KARANGASEM – Enam sarana early warning system (EWS) erupsi Gunung Agung berfungsi optimal. Hal tersebut berdasarkan hasil pengecekan terakhir secara fisik oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra mengklaim enam sirine yang dipasang di sejumlah titik untuk peringatan bahaya erupsi Gunung Agung sudah mendapatkan pengecekan fisik.
“Sebelum dipasang, sirene ini sudah kami uji coba di Pantai Padang Galak beberapa waktu lalu dengan volume rendah,” ujar Dewa Indra saat ditemui di Pos Pemantauan Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Senin (16/10/2017).
Enam sirine peringatan bahaya Gunung Agung terpasang di enam lokasi yang mewakili kecamatan. Lokasi yang dipilih adalah dengan populasi penduduk yang berada di zona kuning atau berjarak di atas 12 kilometer dari puncak Gunung Agung.
Dewa Indra mengatakan, di masing-masing sirine yang dipasang ini dijaga oleh petugas. Penjaga berjaga selama 24 jam untuk bertugas menghidupkan secara manual alat. Sesuai operasional prosedur, untuk membunyikan sirine tanda bahaya harus mengikuti instruksi dari petugas PVMBG yang berada di Pos Pemantauan Gunung Agung.
“Petugas yang bersiaga di tempat pemasangan sirine ini akan dikontak petugas di Posko Pantau Gunung Agung dengan menggunakan HT, untuk segera menghidupkan sirine ini apabila ada pertanda erupsi,” ujarnya.
Untuk memperkuat sinyal radio HT petugas yang berjaga di kawasan sirene ini, BPBD Bali sudah memasang repiter (antena) baru untuk memperkuat jaringan ini. Untuk daerah yang frekuensinya tidak terdapat sinyal HT akibat tertutup Gunung Agung, kata Dewa, maka sudah dipastikan telah dipasangkan repiter ini.
“Saya tegaskan lagi untuk sirine peringatan gunung merapi berbeda dengan sirine peringatan bahaya tsunami. Setelah dipasang sirine ini, kami telah mencoba kondisi radio dan sinyalnya untuk dilokasi pemasangan sirine ini,” pungkasnya. (Ant)