Kalangan Gelar Merti Dusun
YOGYAKARTA – Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, berharap setiap masyarakat desa dapat melestarikan budaya tradisi merti dusun dengan berbagai macam keseniannya, termasuk wayang kulit. Selain agar tidak hilang dan diklaim negara lain, budaya luhur seperti wayang kulit juga menyimpan berbagai pesan dan ajaran moral bagi masyarakat.
“Secara pribadi maupun mewakili pemerintah, saya menyambut baik acara ini. Karena acara merti dusun dan pagelaran wayang kulit ini merupakan kebudayaan luhur yang kita miliki. Acara semacam ini juga sangat positif, karena dapat membangun karakter masyarakat khusus generasi muda,” katanya, saat menghadiri acara Merti Dusun Kalangan, Trimulyo, Sleman, Sabtu (21/10/2017) malam.

Acara merti dusun Kalangan digelar sebagai wujud syukur masyarakat atas segala berkah kehidupan yang diberikan Tuhan YME. Merti dusun Kalangan digelar dengan melakukan serangkaian acara mulai dari bersih desa, kenduri, hingga pagelaran kesenian tradisi wayang kulit semalam suntuk dengan lakon ‘Tumuruning Wahyu Cakra Ningrat’ oleh dalang Ki Sudiyono Cermo Kondo.
“Merti dusun Kalangan ini sudah memasuki tahun ke-5. Digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas segala limpahan berkah dan keselamatan dari Tuhan YME. Sekaligus juga untuk memohon dijauhkan dari segala marabahaya dari 4 unsur alam, baik tanah, air, angin maupun api. Seperti gempa bumi, banjir, angin puting beliung, hingga kekeringan,” ujar Dukuh Kalangan, Sugaib Joyo Sudiro.
Sementara itu, Dalang Ki Sudiono Cermo Kondo (59) mengatakan, lakon wayang Tumuruning Wahyu Cakra Ningrat dipilih karena memiliki pesan serta harapan agar masyarakat desa mendapat wahyu berupa berkah kemakmuran dari Tuhan YME. Lakon ini menceritakan kisah perjalanan Raden Abimanyu yang merupakan putra Arjuna, dalam mendapatkan wahyu hingga menjadi raja Astina.
Untuk mendapatkan wahyu tersebut, katanya, Abimanyu harus menjalani laku bertapa, dengan berbagai godaan dan rintangan, baik dari manusia, hingga jin-setan yang mengganggunya. Berkat keteguhan hatinya, Abimanyu akhirnya berhasil mendapatkan wahyu hingga akhirnya menjadi raja Astina menggantikan ayahnya, Arjuna.
“Pesan yang dapat dipetik dari kisah ini adalah, bahwa jika kita ingin mencapai sesuatu harus berani berkorban, berani susah dan berusaha sekuat tenaga. Selain itu juga selalu bertaqwa pada Tuhan YME, banyak menolong dan berguna bagi orang lain, sebagaimana sifat dari Abimanyu,” katanya.