Harga Gabah dan Beras Petani Lamsel Naik

LAMPUNG – Serangan hama dan faktor cuaca yang terjadi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) di antaranya Kecamatan Ketapang, Sragi, dan Palas ikut menurunkan nilai produksi padi yang ditanam petani di wilayah tersebut.

Meski sebagian petani mengalami penurunan hasil yang sangat signifikan hingga 20 persen dari masa panen sebelumnya namun harga komoditas padi mulai membaik pada masa panen bulan Oktober ini.

Sarimin, warga Dusun Gunung Botol Desa Penengahan menyebut dari total setengah hektar lahan sawah yang ditanam dengan padi varietas IR 64 mengalami penurunan hasil yang sangat drastis dibanding saat panen sebelumnya berdasarkan jumlah karung padi yang diperolehnya.

Sarimin mengungkapkan, pada panen sebelumnya ia mencatat hasil panen padi IR 64 yang ditanamnya memperoleh hasil sebanyak 20 karung sementara pada masa panen kali ini mendapatkan hasil sebanyak 8 karung setelah dipisahkan dari jerami dengan sistem gepyok padi tradisional. Sistem gepyok masih dilakukan oleh petani akibat hasil yang lebih sedikit. Bahkan sebagian besar tanaman padi miliknya tidak berisi akibat diserang hama tikus yang menggasak padi miliknya.

Berbeda dengan Sarimin, warga pemilik lahan pertanian sawah di Desa Ruang Tengah Kecamatan Penengahan, Subandi menyebut, hasil tanaman padi pada masa panen semester kedua tahun ini justru lebih bagus akibat berkurangnya hama jenis burung dibanding masa tanam sebelumnya. Masa tanam serempak di wilayah tersebut menjadi dampak positif berkurangnya serangan hama sehingga hasil dan kualitas padi miliknya lebih baik sebab didukung harga gabah yang semakin membaik.

“Saya menjual sebagian hasil panen untuk menutup biaya operasional modal benih. Termasuk pembelian pupuk dan obat-obatan. Sebagian dipergunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari hingga masa tanam berikutnya,” terang Subandi warga Desa Pasuruan yang memiliki lahan di Desa Ruang Tengah Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Selasa (10/10/2017).

Pada masa panen bulan Oktober ini Subandi menyebut, memperoleh hasil padi dengan luasan lahan setengah hektar dengan jumlah sekitar 20 karung. Rata-rata per karung seberat 100 kilogram dengan jumlah 10 karung miliknya dijual ke penampung gabah. Harga gabah di tingkat petani selesai dipanen atau gabah kering panen (GKP) pada musim sebelumnya dibeli dengan harga Rp3.900 hingga Rp4.500 atau sekitar Rp450 ribu per kuintal gabah. Namun saat ini diakui Subandi petani bisa bernafas lega karena harga sudah mulai merangkak naik.

GKP dengan kadar air yang masih cukup banyak dan harus melalui proses penjemuran tersebut diakui Subandi saat ini dibeli pedagang gabah seharga Rp4.800. Sebagian pedagang gabah bahkan berani membeli dengan harga Rp4.900 hingga Rp5.000 per kilogram. Hasil panen sebanyak 10 karung dengan berat per karung 100 kilogram oleh pedagang lain bersedia membayar gabah milik Subandi dengan harga Rp5.000 per kilogram atau Rp500 ribu per kuintal dengan total diperoleh sebesar Rp5 juta.

“Kalau saat ini pedagang atau tengkulak gabah memang harus rebutan mencari gabah berkualitas akibat sebagian petani lain hasilnya kurang bagus,” cetus Subandi.

Subandi mengaku, persaingan harga di antara para “bos” gabah tersebut merupakan faktor dari melonjaknya harga beras di tingkat penggilingan untuk kualitas sedang hingga premium. Meningkat dari semula Rp8.900 per kilogram kini menjadi Rp9.300 per kilogram sehingga di pasaran dijual di atas Rp10 ribu per kilogram yang memicu kenaikan harga dasar gabah di tingkat petani. Meski banyak pembeli gabah, namun tak sedikit petani menjual gabah kepada bos gabah yang sudah memberikan modal awal dalam bentuk bibit, obat-obatan, dan pupuk.

Meski panen raya tengah terjadi di beberapa tempat, diakui Subandi, tidak berpengaruh pada penurunan harga akibat cuaca kemarau dan serangan hama tikus pada beberapa wilayah sentra tanaman padi. Sebagian memang mengalami penurunan kualitas berupa bulir tidak berisi dan sebagian pecah saat digiling. Beberapa pebisnis jual beli gabah sebagian membeli gabah berkualitas asal Lampung dan menjual gabah tersebut ke penggilingan di Tangerang dan Banten untuk dijual dalam bentuk beras.

“Bagi petani harga gabah dan beras yang baik atau tinggi pasti akan menguntungkan karena selama ini petani sudah terbiasa dengan harga gabah yang rendah. Sementara biaya operasional petani cukup tinggi dari pengolahan lahan, pupuk, obat hingga pasca panen,” beber Subandi.

Petani lain, Ihsan menyebut, meski harga gabah cukup menggiurkan di kisaran Rp4.800 hingga Rp5.000 per kilogram namun ia memastikan tidak akan menjual hasil panen dalam bentuk gabah. Namun menjualnya dalam bentuk beras giling. Selain lebih menguntungkan ia menyebut menyimpan gabah di gudang atau lumbung miliknya sebagai persiapan untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan mendesak.

“Lebih baik menyimpan dalam bentuk gabah kering di gudang dan menjual beras setelah proses penggilingan karena kalau mengandalkan beras Rastra kualitasnya kurang bagus,” terang Ihsan.

Hasil pertanian padi yang bagus dan harga beras serta gabah yang berpihak ke petani diakui Ihsan menjadi hal positif pada masa akhir panen tahun ini. Berkat ketersediaan saluran irigasi dari Daerah Irigasi (DI) yang dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum UPT Kecamatan Penengahan. Pola tanam serentak serta pasokan air sepanjang musim hingga kemarau masih menerima pasokan air stabil membuat hasil panen petani Penengahan lebih baik dibandingkan petani di wilayah lain.

Gabah kering. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...