Hujan Belum Merata, Petani Lamsel Tunda Masa Tanam
LAMPUNG – Hujan yang belum merata di wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) membuat petani di beberapa kecamatan memilih menunda masa tanam meski sudah mempersiapkan lahan untuk dipergunakan sebagai media tanam hortikultura.
Dayat, petani di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan menyebut, telah menyiapkan lahan setengah hektar yang dipergunakan untuk peremajaan tanaman cabai dan tanaman tomat miliknya yang telah dipanen pada masa panen sebelumnya setelah tidak produktif.
Guludan tanah yang telah dibuat oleh Dayat menunggu proses pemasangan mulsa plastik sebelum diberi campuran pupuk organik sebagai media tanam cabai merah dan tomat yang masih memasuki proses penyemaian.
Hujan yang belum merata membuat Dayat masih mengandalkan kebutuhan air untuk lahan pertanian menggunakan proses penyedotan air dari Sungai Way Pisang.

Keberadaan daerah irigasi Way Jejur dengan saluran irigasi yang pada musim kemarau ini debit airnya mulai menurun bahkan sementara waktu tidak bisa dipergunakan sepanjang bulan Oktober akibat curah hujan belum maksimal. Diprediksi curah hujan akan maksimal pada bulan November. Pilihan pada tanaman hortikultura dibandingkan menanam tanaman padi sawah diakui Dayat memperhitungkan ketersediaan air untuk pengairan sehingga dirinya memilih untuk menanam bawang merah, tomat dan cabe merah.
Pada masa tanam bulan Oktober puluhan petani penanam padi seperti Dayat bahkan memilih menanam tanaman hortikultura yang membutuhkan air lebih minim dibandingkan menanam padi serta pasokan air untuk penyiraman yang masih bisa diperoleh dari sungai. Meski petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk bahan bakar.
Kondisi cuaca yang belum stabil tersebut justru dimanfaatkan untuk budidaya tanaman hortikultura yang beragam di antaranya bawang merah sebanyak 10 kilogram yang mampu menghasilkan berkuintal-kuintal bawang merah, tomat sebanyak 1000 bibit dan cabe merah sebanyak 1000 bibit.
“Pola penanaman beragam sengaja saya lakukan karena sudah memiliki langganan tetap di pasar tradisional sehingga kebutuhan masyarakat akan bawang merah, cabai merah dan tomat bisa saya pasok,” terang Dayat.

Petani lainnya, Subakir, yang masih mempertahankan menanam padi pada lahan miliknya mengaku sengaja menunda masa tanam meski lahan miliknya sudah tidak ditanami semenjak bulan Agustus. Curah hujan belum maksimal diakuinya menjadi faktor dirinya belum melakukan pengolahan tanah bahkan membiarkan lahan yang dimilikinya ditumbuhi rumput liar.
“Selain menunggu air lancar dengan curah hujan stabil pada awal November mendatang kami petani yang tergabung dalam kelompok tani Kompak menanam setelah hujan stabil,” beber Subakir.
Pola tanam yang tidak serempak diakuinya justru berdampak negatif dengan mudah diserang hama, pembagian air yang tidak merata serta pola pembelian pupuk yang saat ini harus dikoordinir oleh kelompok sesuai dengan kebutuhan petani. Faktor-faktor tersebut menjadi pemicu dirinya dan petani lain menunda masa tanam disamping musim hujan yang belum merata di wilayah tersebut.
