LAMPUNG TIMUR – Keberadaan objek wisata hutan mangrove yang dikembangkan oleh warga melalui Koperasi Konsumen Nelayan Rukun Sido Makmur, di Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, menyerap banyak tenaga kerja setempat.
“Selain menyerap banyak tenaga kerja dari warga desa sekitar, juga banyak muncul pedagang dadakan yang mengais rezeki dari kunjungan wisatawan lokal ke objek wisata hutan mangrove ini,” kata Darmanto, Ketua Koperasi Nelayan Sido Makmur, di Desa Sriminosari, Minggu (8/10/2017).
Menurut Darmanto, objek wisata hutan mangrove Desa Sriminosari ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 34 orang laki-laki dan sembilan tenaga kerja perempuan. “Yang laki-laki dipekerjakan untuk membangun jalur traking wisata mangrove dan gazebo atau tempat peristirahatan, sedangkan pekerja perempuan untuk membantu di kantin koperasi,” ujar dia.
Sedangkan pedagang dadakan yang muncul sebanyak 13 warung. “Warga ada yang berjualan soto, es kelapa muda, dan ada pula yang berjualan mi ayam dan bakso, macam-macamlah jualan mereka di sekitar lokasi wisata ini,” ujar Darmanto.
Darmanto menyatakan, warga di desanya meraup berkah dengan adanya wisata hutan mangrove ini, karena banyak kunjungan wisatawan lokal. Sejak dikembangkan dan dibuka Agustus lalu, objek wisata hutan mangrove ini telah dikunjungi ribuan wisatawan.
Erni, warga yang berjualan di objek wisata itu menyatakan omzet penjualan dari dagangannya antara Rp1 juta hingga Rp2 juta. “Kalau hari Minggu segitu, tapi kalau hari biasa Rp300 ribu sampai dengan Rp700 ribu, sedangkan hari libur besar seperti Idul Adha kemarin bisa dapat lebih besar lagi,” ungkapnya.
Erni mengaku merasakan manfaat adanya objek wisata hutan mangrove tersebut. “Alhamdulillah, ada objek wisata mangrove ini, sehingga kami merasakan berkahnya,” katanya lagi.
Wisata hutan mangrove ini dikembangkan dan dikelola oleh warga Desa Sriminosari secara swadaya yang tergabung dalam Koperasi Konsumen Nelayan Rukun Sidomakmur. Suasana di dalam hutan mangrove yang tenang, sejuk, dan pemandangannya yang asri menjadi nilai jual yang tinggi, sehingga menyedot perhatian setiap orang untuk datang ke objek wisata hutan mangrove ini.
Ditambah jalur rute traking sepanjang 900 meter dari bahan batang bambu di atas tanah berlumpur menembus rimbun hutan mangrove menuju pantai timur pesisir Lampung Timur yang membuat setiap orang tertarik untuk datang ke objek wisata hutan mangrove ini. (Ant)