Menjaga Arus Kas, Cara Pelaku Usaha Bertahan di Masa Sulit

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Pandemi Covid-19 menyebabkan perekonomian menjadi sulit, dan berimbas pada sulitnya pelaku usaha kecil mencapai target profit. Berbagai cara pun dilakukan, agar usaha tetap bisa berjalan.

Dedek Saputra, pengelola warung makan Ibu Rohmah di kawasan jalan Lintas Sumatra, Desa Rangai Tritunggal, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, menyebut menjaga arus kas menjadi salah satu cara menjaga kelangsungan usaha. Ia menekan biaya produksi pada pembelian bahan baku kuliner dan gaji karyawan.

Dedek Saputra menjelaskan, biaya produksi bahan baku ditekan dengan membeli ikan dalam jumlah terbatas. Karyawan sementara dikurangi dan diganti anggota keluarga. Ia juga membuat bahan bakar arang dengan membakar kayu sendiri.

“Karena arus kas yang sedang tidak lancar, pelaku usaha kuliner harus berpikir keras agar barang jualan tetap laku, salah satunya dengan membeli ikan air tawar segar yang masih hidup, sehingga saat ada pesanan baru diolah untuk menjaga kesegaran, sebagian disimpan di lemari pendingin,” terang Dedek Saputra, saat ditemui Cendana News, Selasa (3/8/2021).

Dedek Saputra, melayani pelanggan di warung makan ibu Rohma di kawasan jalan Lintas Sumatra, Desa Rangai Tritunggal, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, Selasa (3/8/2021). -Foto: Henk Widi

Menurut Dedek Saputra, pedagang kuliner di sepanjang Jalan Lintas Sumatra lainnya juga terdampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Dampaknya, sejumlah pelanggan memilih memesan ikan bakar untuk dibawa pulang tanpa makan di tempat. Bagi pelaku usaha kuliner, dampaknya pelanggan tidak memesan minuman tambahan yang disediakan.

Dedek menyebut, tetap buka meski jumlah pelanggan berkurang. Normalnya, warung makan yang dikelola kerap dikunjungi karena dekat destinasi wisata Pasir Putih, pantai Sebalang.

Lokasi strategis di dekat sejumlah perusahaan, tempat usaha menjadi harapan untuk tetap memutar modal. Normalnya, ia bisa menyediakan ikan bekerek, mas, nila, gurame, layang seluruhnya hingga 50 kilogram per hari.

“Sejak pandemi, ubah strategi mengurangi stok ikan agar tetap segar, yang penting arus kas tetap berjalan memutar modal,” ulasnya.

Adaptasi dalam usaha kuliner, sebutnya, telah dilakukan dengan mengikuti aturan. Salah satu caranya dengan menerapkan protokol kesehatan. Sejumlah pelanggan tetap ingin makan di tempat diberi ruang untuk duduk yang lebih luas.

Sebelum masuk ke warung, ia juga memastikan telah menyediakan tempat cuci tangan. Beberapa pelanggan tetap dilayani dengan delivery order dan take away.

Wardiman, salah satu pelanggan, mengaku memilih memesan ikan bakar untuk dibawa pulang. Kondisi pandemi membuat ia menghindari makan di tempat, meski telah divaksin.

Ia juga menyebut, wilayah Lamsel yang tidak masuk PPKM level 4 masih memungkinkannya makan di tempat, namun ia membeli ikan bakar secara take away.

“Bisa dinikmati bersama keluarga di rumah, sehingga tetap bisa berbagi kebahagiaan di rumah,” ulasnya.

Menjaga arus kas untuk memutar modal sekaligus beradaptasi, juga dilakukan Dewi. Menjalankan usaha kuliner pempek dan olahan berbahan ikan, ia mengaku lebih bisa mengatur arus kas.

Sejumlah kuliner berupa pempek, model, tekwan bisa disimpan dalam waktu lama di lemari pendingin. Pengaturan jumlah bahan baku selama sepekan hingga terjual, menjadi strategi di sektor biaya produksi.

“Pengolahan bahan baku bisa dilakukan dua hari sekali, lalu sebagian kuliner bisa dijual secara online berdasarkan pesanan melalui media sosial,” bebernya.

Adaptasi dengan tetap menerima pelanggan makan di tempat, sebutnya, dilakukan dengan mengatur tempat duduk.

Ia juga mengaku bersyukur, karena Bakauheni tidak masuk PPKM level 4. Berjualan di lokasi strategis dekat dengan pelabuhan Bakauheni, membuatnya tetap bisa mendapatkan pelanggan. Ia juga menjangkau pelanggan dengan sistem online agar modal tetap berputar.

Lihat juga...