Hargo Pancuran, Kisah Pancuran Emas di Rajabasa
LAMPUNG — Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, merupakan salah satu desa yang berada di lereng Gunung Rajabasa, menghadap ke sisi Selat Sunda dengan udara yang sejuk dan pemandangan gugusan Kepulauan Krakatau meliputi Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, Pulau Panjang, Pulau Sertung dan Gunung Anak Krakatau.

Terletak sekitar 20 kilometer dari Pelabuhan Bakauheni dengan jarak tempuh sekitar 45 menit menggunakan akses Desa Kelawi dan Desa Totoharjo, dengan kondisi jalan yang sangat bagus berkonstruksi rigid beton dan aspal hotmix, membuat transportasi antar kecamatan tersebut cukup lancar. Meski demikian, tidak banyak masyarakat yang mengetahui potensi wisata alam, wisata sejarah, wisata agro dan wisata vulkanologi di lokasi tersebut, bahkan desa tersebut hanya menjadi perlintasan wisatawan yang akan menuju sejumlah destinasi wisata di wilayah pesisir Kecamatan Rajabasa.
“Banyak wisatawan yang datang ke Desa Hargopancuran merupakan wisatawan minat khusus, di antaranya rombongan mahasiswa jurusan sejarah serta geologi berhubungan dengan Gunung Krakatau atau mahasiswa pertanian yang ingin melihat perkebunan di wilayah kami”, terang Wardal, tokoh masyarakat yang dituakan di Desa Hargo Pancuran, saat ditemui Cendana News belum lama ini di areal situs sejarah Desa Hargo Pancuran.
Wardal yang kini berusia 53 tahun, menyebut sejak dirinya kecil dan tinggal di desa tersebut generasi sebelumnya, sang ayah, Ahmad Karjo (alm), dan sang kakek merupakan sesepuh dan kepala desa di desa tersebut termasuk dirinya yang pernah menjabat sebagai kepala desa pada era 1995-2000.
Hak tanah bengkok seluas 6 hektare pada masa kejayaan tanaman kakao dan cengkeh diakuinya tidak lepas dari sejarah kehadiran Belanda di wilayah tersebut, termasuk jejak-jejak yang ditinggalkan hingga saat ini.
Sesuai namanya, Hargo Pancuran, Wardal menyebut sejarah desa tak bisa dilepaskan dengan keberadaan pancuran mas yang menjadi legenda, di mana dikisahkan kawasan tersebut merupakan lokasi yang pernah ditinggali oleh masyarakat sejak berabad-abad silam.
Pada zaman dulu, dikisahkan ada sepasang suami-istri muda yang baru menikah dan tinggal di wilayah tersebut. Namun, dari awal menikah sang istri diwanti-wanti untuk tidak mandi di pancuran tempat suaminya biasa mandi. Rasa penasaran sang istri membuat dirinya memberanikan diri untuk mandi di pancuran tersebut.
Sang istri kaget saat diam-diam ke pancuran melihat air, batu dan benda-benda di dekat pancuran berkilauan seperti emas dan setelah mandi dan hendak pulang dirinya berpegangan pada sebuah batu, dan karena tidak kuat batu tersebut patah.
Patahan batu tersebut membuat terkejut sang istri, karena berwarna kuning keemasan, lalu dibawanya pulang dan diberitahukan kepada suami serta warga dan batu tersebut merupakan emas.
Warga yang mengetahui batu tersebut merupakan emas, akhirnya berbondong-bondong mendatangi pancuran tempat dua buah batu emas berukuran besar berada, meski mengalami kesulitan mengambil dengan berbagai peralatan, sehingga tak ada satupun yang berhasil.
Dalam satu petunjuk saat warga bermimpi, disebutkan batu emas bisa diambil dengan syarat mengorbankan satu bayi yang baru lahir untuk dibakar dan emas tersebut bisa digunakan untuk kemakmuran warga.
Warga selanjutnya sepakat memenuhi permintaan tersebut dengan siasat membuat miniatur bayi dari tepung dan mempersembahkannya dengan cara dibakar di dekat batu tersebut. Seusai ritual pengorbanan, satu batu bisa diambil meski sulit dipindahkan dan sebagian hanya bisa dibawa pulang dalam ukuran kecil.
Semalam sesudahnya, warga kembali ke lokasi tersebut dan mendapati dua batu besar yang terbuat dari emas sudah tidak ada di lokasi semula dan hanya tersisa beberapa batu biasa. “Konon, yang empunya emas kecewa karena warga berbohong, sehingga dua batu emas besar tersebut menggelinding dan pindah ke kawasan yang dikenal sebagai Tanjung Tua, sehingga banyak disebut wilayah tersebut banyak memiliki harta karun”, terang Wardal.
Terlepas benar tidaknya legenda atau kisah tersebut, Wardal menyebut Desa Hargo Pancuran yang dikenal sebagai wilayah kolonisasi di zaman Belanda bersama daerah lain di wilayah Lampung tersebut, diberi nama persis dengan tempat yang kini dijadikan sebagai kantor desa, PAUD, taman serta bangunan pemantauan Gunung Anak Krakatau.
Ia menyebut, dari legenda tersebut sarat makna, agar manusia tidak serakah dan bekerja keras dalam mencari penghasilan, hingga akhirnya warga rajin menjadi pekebun dan petani dengan dikaruniai alam yang subur dan sumber air berlimpah.
Sumber air berlimpah di dekat Gunung Rajabasa tersebut bahkan diakuinya membuat Belanda yang masih menjajah Indonesia hendak membuat saluran irigasi di wilayah Desa Hargo Pancuran, tempat pengamatan kapal kapal, pesanggrahan di lokasi yang sejuk dan sekaligus tempat pertahanan.
Jejak-jejak peninggalan Belanda meski tidak berangka tahun, bisa dilihat dari bekas-bekas pondasi batu rencana saluran irigasi, salah satunya bersumber dari pancuran emas, bekas pesanggrahan, pemandian, tungku yang kini dikenal dengan tungku Belanda serta lokasi pengamatan kapal-kapal yang kini dimanfaatkan sebagai Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Anak Krakatau milik Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), yang saat ini dijaga oleh Andi Suardi, sebagai petugas pos pantau tersebut.
“Saya pernah melihat buku-buku tentang Belanda pada masa itu, saat zaman kakek saya masih menjabat kepala desa termasuk peta kolonisasi di wilayah Lampung, tapi buku tersebut entah di mana”, beber Wardal.
Meski demikian, ia menyebut peninggalan Belanda masih kental terasa dalam sistem perkebunan yang kala itu terkenal dengan rempah-rempah berupa lada, pala, cengkih yang kini masih dibudidayakan masyarakat. Banyaknya perkebunan cengkih yang rata-rata dimiliki setiap warga bahkan menjadi sebuah keunikan tersendiri bagi wisatawan yang belum pernah sama sekali mengetahui cara memetik cengkih dengan tangga sembari membawa keranjang.
“Bulan Oktober menjadi masa panen pertama hingga November, namun kopi justru mulai berbunga sehingga saat ini sangat tepat datang ke Desa Hargo Pancuran yang sejuk sembari mengamati Gunung Anak Krakatau,” terang Wardal.
Saat Cendana News mendatangi pos pengamatan Gunung Anak Krakatau petugas sedang pergi ke Kalianda, meski sebelumnya pernah masuk ke dalam pos yang memiliki fasilitas pengamatan Gunung Anak Krakatau berupa teropong, seismograf termasuk foto-foto sejarah letusan Gunung Anak Krakatau sejak 1883 hingga terakhir di 2012. Cuaca berkabut dan berawan membuat Gunung Anak Krakatau yang bisa diamati dengan mata telanjang sama sekali tidak terlihat.
Sebagai situs sejarah, kini Pemerintah Desa Hargo Pancuran masih mempertahankan beberapa peninggalan Belanda sebagai bukti desa tersebut pernah ditinggali Belanda, termasuk pancuran emas yang letaknya di lereng bukit di bawah kompleks kantor pemerintah desa yang sulit diakses saat kondisi hujan.
Peninggalan pemandian dan tungku Belanda yang masih tersisa dan tepat berada di dekat kantor desa, bahkan dipagar permanen menggunakan besi dan direncanakan akan diberi plang khusus untuk penanda sejarah wilayah tersebut.
Lokasi tersebut juga sedang dalam tahap pengembangan menjadi taman sekaligus dibangun semacam aula menyerupai pesanggrahan untuk melihat pemandangan ke arah laut yang diperkirakan seperti pada kondisi di tahun 1931 saat beberapa bangunan tersebut utuh.
“Pembenahan kawasan ini yang dipercantik bahkan hampir menyerupai keadaan zaman dahulu dengan bangunan pemerintahan yang sebelumnya tidak terawat bahkan dilupakan”, beber Wardal.
Anton, warga Palembang yang melihat situs tungku Belanda dan pemandian, pos pantau Gunung Krakatau serta jejak-jejak Belanda di wilayah Desa Hargo Pancuran, menyebut mengagumi pemilihan lokasi yang strategis oleh Belanda dan sistem irigasi yang pas untuk pertanian dan perkebunan.
Meski proyek tersebut gagal akibat kemerdekaan Indonesia pada 1945, namun sisa-sisa bangunan Belanda masih tetap menjadi aset bagi pihak desa. “Jajaran pohon cengkih yang berbuah menyambut pengunjung sekaligus bisa ikut merasakan bagaimana memanen cengkih,” ungkap Anton.
Ia berharap, pemerintah desa bisa membenahi infratsruktur di desa tersebut sehingga bisa menjadi lokasi objek wisata sejarah, wisata agro dan wisata pendidikan, wisata alam sebagai alternatif tempat wisata yang ada di Lampung Selatan, terutama wisata pegunungan yang sejuk sembari bisa melihat laut lepas Selat Sunda.