasca hujan hari pertama, kami mengecek tangki dan masih ada airnya. Kemudian hari berikutnya kami cek lagi ternyata airnya kosong,” jelasnya saat ditemui Cendana News, Rabu (4/10/2017).
Selain Desa Suren, juga ada Desa Karangpatihan dan Kecamatan Pulung meminta penambahan droping air. Dusun Dungus yang awalnya satu tangki kini meminta jatah dua tangki tiap kali pengiriman.
“Ada penambahan 1-2 titik droping air,” terangnya. Dari awalnya, 16 titik menjadi 17-18 titik saat ini.
Menurutnya, meski sudah memasuki musim penghujan, kekeringan tetap melanda di wilayah Ponorogo. Tim BPBD pun setiap hari mengirim air ke 16 desa yang tersebar dalam 9 kecamatan.
“Kecamatan Slahung, Balong, Badegan, Sawoo, Mlarak, Jambon, Jenangan, Pulung dan Sampung,” ujarnya.
Guna mengantisipasi keterlambatan pengiriman air, BPBD Ponorogo menambah armada truk tangki air. Awalnya armada hanya ada tiga, kemudian ditambah dua armada lagi.
“Kami juga menggandeng pihak swasta ada penambahan dua armada lagi, totalnya ada tujuh armada,” cakapnya.
Budi, sapaannya, menerangkan armada yang sebelumnya terbatas dan pengiriman sampai malam hari. Kini dengan tujuh armada pengiriman bisa dilakukan pada pagi hari.
“Diperkirakan pengiriman air dilakukan hingga akhir Oktober sesuai dengan perkiraan cuaca dari BMKG,” tandasnya.
Namun tidak menutup kemungkinan, lanjut Budi, melihat kondisi di lapangan. Jika tetap dibutuhkan maka droping air akan tetap dilanjutkan.
“Jangan sampai warga sudah susah menjadi susah lagi karena kekurangan air, maka kami selalu siap untuk pengiriman air,” pungkasnya.
