Kabut Beracun Gelapkan New Delhi Setelah Diwali

NEW DELHI – Pencemaran udara di New Delhi mencapai 18 kali ambang batas sehat pada Jumat (20/10/2017). Udara mengalami pencemaran berupa kabut tebal yang diyakini mengandung racun setelah malam kembang api pada perayaan Hindu, Diwali.

Warga di Ibu Kota India tersebut mengeluhkan mata berair dan batuk parah akibat tingkat pencemaran yang mencapai 2,5 PM. Yang menyebabkan kejadian debu masuk ke paru-paru dilaporkan naik dengan sangat mengkhawatirkan.

Mutu udara lazim memburuk di New Delhi menjelang pesta lampu Diwali. Dan karena kondisi tersebut Mahkamah Agung melarang sementara penjualan petasan, yang bertujuan mengurangi ancaman terhadap kesehatan. Tapi, banyak dari penduduk masih menyalakan petasan di ibu kota itu hingga larut malam, baik menggunakan simpanan lama atau membelinya dari negara tetangga.

Beberapa penggiat lingkungan mengatakan bahwa perintah pengadilan kurang ditegakkan dan petasan masih terjual untuk merayakan salah satu pesta terbesar di India utara itu.

“Menghirup nitrat dan amonia, buatan tempat kita, buatan tangan!” kata salah satu penggiat lingkungan Vimlendu Jha.

Jha mendesak pemerintah kota mengumumkan keadaan darurat umum karena pencemaran yang terjadi. Bahkan indeks baku mutu udara disebutnya sudah melewati batas berbahaya.

skala pengukuran kedutaan Amerika Serikat di New Delhi menyebut, indeks mutu udara telah melewati batas berbahaya di level 300 pada Jumat. Kondisi tersebut berada di tingkat paling parah dengan level penilaian pembacaan kondisi baik berada di angka 50.

Di beberapa bagian wilayah Delhi seperti Mandir Marg menunjukkan pembacaan kualitas udara pada tingkat 941, mendekati tingkat maksimum 999, yang tidak dapat dibaca lagi jika melewati angka tersebut. Indeks mengukur konsentrasi PM 2.5, PM 10, ozon, nitrogen dioksida dan sulfur dioksida di antara indikator lainnya.

Tingkat bahaya tersebut merupakan peringatan di mana setiap orang mungkin mengalami efek buruk dan disarankan untuk tinggal di dalam rumah. Terlepas dari larangan petasan, Mahkamah Agung juga memerintahkan generator diesel dan pembangkit listrik untuk dimatikan guna mengurangi polusi.

Otoritas Pencemaran Lingkungan (Pencegahan dan Pengendalian) juga memerintahkan beberapa dapur batu bata untuk menutup dan menghentikan pembakaran sampah.

Ilmuwan di Badan Pengendalian Polusi Pusat, Dipankar Saha mengatakan, bahwa cuaca masih juga ikut berperan dalam kabut beracun yang menggantung di atas kota. Namun tingkat pencemaran kini lebih baik daripada Diwali tahun lalu. (Ant)

Lihat juga...