JAKARTA – Indonesia membawa pulang dua gelar dari turnamen Prancis Terbuka 2017. Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengawali dengan membawa pulang gelar setelah berhasil menumbangkan unggulan pertama Zheng Siwei/Chen Qingchen dari China.
Tontowi/Liliyana menang dua gim langsung 22-20, 21-15 untuk menjuarai turnamen berlabel Super Series tersebut. Pertandingan yang berlangsung di Stade Pierre de Coubertin, Paris, tersebut berlangsung selama 45 menit.
Tontowi/Liliyana mengaku kunci kemenangan mereka di Prancis Terbuka 2017 adalah dengan bermain tenang dan menikmati permainan yang tidak dibebani hasil menang atau kalah.
“Kami coba yang terbaik saja dulu, terlebih kami tahu permainan mereka juga seperti apa dan keinginan mereka membalas kekalahan di Kejuaraan Dunia 2017 lalu. Karenanya kami tidak ingin memberi kesempatan mereka mengembangkan permainan,” kata Tontowi usai pertandingan.
Sementara Liliyana menilai dia dan pasangannya memiliki modal bagus kala menghadapi duet campuran andalan China ini dengan kemenangan di dua pertemuan terakhir. “Itu menjadi modal buat kami dan membuat kami percaya diri, selain itu penampilan tenang dan komunikasi yang terjaga juga menjadi modal utama dalam partai puncak tersebut,” ujar dia.
Dengan hasil ini, Liliyana sudah memperoleh predikat juara di Prancis Terbuka sebanyak tiga kali di mana dua gelar sebelumnya didapatkan pada 2014 bersama Tontowi dan tahun 2009 bersama Nova Widianto.
Selepas Prancis Terbuka 2017, Tontowi/Liliyana menargetkan untuk bisa bermain baik di Final Super Series, Dubai yang akan digelar Desember 2017 mendatang. Di mana dalam turnamen serupa enam edisi sebelumnya, duet andalan Indonesia ini belum pernah sekalipun menembus semifinal.
“Dengan bekal juara dunia 2017 serta penerapan strategi yang benar serta komunikasi yang terjaga dengan pasangan, saya yakin kami mencapai hasil maksimal, yakni juara, mudah-mudahan kami bisa,” ucap Liliyana menambahkan.
Gelar kedua Indonesia diberikan oleh Greysia Poli/Apriani Rahayu. Pasangan ganda putri Indonesia tersebut, tampil menggila di Prancis Terbuka 2017. Setelah memperoleh semifinal dan partai final perdana Super Seriesnya, mereka juga mendapatkan gelar juara perdana turnamen level tersebut.
Di partai puncak di Stade Pierre de Coubertin, Paris, atas wakil Korea Selatan Lee So Hee/Shin Seung Chan dengan skor 21-17, 21-15.
Greysia/Apriani mengaku kemenangan mereka atas duet Korea Selatan tidak lepas dari persiapan mereka yang sangat baik serta bagaimana mengaplikasikan strategi hasil diskusi dengan pelatih sebelum pertandingan. “Selain itu, moncernya aplikasi kami atas strategi pertandingan adalah mental kami yang sedang baik,” ujar Greysia.
Secara keseluruhan, Greysia yang pernah menjadi duta pemain di Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) itu menilai permainan Dia dan pasangannya cukup memuaskan.
“Terutama Apri, dia bisa kontrol semua, apalagi final bukan pertandingan yang mudah. Tetapi dia stabil, percaya diri dan ini membantu saya di lapangan yang saya sadari tugas pemain hanya kerja keras, sisanya semua Tuhan yang mengatur. Memang kami ingin sekali juara,” tuturnya.
Greysia yang lebih tua sekaligus mentor bagi Apriani, menegaskan gelar Super Series perdana yang mereka dapatkan di Prancis Terbuka 2017, bukanlah yang terakhir, namun sebagai permulaan. “Ini adalah awalnya, karena ke depan masih banyak tugas yang menanti san kami harap tidak lekas terlena akibat kemenangan ini,” ujar Greysia menambahkan.
Adapun Apriani, walau senang memperoleh kemenangan, dia mengaku masih tidak percaya dengan hasil memperoleh gelar ini. “Dari awal memang saya diminta untuk percaya diri, awalnya sempat ragu, tapi saya didampingi senior dan pelatih saya. Saya bingung mau berkata apa lagi, rasanya hal ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ujar Apri. (Ant)