Distribusi Gas Tersendat, Warga Bakauheni Beralih Non Subdisi
LAMPUNG – Distribusi gas elpiji ukuran 3 kilogram sempat tersendat di wilayah Bakauheni dan sekitarnya akibat pangkalan tidak melakukan aktivitas berjualan. Berimbas pedagang pengecer tidak mendapat pasokan untuk dijual kepada konsumen rumah tangga.
Hasan, pedagang pengecer tabung gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram mengaku, masih kesulitan mendapatkan gas dampak dari belum beroperasinya pangkalan yang biasa dikirim oleh salah rekanan yang bekerjasama dengan pihak Pertamina selaku distributor resmi tabung gas elpiji.
Hasan yang membawa sebanyak 16 tabung gas elpiji bersubdisi 3 kilogram untuk dijual kembali mengaku kehabisan stok akibat penjual gas masih belum menjalankan aktivitas berjualan seperti biasanya. Pasca pemilik bernama Firman meninggal sehingga aktivitas jual beli gas dihentikan. Sepekan terakhir Hasan bahkan harus mengambil stok gas elpiji dari pangkalan lain di Kecamatan Penengahan akibat tidak ada stok gas di pangkalan.

Hasan menyebut sebetulnya tidak terjadi kelangkaan gas hanya saja pasca keluarga pemilik pangkalan sedang berduka karena pemilik meninggal dunia, maka aktivitas jual beli gas belum kembali dilakukan. Sementara pangkalan resmi lainnya sebagian sudah habis. Kebutuhan akan tabung gas elpiji 3 kilogram dengan harga di pangkalan Rp19.000 dan dijual sekitar Rp21.000 hingga Rp22.000 yang cukup banyak, membuat stok cepat habis. Sementara distribusi juga tersendat.
Hasan yang menyediakan tabung gas non subsidi ukuran 5,5 kilogram juga menyebut sebagian masyarakat sudah mulai beralih ke tabung gas elpiji yang dikenal dengan Bright Gas tersebut. Meski harganya mencapai Rp69.000 per tabung bahkan hingga Rp71.000 per tabung. Belum adanya pasokan selama hampir sepekan berimbas pemilik usaha juga mulai beralih menggunakan tabung gas non subsidi berwarna pink tersebut.
Sastri, pedagang soto ayam dan gorengan di Jalan Lintas Timur Lampung Selatan bahkan semenjak sepekan terakhir mempergunakan tabung gas elpiji ukuran 5,5 kilogram non subsidi akibat saat akan membeli tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram atau gas melon tidak ada barang.
“Memasak dengan kompor gas, saya menggunakan tabung elpiji non subsidi sebetulnya bukan karena merasa mampu. Tapi hanya sementara kalau harus menunggu saya tidak bisa jualan,” terang Sastri.
Sastri yang menekuni usaha berjualan makanan tradisional tersebut mengaku, masih berhak menggunakan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram. Namun karena harganya melejit menjadi Rp25 ribu per tabung dirinya justru memilih tabung gas elpiji ukuran 5,5 kilogram yang lebih tahan lama. Ia berharap pangkalan yang biasa menjual gas elpiji berbagai ukuran tersebut kembali bisa beroperasi dengan normal.
Pantauan Cendana News sejumlah pedagang pengecer yang hendak membeli tabung gas ukuran 3 kilogram sebagian merupakan pengecer di wilayah pesisir pantai dan sebagian merupakan pemilik bagan congkel untuk kebutuhan melaut. Keluarga pemilik pangkalan yang enggan diwawancarai Cendana News menyebut tidak mengetahui persis kuota dan jumlah tabung gas yang biasa dijual. Meski sejumlah pengecer mengantri dan tidak memperoleh jatah tabung gas untuk dijual, sebab kendaraan pertamina yang datang mengambil tabung gas kosong dan mengisi tabung milik pangkalan lain.
